Sumsel Posisi 9 Nasional Peningkatan Positif Covid-19

PALEMBANG, SIMBUR –  Angka kematian akibat Covid-19 untuk Provinsi Sumatera Selatan kini masuk sepuluh besar nasional. Selain itu, Sumsel menduduki posisi ke-9 secara nasional untuk provinsi yang mengalami peningkatan Covid-19. Hal itu diungkap Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo saat Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 di auditorium Bina Praja, Pemprov Sumsel, Rabu (5/5).

“Angka kesembuhan setiap provinsi di atas 18 ribu. Angka kematian Sumsel menjorok ke atas. Angka kematian pada posisi sepuluh besar, tepatnya Sumsel di posisi 9 (untuk) peningkatan positif Covid-19,” terang Doni seraya menambahkan, posisi Sumsel saat ini Rabu (5/5) sudah berada pada kondisi komulatif aktif sebanyak 1.417 kasus.

Doni menambahkan, Covid-19 ini nyata. Covid-19 bukan konspirasi tapi  ancaman nyata. “Waspada terutama usia di atas 46 tahun, jangan anggap enteng, jangan lengah jangan kendor. Sudah ada 3 juta orang meninggal karena terpapar Covid-19,” terangnya.

Doni berpesan agar warga tidak menganggap enteng, Covid-19 ini penyakit tidak bisa dikendalikan apabila kasusnya meningkat. “Apabila terjadi kenaikan, segera dikendalikan dan koordinasikan,” serunya.

Masih kata Doni, Sumsel merupakan provinsi terakhir yang dikunjunginya. Setelah semua daerah, tinggal besok Provinsi Jambi. “Mudik ini hanya keputusan politik negara. Negara dalam kondisi perang Covid-19, semua pimpinan harus satu padu dan kompak.  Narasi harus tunggal larangan mudik. Tidak ada terjemahan lain. Sebab Covid-19 ini diantar dan dibawa oleh manusia,” timbangnya.

Covid-19 juga belum ada obatnya, orang yang divaksin juga belum ada jaminan tidak terpapar. Setiap orang yang divaksin agar tetap patuh terhadap prokes. Apalagi kalau belum divaksin. Maka ada strategi dari pusat daerah hingga tingkat kelurahan, bukan dipaksa di depan petugas, setelah itu melanggar lagi. “Kalau terpapar di bawah usia 46 tahun banyak sembuh tapi di atas 47 tahun ini sangat rentan apalagi punya komorbit,” bebernya dikutip Simbur.

Meski ada surat rapit tes, tetap tidak bisa melakukam mudik. “Covid-19 ini jangan dibawa mudik, saya ingatkan bukan untuk menakut-nakuti. Maka narasi Covid-19 ini keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi,” tukas kepala BNPB.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Sumsel Iriansyah SSos MM  mengatakan, Sumsel sebagai provinsi tinggi terkena pandemi hingga berujung kematian. Maka perlu adanya koordinasi dan evaluasi dalam penganan Covid-19.  “Selain menghadapi Covid-19, juga memasuki pergantian musim hujan ke musim kemarau, sehingga karhutla harus ditangani dengan baik. Maka kami mohon dukungan semua dalam pencegahan bencana alam ini,” kata Iriansyah, Rabu (5/5/21).

Demikian diungkap Wakil Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya. Wagub  mengatakan kita tahu akhir-akhir ini, dibanding provinsi lain yang Sumsel juga tertinggi dibanding dalam pandemi ini. “Kami ucapkan rasa terimakasih atas perhatiannya BNPB. Kami seluruh jajaran Satgas di Sumsel siap menerima arahan dan tugas sehingga dapat menurunkan angka Covid-19. Terjadi koordinasi dengan tidak menimbulkan permasalahan baru,” timbangnya.

Danrem Gapo Palembang Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji menegaskan, saat ini di Sumsel diketahui terbagi dalam tiga zona pandemi.  Untuk zona merah, yakni kota Palembang dengan 84 kelurahan, Kabupaten OKU Timur dengan 305 desa, dan Prabumulih 12 Desa.  Lalu zona orange, yakni kabupaten Banyuasin, Muara Enim, OKU, Lubuk Linggau, PALI, Muba, Lahat, OKU Selatan dan Mura. Serta wilayah masuk zona Kuning, Kabupaten 4 Lawang, OKI, Ogan Ilir, Muratara dan Pagaralam.

“Kami mengajak semua stakeholder hingga tingkat kepala desa untuk meningkatkan PPKM. Bila tidak dikendalikan Covid-19 akan sangat bahaya. Tingkat desa, kami memberdayakan desa tangguh, melakukan sosialisasi dan edukasi yang masif displin prokes ke tempat keramaian, pasar dan mall,” bebernya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Nuraini Lesty MKes meyebutkan, kenaikan Covid-19 dipengaruhi mobilitas dengan menumpuknya kegiatan di bulan Ramadan ini.  “Harapan kami pekan ini, tidak ada lagi zona orange atau merah. Setidaknya, masuk zona kuning kalau bisa menjadi zona hijau. Vaksinasi Covid sejak 14 Januari sudah kami lakukan, dengan terus melakukan strategi pengendalian pandemi, dari 3T dan 3M dimana vaksin saat ini habis, kita tidak bisa melakukan vaksinasi, sehingga mohon di-drop vaksinasi,” cetusnya. (nrd)