- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
- Protes Meluas, Warga Banyuasin Kesulitan Air Bersih
- Komitmen Indonesia-Unicef Dukung Pemenuhan Hak Anak
- PWI Pusat Dorong Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk Revisi UU Hak Cipta
Luas Lahan Terbakar di Sumsel 1,8 Juta Hektare Tahun 2015, Menurun Drastis Jadi 47 Hektare pada Juli 2025

PALEMBANG, SIMBUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menurun drastis selama sepuluh tahun terakhir. Hal itu diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto. Menurutnya, pengendalian karhutla di Sumsel tahun ini dinilai lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
“Karhutla di Sumsel tahun 2025 jauh menurun dibanding 2015 yang mencatat 1,8 juta hektare lahan terbakar. Tahun 2024 saja, jumlahnya hanya sekitar 95 ribu hektare,” ungkap Suharyanto saat Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Griya Agung, Palembang, Selasa (29/7).
BNPB, lanjut Suharyanto, terus mendukung Satgas Darat dengan pengadaan alat pemadam dan modifikasi cuaca. “Kami siapkan pesawat fixed wing untuk hujan buatan. Tapi intensitas hujan perlu dikontrol agar tidak memicu banjir di daerah lain,” pungkasnya.
Diketahui, berdasarkan data dari BNPB, sejak 1 Januari 2025 hingga hari ini (29/7/2025), terdapat 47 hektare lahan yang terbakar di Sumsel. Saat ini terpantau 21 titik panas atau hotspot di provinsi tersebut. Data BPBD Sumsel yang diterima BNPB, total sebaran hotspot atau titik panas dari 1 Januari 2025 – 22 Juli 2025 mencapai 2.543 titik. Total luas lahan terbakar pada periode tersebut seluas 43,08 hektare.



