Bertambah Jadi 22 Orang Tewas, 22 Warga Hilang akibat Letusan Gunung Semeru

PALEMBANG, SIMBUR – Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru melaporkan data terkini pada Senin (6/12), pukul 20.15 WIB. Korban jiwa yang tercatat sementara antara lain luka-luka 56, hilang 22 dan meninggal dunia 22. Sedangkan jumlah populasi terdampak sebanyak 5.205 jiwa dan warga mengungsi 2.004.

Terkait dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang, posko masih melakukan pendatan dan validasi. “Rincian korban meninggal dunia teridentifikasi 14 orang di Kecamatan Pronojiwo, sedangkan 8 orang di Kecamatan Candipuro,” ujar Muhari dalam keterangan persnya, Senin (6/12).

Sebelumnya, jumlah korban jiwa berdasarkan data per hari Senin (6/12), pukul 11.10 WIB sebanyak 27 orang dinyatakan hilang dan meninggal dunia 15. Posko masih memutakhirkan data warga terdampak. Sementara, warga yang mengungsi berjumlah 1.707 jiwa yang tersebar di 19 titik.

Selain berdampak pada korban jiwa, awan panas guguran juga merusak sektor pemukiman dan infrastrukur di beberapa kecamatan di Kabupaten Lumajang. “Data sementara menyebutkan rumah terdampak berjumlah 2.970 unit, fasilitas pendidikan terdampak langsung 38 unit, jembatan putus 1 unit (Gladak Perak yang berada di Desa Curah Kobokan, penghubung antara Lumajang dan Malang),” ungkapnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau lokasi terdampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru melalui udara menggunakan helikopter BNPB. Pada peninjauan tersebut, Kepala BNPB melihat langsung dampak dari kejadian bencana awan panas guguran Gunung Semeru setelah helikopter terbang rendah. Gambaran visual yang terlihat, kondisi di sepanjang daerah aliran lahar di Curah Kobokan mengalami kerusakan dan tertutup material vulkanik dari awan panas guguran Gunung Semeru. Beberapa vegetasi yang ada di sepanjang daerah ailran lahar di Curah Kobokan juga mengalami kerusakan dan banyak pohon yang tumbang dan mati.

Melalui pantauan udara tersebut, Kepala BNPB juga melihat kerusakan jembatan Gladak Perak di Desa Curah Kobokan yang rusak dan memutus jalur darat antara Lumajang menuju Malang akibat terdampak awan panas guguran Gunung Semeru.

Di samping itu, visual lain yang didapatkan dari pantauan udara adalah kerusakan permukiman warga yang berada di sepanjang bantaran daerah aliran lahar di Curah Kobokan. Selain itu, beberapa titik di sepanjang aliran lahar itu juga masih muncul kepulan asap dari material awan panas guguran.

Selain melalui udara, Suharyanto meninjau lokasi terdampak awan panas guguran Gunung Semeru di Jembatan Gladak Perak, Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dia mengendarai sepeda motor jenis trail menuju ke lokasi, mengingat medan tidak dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda empat.

Di sepanjang jalan menuju lokasi, Kepala BNPB melihat banyak kerusakan vegetasi berupa pohon tumbang dan material vulkanik yang menutupi jalan hingga ketebalan kurang lebih 30 sentimeter. Beberapa bangunan di sepanjang jalan yang berada di lembah Daerah Aliran Sungai (DAS) Curah Kobokan juga mengalami kerusakan terdampak awan panas guguran.

Kepala BNPB akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera mengambil tindakan percepatan penanganan dan pemulihan bencana yang ditimbulkan oleh erupsi Gunung Semeru. “BNPB akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk segera menangani ini,” jelas Suharyanto.

Di samping itu, Kepala BNPB juga memerintahkan seluruh unsur TNI, Polri dan lintas instansi gabungan agar memastikan tidak ada masyarakat di wilayah itu. Hal itu untuk mengantisipasi adanya awan panas guguran susulan Gunung Semeru yang masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu. “Jangan sampai ada masyarakat di area ini ya. Masih berbahaya,” pungkas Suharyanto.

Terjunkan 985 Personel Gabungan

Lebih dari 900 personel gabungan terlibat dalam operasi penanganan darurat di bawah kendali pos komando (posko). Data yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi BNPB pada hari ini, Senin (6/12), jumlah personel gabungan mencapai 985 orang. Para personel melakukan berbagai upaya penanganan darurat yang saat ini memfokuskan pada pencarian dan evakuasi serta pelayanan dasar warga terdampak. Selain personel, sejumlah peralatan diterjunkan untuk membantu proses pencarian warga yang diduga masih hilang, antara lain BNPB menyiagakan 3 unit helikopter dan Palang Merah Indonesia (PMI) mendorong 2 unit hagglund yang dapat menembus medan berat di lokasi terdampak material vulkanik.

Jumlah personel di lapangan diperkirakan lebih banyak lagi untuk membantu tanggap darurat di lapangan. Di antaranya mereka yang bekerja untuk perbaikan infrastruktur dasar listrik, komunikasi atau pun akses jalan.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) Nazib Faizal ST MSc menyampaikan pihaknya mengerahkan personel untuk membantu beberapa langkah penanganan darurat paska erupsi. Di antaranya pembersihan jaringan jalan untuk memulihkan konektivitas baik jalan nasional, provinsi maupun kabupaten, pencarian jalur alternatif untuk menghubungkan Lumajang-Turen-Malang yang putus akibat robohnya jembatan Besuk Kobokan. “Percepatan evakuasi korban dan pembersihan Kawasan,” tambah Kepala Pusat Data dan Informasi KemenPUPR Nazib Faizal.

Sementara itu, para personel yang bergerak di lapangan diharapkan untuk selalu berkoordinasi dengan Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru. Posko yang berjarak 23 km dari Gunung Semeru tersebut berada di Kantor Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Sedangkan pos logistik yang mendukung operasi penanganan darurat terletak di rumah dinas Bupati Lumajang.

BNPB mengimbau semua dukungan sumber daya, baik personel, peralatan atau pun bantuan logistik dikoordinasikan melalui posko yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang. Hal tersebut bertujuan agar penanganan darurat dapat berjalan secara optimal dan efektif serta menekankan keamanan dan keselamatan responder di lapangan yang melakukan operasi pencarian dan evakuasi. Hal tersebut disampaikan Basarnas sebagai koordinator pencarian dan pertolongan. Seperti terpantau pada pagi tadi (6/12), pukul 08.55 WIB, awan panas guguran kembali terjadi dengan jarak luncur 4 km yang mengarah ke Besuk Kobokan. “Mudah-mudahan besok cuaca cukup baik dan bersahabat sehingga kita akan lebih mudah untuk menjangkau daerah-daerah yang perlu kita sisir,” ujar Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI Wurjanto MHan.

Di sisi lain, komandan posko dapat mengevaluasi serta merencanakan operasi secara baik dan tepat melalui rapat koordinasi di tingkat posko yang dihadiri perwakilan lembaga yang bekerja di lapangan.

Terkait dengan perkembangan warga mengungsi, sebanyak 2.004 warga berada di 19 titik pengungsian yang tersebar di 3 kecamatan, antara lain Kecamatan Pronojiwo, Candipuro dan Pasirian. Jumlah penyintas tertinggi berada di Kecamatan Candipuro dengan jumlah 1.136 jiwa, Pasirian 563 dan Pronojiwo 305. Berikut ini distribusi titik pengungsian warga di tiga kecamatan tersebut.

Kecamatan Candipuro (Balai Desa Sumberwuluh, Balai Desa Penanggal, Balai Desa Sumbermujur, Dusun Kampung Renteng di Desa Sumberwuluh, Dusun Kajarkuning di Desa Sumberwuluh dan Kantor Camat Candipuro). Kecamatan Pasirian (Balai Desa Condro, Balai Desa Pasirian, Masjid Baiturahman Pasirian dan Masjid Nurul Huda Alon Pasirian).

Kecamatan Pronojiwo (SDN Supiturang 04, Masjid Baitul Jadid di Dusun Supiturang, SDN Oro Oro Ombo 3, SDN Oro Oro Ombo 2, Masjid Pemukiman Dusun Kampung Renteng di Desa Oro Ombo, Balai Desa Oro Oro Ombo, Balai Desa Sumberurip, SDN Sumberurip 2, dan rumah-rumah kerabat di Dusun Kampung Renteng dan Dusun Sumberbulus yang terletak di Desa Oro Oro Ombo).

Selain dampak korban jiwa, awan panas guguran Gunung Semeru mengakibatkan kerusakan di sektor pemukiman, pendidikan maupun sarana dan prasarana. Posko masih terus melakukan pemutakhiran terhadap dampak kerugian material, dengan data sementara rumah terdampak 2.970 unit, fasilitas pendidikan 38 unit dan jembatan (Jembatan Gladak Perak) putus 1 unit.

Sampaikan Rasa Duka hingga Buka Posko Bantuan

Gubernur Sumsel H Herman Deru siap memberikan bantuan untuk masyarakat yang terdampak letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. “Bantuan yang diberikan harus sesuai kebutuhan dan terorganisir serta bermanfaat bagi masyarakat,” kata Herman Deru.

Selain bantuan berupa materi, dia menegaskan, siap mengirimkan sejumlah personel tenaga kesehatan dan relawan untuk membantu evakuasi. “Kami lihat apa yang dibutuhkan. Saya tidak ingin personel yang dikirimkan hanya meramaikan Lumajang tanpa ada manfaat. Bantuan yang diberikan harus bermanfaat bagi warga yang terdampak,” tegasnya.

Herman Deru juga memberikan dukungan untuk masyarakat Kabupaten Lumajang yang terdampak bencana tersebut agar tetap sabar. “Kami juga turut mendo’akan saudara kita di Lumajang baik-baik saja dan tetap bersabar menghadapi cobaan tersebut,” imbuhnya.

Sementara, Sekda Kota Palembang Ratu Dewa langsung memerintahkan Dinas Sosial untuk bergerak mengalang dana bantuan. “Kami sudah mengerakan Dinsos untuk mengalang dana untuk korban erupsi Gunung Semeru,” kata Ratu Dewa.

Dewa mengajak warga Palembang yang memiliki rezeki lebih untuk ikut meringankan beban para korban erupsi Gunung Semeru di Dinsos Palembang. “Kami mengajak semua warga Palembang untuk membantu meringankan beban saudara kita di Jawa Timur yang sedang terkena musibah erupsi Gunung Semeru,” kata dia.

Menurut dia, bantuan akan dihimpun dan akan disalurkan langsung ke pemerintah Jawa Timur. Sehingga bantuan tepat sasaran dan langsung menyasar ke para korban. “Mudah-mudahan bantu segera terkumpul dan segera pula kita salurkan,” kata dia.

Pihaknya ikut berduka atas musibah erupsi Gunung Semeru ini. Pemerintah dan warga Palembang mendoakan semoga para korban di Lumajang dan sekitarnya di Jawa Timur tetap diberikan kesehatan dan keselamatan. “Kami mendoakan semoga kondisi di Jawa Timur khusunya di Lumajang dan sekitar segera pulih,” kata dia.(kbs/red)