- Warga Lima Desa Perbaiki Jalan Rusak secara Swadaya
- Gubernur Papua Apresiasi Dukungan BKN Tingkatkan Kualitas ASN Daerah
- PWI Pusat Serahkan Uang Duka kepada Keluarga Almarhum Zulmansyah Sekedang
- Car Free Night Atmo Geliatkan Ekonomi dan Bahagiakan Warga Palembang
- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
Indahnya Berbagi di Akhir Tahun
PALEMBANG – Kondisi memprihatinkan masih terlihat di panti asuhan yang ada di Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Perhatian pemerintah juga dirasakan masih belum maksimal baik itu secara finansial maupun pembinaannya. Realitas itulah yang menggerakkan direksi dan redaksi Dramedia, penerbit surat kabar Simbur Sumatera dan Simburnews.com untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan di akhir tahun.
Sebagian rezeki itu memang sudah menjadi hak anak yatim piatu. Gerakan peduli disalurkan untuk panti asuhan Fatmawati dan panti asuhan Muhammad Ali yang berlokasi di kawasan Sukatani, Kecamatan Sukarami, belum lama ini.
Muhammad Azhari, direktur sekaligus pemimpin umum grup media Simbur mengatakan, apa yang dilakukan adalah kewajiban untuk peduli sesama, khususnya kepada anak-anak yatim piatu. “Kami berharap dengan silaturahmi ini bisa bermanfaat bagi adik-adik di panti asuhan,” ujarnya.
Senada, Pemimpin Redaksi Simbur Sumatera, Muhammad Chuzairine mengatakan, jika tahun ini bantuan difokuskan pada kebutuhan dasar atau sembako. “Semoga apa yang kita dapatkan bisa bersih dan berkah karena berbagi,” pungkasnya.
Terkait, pendiri panti asuhan Muhammad Ali, Henni mengatakan, panti asuhan yang diurusnya saat ini belum terdaftar di Dinas Sosial Kota Palembang. “Kami sudah bawa ke Dinsos dan katanya bulan Januari 2017 akan didaftarkan,” ungkapnya.
Selain itu, Henni sangat berharap ada bantuan untuk pendidikan anak-anak asuhnya sebab hal tersebut yang menjadi kendala besar baginya. Jika untuk kebutuhan makan, dia mengatakan selama ini masyarakat sekitar sangat peduli terhadap yatim piatu. Henni juga menceritakan bagaimana mereka dulu diusir oleh pemilik rumah sebab tidak mau lagi dijadikan lokasi panti asuhan, dan saat ini dua rumah yang dikontak setiap tahunnya harus merogoh kocek sampai Rp20juta.
“Lillahitaala, semuanya kami lakukan karena memang banyak sekali anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya baik itu karena meninggal maupun orang tua yang tidak bertanggung jawab. Kami juga sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah kota biar anak-anak ini bisa merasakan apa yang dirasakan anak-anak yang lain,” harapnya.
Di tempat terpisah, pendiri sekaligus pengurus yayasan Panti asuhan Fatmawati, Rumiana menjelaskan, jika pada dasarnya dia sangat senang denga anak-anak. Sebelum mendirikan yayasan, dia mengasuh anak-anak dari keluarganya yang ditinggal karena meninggal. Karena semakin hari jumlah anak asuhnya semakin banyak, maka muncullah ide untuk membuat yayasan panti asuhan yang saat ini sudah terdaftar di Dinsos kota Palembang.
“Saat ini jumlah anak-anak sudah mencapai 75 orang. Memang tempat kami yang sederhana ini tidak muat lagi hanya saja mereka sudah sangat betah tinggal bersama sehingga tidak ingin dipindah ke panti asuhan yang lain,” ungkapnya.
Seperti yang diharapkan oleh Henni, Rumiana juga tidak terlalu terbebani dengan kebutuhan pokok melainkan berharap agar bantuan pendidikan dari pihak terkait itu jangan sampai terputus. “Selain bantuan pendidikan, kami sebenarnya berencana membuat dak buat tempat jemuran baju di atas rumah dan semoga nanti ada bantuan dari pihak-pihak yang peduli,” ungkapnya.
Baik Henni maupun Rumiana, berterima kasih kepada Simbur Sumatera yang sudah mau peduli akan kondisi anak-anak yatim piatu yang masih terbilang banyak di kota Palembang. Mereka bersama seluruh anak yatim piatu tidak lupa mendoakan yang terbaik untuk grup media Simbur ke depan. (mrf)



