- Perkuat Koordinasi Tangani Karhutla, Tim Mabes TNI Turun ke Muba
- Proaktif Tanggulangi Karhutla di Luar Lahan Konsesi, Pers Kawal Industri Sawit Nasional
- Semarakkan HUT Ke-81 RI, Wartawan Babel Ikuti Lomba Gaple
- Kasad Kunjungi Sumsel, Hadiri Pengukuhan Aslinmas se-Indonesia hingga Resmikan Jembatan Garuda
- Presiden Prabowo Minta Lindungi Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas dari Karhutla
Proaktif Tanggulangi Karhutla di Luar Lahan Konsesi, Pers Kawal Industri Sawit Nasional
YOGYAKARTA, SIMBUR – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berkolaborasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar Workshop Jurnalistik Gapki dan PWI di Yogyakarta. Acara ini menjadi momentum strategis bagi kedua lembaga untuk memperkuat sinergi dalam mengedukasi publik terkait tata kelola industri kelapa sawit yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, dalam sambutannya menyoroti bahwa pemilihan Yogyakarta—daerah tanpa perkebunan sawit—sebagai lokasi acara bukanlah kebetulan. Hal ini ditujukan untuk mensosialisasikan pentingnya sawit dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaan komoditas berbasis kelapa sawit untuk industri batik lokal dan berbagai kebutuhan kebutuhan dalam kehidupan setiap hari.
Namun, Eddy juga menekankan tantangan regulasi yang membebani industri, khususnya terkait Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ia memaparkan bahwa Gapki secara proaktif turun tangan membantu pemadaman api di luar area konsesi, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Riau.
Meski demikian, industri tetap dihadapkan pada ancaman Pasal 88 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Strict Liability (tanggung jawab mutlak). “Apabila terjadi kebakaran—sekalipun titik apinya terbukti dari luar dan masuk ke dalam konsesi—kita otomatis dianggap lalai. Padahal tidak mungkin ada perusahaan atau masyarakat yang sengaja membakar asetnya sendiri. Kami mengusulkan adendum atau klausul pengecualian dalam aturan, terutama saat kondisi cuaca ekstrem,” jelas Eddy Martono.
Menyambut paparan tersebut, Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menegaskan pentingnya peran pers dalam menyajikan fakta di tengah gempuran kampanye hitam (black campaign) global terhadap kelapa sawit Indonesia. Ia mengingatkan bahwa persaingan bisnis internasional kerap membidik isu lingkungan dan tenaga kerja untuk mendiskreditkan tata kelola sawit nasional.
“Tantangan utama industri sawit adalah membuktikan tata kelola yang bermanfaat bagi masyarakat. Dunia sangat membutuhkan kelapa sawit karena ini adalah minyak nabati paling produktif,” ujar Akhmad Munir.



