Wagub Minta Tindak Maling Sepatu di Masjid Agung

PALEMBANG – Masjid seharusnya menjadi tempat beribadah yang nyaman bagi setiap muslim. Hanya saja, persoalan muncul ketika ada oknum yang tidak bertanggung jawab dengan melakukan tindak pencurian seolah tidak peduli tentang dosa. Banyak tindak pencurian yang terjadi baik itu di dalam maupun di luar masjid. Bukan berarti masjid merupakan tempat yang mudah dipantau oleh pelaku melainkan banyak terjadi karena sistem keamanan baik itu perangkat elektroniknya maupun petugas jaga yang mungkin belum memadai.

Seperti dialami Dayat (19), warga Tanjung Rawo, Palembang. Pemuda asal Pangkal Pinang Provinsi Babel  yang belum sebulan berada di Palembang harus kehilangan sepatu saat menunaikan salat berjemaah di Masjid Agung, Jumat (30/12). “Awalnyo tukang  penitipan sepatu nanyoi aku, Dek nak titip apo tidak. Kareno aku dak tau, jadi aku idak nitip. Aku tarok sepatu di depan pintu mesjid campur samo sepatu jemaah lain. Pas selesai sembahyang, laju aku becarian sepatu. Hargo sepatu memang dak seberapo, Tapi kaniayo nian, aku nyeker balek dari mesjid, untung naek motor. Malu nian aku dijingoki wong,” ungkapnya.

Sehubungan dengan itu, masih maraknya tindak pencurian sepatu atau sendal terjadi di salah satu masjid ikonik di kota Palembang, memunculkan pertanyaan apakah ada sindikasi pencuri sepatu yang terorganisir rapi dan berkeliaran menunggu korban lengah. Sepatu memiliki nilai komoditas yang lumayan tinggi dan sering kita jumpai di lapak-lapak khususnya kawasan pasar Cinde atau Pasar 16 Ilir.

Wakil Gubernur Sumsel, H Ishak Mekki mengatakan, maraknya tindak pencurian tersebut dikarenakan kurang ketatnya pengawasan di lokasi yang rawan seperti masjid. Selain itu, CCTV sangat perlu dimaksimalkan setidaknya bisa menjadi petunjuk bagi pihak kepolisian untuk menindak pelaku.

“Selain CCTV, masjid juga harus memerhatikan tentang penjaga atau petugas masjid khususnya yang bertugas mengawasi sepatu dan sandal jamaah agar tetap waspada dan betul-betul memegang amanah dan tanggung jawab yang diberikan,” pungkas Wagub, Jumat (30/12).

Senada, Ketua Umum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumsel, Mahmud Jamhur mengatakan mungkin saja kejahatan seperti itu terjadi, sebagaimana sindikat curanmor, narkoba, miras, dan lain-lain. Menurutnya, secara teknis ini bisa diatasi dengan teknis penjagaan yang ketat, pemasangan kamera pengawas (CCTV) atau upaya-upaya pengawasan yang lain.

“Secara Ideologis pencurinya di hukum seberat-beratnyanya agar menimbulkan efek jera. Dalam Islam, pencuri yang mencuri barang senilai diatas 1/4 (seperempat dinar), alias setara atau lebih dari 550 ribu, maka dipotong tangannya di depan orang banyak, sehingga membuat ngeri dan jera bagi yang belum melakukan, dan dosa pelaku diampuni Allah,” tegasnya.

Mengenai lokasi kejadian di salah satu masjid iconik Palembang, dirinya tidak ingin berprasangka buruk karena tidak tahu fakta sebenarnya. Namun, Mahmud menegaskan jika itu merupakan tugas  keamanan internal masjid tersebut dan merekalah yang harus menyelidiki. Tentang kebenarannya, kapanpun dan dimanapun semua kemungkinan bisa terjadi apa lagi jika indikasi dan kejanggalan-kejanggalannya mengarah ke sana. (mrf)

Leave a Comment