Terminal Bayangan Gerbang Tol Kebun Jeruk 1 Jakarta Diduga Sarang Copet

JAKARTA, SIMBUR  – Jelang libur panjang akhir tahun, lonjakan penumpang diprediksi meningkat. Khususnya melalui perjalanan darat yang menggunakan bus. Masyarakat diharap dapat berhati-hati dan waspada terhadap tindak kejahatan, terutama komplotan copet yang beraksi di ibu kota Jakarta.

Terminal bayangan gerbang tol Kebun Jeruk 1, Jakarta Barat diduga menjadi sarang copet. Modus para komplotan amatir tersebut cukup terorganisir. Mereka berbagi peran untuk mengecoh para calon penumpang yang akan menunggu bus sebagai korbannya. Terutama calon penumpang dengan tujuan menyeberang ke Pulau Sumatera. Mengingat, kecil kemungkinan calon penumpang tersebut untuk mengulang kembali ke lokasi dan/atau membuat laporan polisi setelah naik bus. Kecuali, bila yang dicopet barang berharga atau uang dengan jumlah banyak.

Kabar merajalelanya copet di terminal bayangan gerbang tol Kebun Jeruk 1 Jakarta Barat diperoleh dari seorang sopir bajai dan driver taksi online. Media ini lalu mencoba menelusuri kebenaran informasi tersebut dengan langsung mendatangi lokasi terminal bayangan itu. Hasil pantauan di lapangan, para calo bus kerap menanyakan setiap calon penumpang yang masuk ke terminal bayangan.

Tampak seorang calon penumpang tiba, Jumat (16/12) petang. Dia langsung membeli minuman di sebuah warung yang disebut-sebut milik kepala geng di lokasi itu. Calon penumpang  mengeluarkan uang dari dompetnya membayar sebotol minuman kopi susu. Terlihat seorang komplotan mengawasi letak posisi dompet di saku kanan calon penumpang.

Selanjutnya, calon penumpang bus itu duduk di salah satu bangku dari besi yang dipilin dengan tali plastik di bawah tenda payung. Dekat penjual gorengan dan kudapan ringan. Ada remaja tanggung duduk di sebelahnya pada kursi tali itu. Seorang calo bus menghampiri calon penumpang itu lalu mengatakan, “Ada gunanya duduk di kursi yang disewakan,” kata calo bus kepada calon penumpang tadi seperti memberi isyarat. Calon penumpang pun bergeser, pindah duduk di halte karena gerimis cukup runcing.

Satu pedagang asongan mondar-mandir, menutupi posisi calon penumpang tadi yang duduk di halte. Calon penumpang lain membeli air mineral kepada pedagang asongan tersebut. Pedagang asongan memberikan uang kepada pemilik warung yang juga kepala geng di situ lalu mengisi kotaknya lagi dengan mengambil air mineral dari warung tersebut.

Sosok lelaki mendekat namun hanya duduk manis, berdiam diri tanpa menegur sapa. Dia terlihat bermain mata dengan komplotannya. Calon penumpang tadi terlihat meraba saku celana dan mengisyaratkan dompetnya masih ada.

Datang lelaki lain berperawakan warga keturunan, membawa berapa paket kotak sarang berisi anakan burung berkicau yang katanya jenis kacer dan akan dikirim ke Palembang. Lelaki itu mengaku pedagang burung dari Pasar Pramuka Jakarta. Dia didampingi rekannya yang juga terlihat akrab dengan para penghuni terminal bayangan.

Lelaki yang akan mengirim paket sarang burung itu mulanya mengajak ngobrol calon penumpang tadi. Calon penumpang kembali memastikan dompetnya masih ada. Selang beberapa jenak, satu rekan pengirim paket anak burung berkicau datang seakan merapikan tali ikatan sarang. Datang pula calo bus tadi dan meminta uang kepada lelaki pengirim paket bersama rekannya. Calo bus diketahui anak buah preman pemilik warung di terminal bayangan itu.

Dengan gestur kaku dan waswas, terlihat lelaki pengirim paket burung terus menoleh dan mengawasi calon penumpang yang menunggu bus hampir dua jam akibat kemacetan mengular sore itu. Saat bus jurusan Bandung-Palembang yang dinanti tiba, calon penumpang pun bergegas mengejar dan masuk ke dalam bus. Calo bus yang telah berganti pakaian terlihat memepet calon penumpang tadi yang ingin masuk ke dalam bus namun posisinya tidak terlalu dekat.

Sebelum bus melaju, media ini juga naik bus tersebut, kemudian menanyakan calon penumpang tadi, apakah ada barang yang hilang? Calon penumpang meraba saku kanan celananya dan membenarkan dompetnya baru saja dicopet namun tidak perlu mencari tahu siapa terduga pelakunya. “Tidak apa. Isi dompet saya, uangnya cuma Rp9 ribu (sembilan ribu rupiah),” terang calon penumpang itu.

Media ini lalu bertanya kepada penumpang lain pada bus yang sama. Sebelumnya, dia juga lama duduk di halte terminal bayangan. Katanya dia nyaris jadi korban komplotan copet tersebut. Dirinya menunggu bus bersama istrinya. Ternyata dia lebih waspada dan mengantisipasi aksi komplotan copet. “Saya melihat mereka main mata dan pakai kode isyarat. Ada yang memegang saku celana tapi langsung saya tepis. Orangnya langsung pergi,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang maupun pemerintah daerah setempat belum terkonfirmasi. Meski demikian, salah satu sopir bus saat dimintai penjelasan mengaku jarang ada yang mau membawa paket kiriman burung apalagi kalau orangnya ikut sebagai penumpang.

“Harus ada surat-suratnya bawa unggas (burung). Memang tanggung jawab pengirim atau penumpang yang bawa. Tapi kami lama menunggu proses karantinanya. Makanya jarang kami terima,” ungkap seorang sopir bus yang tak mau namanya disebut.(red)