- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Cuaca Ekstrem Rusak 57 Rumah Warga
JAKARTA, SIMBUR – Sebanyak 57 rumah warga yang berada di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan, mengalami kerusakan sedang. Kondisi tersebut diakibatkan curah hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang pada Selasa (5/10), pukul 21.00 WIB.
Abdul Muhari PhD, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Rawas Utara mencatat sebanyak 57 KK di Desa Ketapat Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, terdampak persitiwa tersebut. “Selanjutnya, BPBD Kabupaten Musi Rawas Utara melakukan peninjauan langsung ke lokasi kejadian dan kaji cepat untuk dapat mendukung upaya penanganan pascakejadian dan pendistribusian bantuan kepada warga terdampak,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan cuaca tiga harian yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per 7 sampai 9 Oktober 2021, Provinsi Sumatera Selatan didominasi cuaca cerah berawan, berawan dan hujan ringan. BNPB mengimbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dengan memantau prakiraan cuaca melalui laman BMKG dan potensi bencana yang ada di wilayah tempat tinggal melalui inaRISK.
“Masyarakat dan perangkat daerah setempat dapat melakukan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan dengan melakukan pemeriksaan ketahanan rumah warga secara berkala, memperbaiki bagian rumah warga yang mengalami kerusakan, mempersiapkan rencana dan lokasi evakuasi warga untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa akibat cuaca ekstrem,” tandasnya.
Diwartakan sebelumnya, warga Sumsel telah diimbau mewaspadai ancaman banjir dan tanah longsor. Bencana hidrometeorologi itu diprediksi kemungkinan bakal terjadi akibat curah hujan sangat tinggi di sejumlah daerah yang memiliki kemiringan tipografi. Kepala Stasiun Klimatologi Palembang sekaligus Koordinator BMKG Sumsel, Wandayantolis mengatakan, musim hujan konsisten mulai berlangsung pada awal Oktober 2021 dan akan mengalami puncaknya pada sekitar Januari hingga Maret 2022. “Peningkatan curah hujan sejak Oktober ini tentunya meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor pada daerah yang memliki kemiringan topografi,” ungkap Wandayantolis.
Dayan, sapaannya berharap, memasuki musim hujan, masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati dengan adanya perubahan cuaca yang signifikan (hujan lebat, petir, dan angin kencang), mewaspadai potensi curah hujan tinggi dan dampak turunan dari curah hujan tinggi tersebut Selalu membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar,” harapnya.(red)



