Mafia Kuburan Gentayangan

(EKSKLUSIF) SIMBUR, PALEMBANG – Bisnis kuburan menjadi mata pencaharian baru sejumlah pihak untuk meneguk keuntungan pribadi dan menyambung hidupnya. Pasalnya, keberadaan pemakaman umum yang ilegal diduga terjadi di sejumlah titik di wilayah kota Palembang. Salah satu wilayah kuburan ilegal itu diisukan menyimpan situs bersejarah Kerajaan Sriwijaya yang harus dilestarikan sebagai aset sejarah kota Palembang.

Lokasi lahan pemakaman yang ada di Kota Palembang terus tergerus wilayahnya dengan aktivitas pembangunan perumahan dan ekonomi cenderung meningkat. Fenomena itu seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di dalam kota. Lahan kuburan yang ada di Taman Pemakaman Umum (TPU) pun kerap kali sudah sangat sesak dipenuhi nisan  orang yang sudah meninggal dunia.

Jarak antarmakam kadang kala sangat berdekatan dengan nisan yang lainnya. Sehingga dari segi estetika sangat tidak enak dipandang dengan mata. Malahan, para peziarah yang datang ke makam cenderung dengan tidak segan-segan menginjak-injak jejeran makam yang lain untuk menuju makam keluarganya. Hal itu terlihat di TPU Puncak Sekuning dan TPU Naga Swidak Plaju.

Berdasarkan pantauan Simbur Sumatera, sebutan gunung yang disematkan sebagai nama Gunung Mahameru tidak relevan lagi sebab gunung itu sekarang terlihat seperti bukit. Padahal konon wilayah itu menjadi tempat daratan tinggi di Palembang. Gunung Mahameru yang mempunyai tinggi sekitar 10 meter kini dipenuhi dengan ratusan makam. Dari kaki gunung hingga ke atas gunung berjejer secara acak berbagai bentuk nisan. Bahkan, ada juga makam orang Tionghoa dengan ciri khas nisannya yang dikuburkan di gunung tersebut.

“Rata-rata yang dikuburkan di sini (Mahameru, red) mayoritas warga pribumi. Orang Tionghoa yang dikuburkan sekitar puluhan makam saja,” ujarnya sambil terus menggali lubang makam. Ironisnya, apabila ada makam yang tidak pernah dikunjungi lagi oleh kerabat keluarga yang meninggal, makam tersebut akan dibongkar oleh oknum penggali kuburan untuk jenazah lain. Tarif yang ditawarkan kepada keluarga yang berduka itu pun cukup mengejutkan, yakni berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per lubang.

Menariknya, salah satu spiritual yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa di gunung Mahameru itu mempunyai jejak situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya khususnya peninggalan yang berhubungan dengan perkembangan ajaran Buddha di Palembang. “Mahameru menjadi titik awal tempat ibadah ajaran Buddha saat Dapunta Hyang menginjakkan kakinya di daratan Palembang. Keberadaan kuburan di situs itu tentunya sangat tidak relevan dengan sejarah yang terkandung di gunung itu,” ujarnya.

Camat Seberang Ulu II, M Ichsanul Akmal Ssos MSi mengatakan pihaknya belum mengetahui kalau ada ada situs Kerajaan Sriwijaya. “Kami belum tahu kalau di situ ada situs Kerajaan Sriwijaya. Setahu saya situs kerajaan di sini (Mahameru, red) cuma Bagus Kuning saja. Yang jelas pemakaman Gunung Mahameru sudah terdata di pemerintah kota,” ungkapnya.

Diketahui, saat ini jumlah TPU yang terdaftar di Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan dan Pemakaman (DPJPP) Kota Palembang mencatat ada 16 TPU ‘pelat merah’. Hanya saja sampai saat ini baru 13 TPU yang beroperasi. Hal tersebut disampaikan oleh Kabid UPT Dinas PJPP, H Asmuandi Murod SH MSI saat dihubungi Simbur Sumatera via telepon, Senin (23/1). “Kami sedang mengupayakan TPU di Karamasan bisa segera beroperasi. Hanya saja, dana di Pemkot belum ada sehingga diharapkan masyarakat bersabar. Dengan adanya pemakaman baru, diharapkan TPU tidak terlihat padat dan desak-desakan dan yang terpenting bisa ditata agar terlihat lebih baik dan teratur,” ujarnya. (mch/mrf)

 

(Baca berita selengkapnya hanya di surat kabar Simbur Sumatera edisi cetak Februari 2017)

Leave a Comment