- Sebarkan "Virus" Perdamaian dan Riding Skuter di Palembang, Slank Bakal Rilis Album Terbaru pada 5 Juni 2026
- Buronan Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Rumah Tetangga
- Olahraga Bersama Insan Media, Kodam II/Sriwijaya Turut Menjaga Ketahanan Informasi Nasional
- Pangdam II/Swj Ambil Sumpah 1.583 Tamtama Remaja, Kasad: Perkuat Batalyon Teritorial Pembangunan
- Tinjau Koperasi Merah Putih di Lahat, Apresiasi Pembangunan dan Dorong Ekonomi Lokal
Motif Asworo Membunuh Wiwid Masih Belum Jelas
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Tewasnya Chatarina Wiedjawati (30) alias Wiwid, warga Tanjung Enim, Sumatera Selatan (sumsel) yang sempat menghebohkan warga Palembang, kini sudah sampai pada tahap rekonstruksi. Namun, ayah Wiwid, Paulus Selamet dan keluarga besarnya masih belum mempercayai keterangan Asworo sehingga tega membunuh calon istrinya sendiri.
Hal itu disampaikan Paulus saat menyaksikan proses rekonstruksi pembunuhan anak pertamanya di tempat kejadian perkara (TKP) Jalan Sungai Sedapat RT 41 RW 08 Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang. Menurut Paulus, keterangan Asworo yang mengatakan motif pembunuhan dikarenakan uang sangat tidak masuk akal. “Tidak masuk akal kalau alasan bunuh masalah uang. Kami belum jelas apa motifnya,” pungkasnya.
Bukan tanpa alasan, karena dari keterangan Paulus, pada saat pertama kali Asworo datang ke rumahnya dan memperkenalkan diri, dia mengaku bekerja di koperasi dan tidak memiliki perusahaan seperti apa yang diberitakan. “Kami tidak percaya karena saat Asworo datang ke rumah dan memperkenalkan diri, dia jujur kalau memang dirinya bukan dari keluarga tidak mampu dan hanya bekerja di sebuah koperasi di Muara Enim. Tidak ada yang dia tutup-tutupi,” terangnya.
Paulus sangat menyayangkan aksi sadis Asworo karena selama ini, dia menilai Asworo adalah sosok yang baik dan pantas untuk menjadi suami anaknya. Menurutnya, keluarganya mengenal Asworo sekitar 1 tahun 3 bulan, dan selama mengenal dia, dirinya dan keluarga sama sekali tidak curiga. “Biasa, kalau kerumah biasa saja. Saya menilai Asworo anak yang baik dan sudah menganggap dia seperti anak sendiri,” ucapnya.
Paulus juga mengatakan jika sama sekali tidak ada firasat jika anaknya akan dibunuh oleh calon suaminya sendiri. “Kami tidak ada firasat sama sekali sebelum kejadiaan itu. Almarhumah dimakamkan di Jogja,” ungkapnya.
Sementara, Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), Kombes Pol Prasetijo Utomo mengatakan bahwa untuk melengkapi kesempurnaan berkas, pihaknya melakukan rekonstruksi sebanyak 20 peragaan. Mulai dari tahap penjemputan, menginap di hotel sampai pemukulan dan pembuangan mayat di locus delicti.
“Sesuai adegan rekonstruksi, pertengkaran terjadi sekali didalam mobil, tetapi itu langsung dilakukan penganiayaan terhadap korban. Kalau menurut perkiraan kami (kepolisian), korban sudah meninggal (di dalam mobil) karena darah sudah berlumurun yang ditemukan di dalam mobil yang disewa oleh tersangka,” pungkasnya.
Dijelaskan, dari hasil rekonstruksi, penyebab kematian wiwid karena hantaman benda tumpul atau kunci setir yang digunakan oleh pelaku. Motifnya adalah tersangka sakit hati sehingga dia berencana untuk membunuh korban mulai dari penjemputan, menginap dan seolah-olah mengantarkan korban ke bandara Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II untuk diberangkatkan ke Jogyakarta. “Ini sudah direncanakan dan tersangka sendiri sudah mengakui itu. Penangkapan tersangka Asworo terjadi di bulan Juni kemarin. Kalau tidak salah 18 hari bulan puasa. Penangkapan dilakukan oleh tim Rimau Polda Sumsel,” ungkapnya.
Pelaku berharap korban memiliki uang untuk melangsungkan pernikahan, tetapi ternyata korban tidak memiliki uang seperti apa yang diharapkan oleh tersangka. Kejadian tersebut berjalan saja, artinya seolah-olah tersangka menjemput korban di hotel, di jalanan korban sambil mencari tempat yang menurut dia aman disitulah dia akan melakukan pembunuhan yang kira-kira tidak diketahui oleh orang lain. “Atas perkara ini, pelaku akan dijerat pasal berlapis yaitu pasal 338, 340 dan 365 dengan ancaman 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup,” terangnya.
Sementara, pascakejadian, beredar rumor bahwa banyak warga yang tidak berani untuk melewati TKP saat malam hari. Namun hal itu dibantah oleh ketua RT 41, Matratu. “Kami menyayangkan adanya peristiwa pembunuhan di wilayah kami. Hanya saja, warga tidak terpengaruh pasca kejadian. Mereka tetap biasa-biasa saja saat beraktivitas. Tidak ada rumor lain apalagi tentang yang mistis-mistis. Di sini (TKP) juga tidak terlalu sepi dan kalau malam lampu jalan berfungsi semua sehingga tidak gelap,” pungkasnya.
Namun, berkaca pada kejadian itu, Matratu sudah menghimbau kepada pemilik tanah agar membersihkan semak belukar yang ada dilokasi agar terlihat lebih terawat.
Di tempat yang sama, saksi, Muhammad Alwi yang pertama kali menemukan mayat Wiwid menjelaskan bahwa setelah kejadian kondisi di lokasi biasa-biasa saja karena memang dirinya tiap hari pulang dari TKP selepas magrib. “Tetapi memang warga lain tidak berani (berada di TKP),” ungkapnya.
Dari keterangan Alwi, waktu itu dirinya sendirian dan mau ngerumput (mengambil rumput) seperti biasanya.posisi pertama kali mayat saya temukan dalam keadaan terlentang. Hanya saja wajahnya sudah hitam karena membusuk. Cuma waktu ditemukan, mayatnya belum mengeluarkan bau. “Waktu ditemukan saya langsung pulang dan melapor kepada pak RT. Jarak waktunya tidak lama hanya sekitar 10 menit dari awal penemuan mayat.
Diketahui, Chatarina Widyawati (30) warga Jalan Gereja Atas No106 Talang Jawa Tanjung Enim merupakan korban pembunuhan yang ditemukan di Kecamatan Sukarami Palembang awal Mei 2017. Jasad Wiwid ditemukan di semak-semak di kawasan Jalan Sukabangun II, Kelurahan Sukajaya, Sukarami, Palembang, Kamis (11/5). Jenazah korban telah membusuk dan sulit dikenali. Di tubuhnya terdapat luka di kepala, bagian depan dan belakang akibat benda tumpul. Ada juga luka di wajah dan langit-langit mulut
Korban merupakan warga Yogyakarta yang bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, PT Cipta Hasil Sugiharto di Prabumulih, Sumatera Selatan, lebih kurang selama 2,6 tahun. Dia merupakan lulusan S2 Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Wiwid rencananya akan menikah dengan Asworo pada September 2017. Mereka menjalin hubungan asmara saat bertemu di gereja satu tahun lalu. Wiwid sempat menghubungi keluarga untuk datang ke Yogyakarta bersama calon suaminya dengan tujuan menggelar preeweding sehari sebelum hilang kontak. Dia meminta dijemput di bandara jika telah tiba. Namun begitu dijemput, Wiwid tak terlihat dan tidak masuk dalam manifes penumpang pesawat. Kepergian Wiwid ke Palembang untuk terbang ke Yogyakarta dikabarkan bersama tunangannya Asworo, dengan mengendarai mobil rentalan Innova warna hitam. (mrf)



