Oknum Guru Honorer Pesantren Diduga Cabuli Belasan Murid di Asrama

PALEMBANG, SIMBUR – Seorang oknum guru honor di pesantren terpaksa diciduk Unit Renakta Subdit IV Ditreskrimum Polda Sumsel. Tersangka Junaidi (22) warga Desa Tri Mulyo Batu Marta, OKU ditangkap karena diduga melakukan kekerasan seksual terhadap murid-muridnya.

Selain guru tersangka juga pengawas asrama di salah satu pesantren terletak di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Aksi bejatnya telah diperbuat tersangka sejak bulan Juni 2020-Agustus 2021. Adapun korbannya para murid lebih dari 12 orang anak, masih di bawah umur, antara usia 12-13 tahun.

Dari 12 murid yang dilecehkan tersangka dilakukan di dalam asrama ponpes, 6 murid disodomi tersangka dan sisanya juga mengalami kekerasan seksual. Para korban biasanya sedang tidur ini dipaksa tersangka Junaidi untuk mencium, oral seks, onani sampai sodomi.

“Patut diduga korban dan tersangka bisa bertambah. Maka posko pengaduan kami buka. Silakan melapor agar dapat kami tindak lanjuti,” kata Dirkrimum Kombes Pol Hisar Siallagan SIk MH.

Salah satu laporannya oleh RY orang tua dari salah seorang korban kelainan dan kekerasan seksual. Korban berinisial KA dan kawan-kawan.  Diketahui penangkapan tersangka Junaidi, yakni pada Senin (13/9) sekitar pukul 20.00 WIB. Pelaku diamankan di rumah salah satu korbannya, yang dilaporkan sang ibu ke pihak kepolisian.

Diketahui, pelaku merupakan guru honorer, sejak bulan Juni 2020 sampai Agustus 2021, melakukan perbuatan sodomi terhadap korbannya. Mulai dari mencium, memagang dan mengoral alat kemaluan tersangka, baik saat korban tidur atau saat dipanggil pelaku ke kamarnya.

Perbuatan seks menyimpang itu dilakukan tersangka dengan cara memaksa dan dengan ancaman. Apabila tidak menuruti hasrat bejat pelaku, maka korban akan diberi hukuman dengan cara dikunci di dalam gudang.

Dirreskrimum Polda Sumsel Kombes Pol Hisar Siallagan SH MH didampingi Kasubdit Renakta Kompol Masnoni SIk bahwa atas perbuatan seksual menyimpangnya itu pelaku terancam berat pidana penjara.  “Tersangka diancam Pasal 82 KUHP ayat 1,2 dan 4 Jo 76 E UU RI, tentang setiap orang dilarang melakukan pengancaman dan kekerasan terhadap anak untuk tindak pencabulan dilakukan tenaga pendidik. Ancaman perkaranya selama 15 tahun pidana penjara,” tegasnya. (nrd) 

Share This: