- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Investasi Penanggulangan Risiko Bencana, Perhatikan Kearifan Lokal
# Lebih dari 98 Persen Bencana di Indonesia Disebabkan Hidrometeorologi
PALEMBANG, SIMBUR-
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Memiliki wilayah yang luas dan lokasi yang berada di dalam ring offfire, Indonesia menghadapi risiko bencana yang tinggi. Hal itu diungkap Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr Raditya Jati selaku Ketua Sekretariat Panitia Nasional Penyelenggara GPDRR (Global Platform for Disaster Risk Reduction).
“Penting bagi kita untuk berinvestasi dalam kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko. Upaya ini tentunya perlu dilakukan secara ingklusif dan memerhatikan kerifan lokal, seperti solidaritas sosial,” ungkap Raditya Jati saat konferensi pers dari Media Center GPDRR, Tanjung Benoa Hall, BNDCC 2, Lantai 1, Nusa Dua, Bali, yang disiarkan juga secara virtual, Selasa (24/5).
Menurut Raditya, Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan target melalui inisiatif praktis pengurangan risiko bencana yang terintegrasi. Baik dalam perencanaan pembangunan nasional maupun lokal. Lanjut dia, platform global untuk mengurangi risiko bencana (GPDRR) memiliki peran penting dalam memastikan pemenuhan seluruh target kerangka kerja sendai. “Untuk mengurangi risiko bencana (PRB) dan mempromosikan ketangguhan,” jelasnya.
Kata dia, acara ini membahas isu-isu bencana dan mengurangi risiko bencana agar lebih teknis dan lebih mendetail. “Karena Indonesia seperti yang kita lihat lebih dari 98 persen kejadian bencana itu dipicu oleh hidrometeorologi,” jelasnya.
Acara GPDRR yang ke-7 ini, tambah dia, merupakan peluang strategi. Karena baru pertama kalinya digelar di Asia dan berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Indonesia akan menjadi tuan rumah Global Platform For Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7 pada 23-28 Mei 2022 yang akan di laksanakan di Bali.
“Selain dikenal sebagai destinasi kelas dunia, Bali juga dikenal sebagai salah satu lokasi terbaik untuk mengadakan konferensi internasional. Menghadapi situasi pandemi saat ini, Bali dengan dukungan pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya guna menjamin keselamatan para peserta dan masyarakatnya,” tegasnya.
GPDRR ke-7 ini menghadirkan dua agenda, yakni agenda utama dan acara tematik, serta pertemuan pendahuluan. Agenda utama akan di selenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Di era adaptasi dikebiasaan baru, pemerintah Indonesia telah menyiapkan standar protokol kesehatan demi menjamin keselamatan para peserta. Persiapan ini dilakukan agar GPDRR dapat terselenggara sesuai dengan protokol kebersihan, kesehatan, dan keselamatan kerja. “Serta mempersiapkan mekanisme mobilitas pendelegasian yang menerapkan protokol Kesehatan dan rama difabilitas,” harapnya.
Raditya menambahkan, kegiatan tersebut akan dihadiri Presiden Indonesia Ir Joko Widodo. Selain itu, dia mengatakan Presiden hadir didamping Menkom PMK, Menkumham, Menteri Sosial, Menteri PPA, Ketua PBB, Kapolri dan beberapa pejabat lainnya.
Terkait pengamanan acara tersebut, tidak hanya dari pihak Indonesia tetapi PBB juga mengawal dan mengamankan proses GPDRR, dilengkapi dengan protokol yang sudah disediakan.(mws14)



