Hutan Indonesia Hilang 1,4 Juta Hektare per Tahun

OGAN ILIR, SIMBURNEWS – Secara umum, kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menjadi bencana tahunan di sebagian wilayah Indonesia termasuk Sumatera Selatan (Sumsel), 90 persen diantaranya adalah akibat ulah manusia. Hal tersebut berdasarkan pemaparan Asisten Operasi (Asops) Kapolri, Irjen Pol M Iriawan usai apel supervisi dan asistensi penanggulangan karhutla, di desa Rambutan, Indralaya Utara, Ogan Ilir (OI), Selasa (15/8).

Dalam paparan mantan Kapolda DKI Jakarta tersebut, terungkap dari data yang ada, bahwa di tahun 2015 ada sekitar 124 juta hektare hutan yang terbakar dan 90 persen diantaranya  akibat ulah manusia. “Indonesia adalah nomor dua di dunia yang kehilangan hutannya paling luas, dimana setiap tahun hutan menyusut sebanyak 1,1 juta hektare,” ungkapnya.

Setelah mengunjungi dan melakukan supervisi langsung, dirinya sangat mengapresiasi terhadap usaha yang dilakukan seluruh stakeholder di Sumsel untuk penanggulangan karhutla. “Menurut data yang diberikan kepada saya, penurunan titik api di tahun 2017 mencapai sekitar 80 persen jika dibandingkan dengan tahun 2016. Hal itu terjadi karena penanganan yang maksimal dari seluruh stakeholder terkait. Kemudian, masyarakat juga sudah sadar bahwa banyak kerugian yang diderita, dan juga penanganan dan terobosan kreatif yang dilakukan,” ujarnya.

Mengenai sekat kanal yang digagas oleh Polda Sumsel, Iriawan menilai cukup berhasil dan efektif dalam mengurangi efek dari karhutla. Semua inovasi yang ada akan dijadikan role model. Untuk itulah dirinya datang ke lokasi sekalian untuk mengecek apa saja yang menjadi kebutuhan petugas untuk memadamkan api. “Kanal tersebut berfungsi untuk menjaga kelembapan tanah, menjaga embung dan membuat persedian air pada saat musim kemarau. Sekat Kanal di OI sudah dibuat di enam kecamatan,” pungkasnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Satgas Karhutla Sumsel yang telah maksimal memadamkan api, dimana tahun-tahun kemarin Riau dan Sumsel adalah kebakaran terbesar, namun sekarang menjadi kecil sekali. Sehingga Indonesia tidak lagi dipermalukan oleh negara lain yang mengatakan jika Indonesia selalu mengirim asap,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap agar di bulan Oktober sudah mulai turun hujan sesuai dengan perkiraan BMKB. Karena menurutnya, kuasa Tuhanlah yang paling maksimal untuk memadamkan api selain dari usaha yang masksimal dari Satgas Karhutla.

Untuk diketahui, titik api di Sumsel sampai dengan bulan Juli 2017 sebanyak 301 titik, sementara untuk OI per tanggal 14 Agustus 2017, titik api sebanyak 60 titik.

Sementara, menurut data BMKG, kondisi cuaca sampai di bulan Agustus 2017, Sumsel masih dalam kondisi normal. Namun ada beberapa wilayah yang mengalami hari tanpa hujan lebih atau sama dengan 20 hari dan diantaranya kabupaten OI. BMKG juga sudah memperkirakan bahwa awal musim hujan akan jatuh di akhir bulan September atau awal Oktober 2017.

Perbandingan karhutla di OI pada tahun 2016 kebakaran hanya terjadi di lahan sebesar 44 hektar dengan jumlah titik api sebanyak 23 titik. Tahun 2017, baru sampai di bulan Agustus karhutla sudah menghabiskan 545 hektar dengan jumlah titik api sebanyak 60 titik. Namun, jika angka tersebut dibandingkan dengan tahun 2015, apa yang terjadi saat ini belum separuhnya. Dimana, di tahun 2015, lahan yang terbakar mencapai 12.328 hektar.
Untuk penanganan karhutla melalui metode water bombing, per tanggal 12 Agustus, BNPB Provinsi sudah melakukan water bombing sebanyak 2.065 kali dan menghabiskan 6.685.500 ton air.

Selain itu, kendala-kendala yang dihadapi satgas karhutla dalam penanganan titik api diantaranya, lokasi kebakaran sulit dijangkau, luas lahan yang terbakar dihadapkan dengan alkap yang ada, sulit atau terbatasnya sumber air di lapangan, cuaca yang panas dan tiupan angin yang kencang, adanya kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, kurangnya sikap gotong royong dari masyarakat setempat, dan SOP dari heli dan Manggala Atmi yang tidak boleh melakukan pemadaman pada malam hari.

Kehadiran Asops Kapolri di OI didampingi juga oleh Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI AM Putranto, dan dari Pemprov Sumsel serta pejabat lainnya. (mrf)