Dicari Emak, Dilarang Mendaki

PALEMBANG, SIMBUR –  Balai Registrasi Gunung Dempo Merapi atau Brigade kota Pagar Alam, Sumsel, terpaksa memberikan sanksi tegas, bagi 11 pendaki rombongan liar alias romli alias illegal. Pasalnya romli, nekad melanggar aturan larangan mendaki Gunung Dempo, yang dikeluarkan pihak Kepolisian Polres Pagar Alam dan Brigade kota Pagar Alam.

Sanksi larangan pendakian Gunung Dempo, terhadap pendaki romli, terhitung sejak tanggal 05 Januari 2021 – 05 Januari 2023. Hal itu dibenarkan Arindi selaku ketua Brigade kota Pagar Alam.

“Mereka melakukan pendakian tanggal 1 Januari 2021 sewaktu aktivitas pendakian ditutup.  Mereka tidak mengindahkan himbauan dan larangan pendakian dari kepolisian Polres Pagar Alam dan Brigade, dari tanggal 30 Desember 2020 – tanggal 3 Januari 2021,” ungkapnya kepada Simbur.

Sewaktu ibu dan paman salah satu pendaki melakukan pencarian di Brigade, tim bergerak melakukan penelusuran. Diketahui romli ini, sudah berada di puncak Gunung Dempo.

“Alhamdulilah tidak ada yang cidera, mereka sudah di puncak Gunung Dempo selama 3 hari. Mereka sudah 5 hari tidak pulang,” cetusnya,  Kamis (7/1).

Di Balai registrasi sendiri, status mereka registrasi kamping. “Statusnya kamping, namun mereka tetap nekad mendaki, padahal untuk pendakian Gunung Dempo di tutup,” timpalnya.

Terkait prediksi BMKG, di bulan Januari 2021, terjadi cuaca ekstreme dengan curah hujan tinggi, hingga berimbas di tutupnya aktivitas pendakian Gunung Dempo. Arindi mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi BMKG.

“Kita masih berkoordinasi dengan BMKG. Kalau suatu saat cuaca buruk, kita akan tutup pendakian,” timpal Arindi.

Desindra Deddy Kurniawan selaku kepala Stasiun Meteorologi SMB II Sumsel , saat dikonfirmasi Simbur, terkait prediksi cuaca ekstreme dengan curah hujan tinggi di bulan Januari 2021, tahun ini memang dilanda fenomena La Nina.

“Jadi memang tahun ini sedang dilanda La Nina. Tapi efeknya di sini tidak seperti terjadi dibagian timur dan tenggara.  Untuk bulan Januari ini, diprediksi curah hujan tinggi, dilihat dari fitur atmosfer,” ungkapnya.

Peluang hujan ekstrem memang ada, sekitar 20 mm perjamnya dan 50 mm perhari. “Untuk dataran tinggi cuaca ekstrem perlu diwaspadai, akan memicu longsor. Untuk aktivitas pendakian Gunung Dempo, pengamatan cuaca dari citra satelit, selalu kita rilis setiap hari. Kita sampaikan juga ke stake holder lainnya, seperti TNI, Polri dan BPBD,” tukasnya kepada Simbur.

Ada pun kronologis pendaki rombongan liar alias romli, terdata tanggal 29 Desember 2020, 6 orang melakukan registrasi di Balai Registrasi Gunung Dempo Merapi (Brigade, red), untuk camping.

Lalu tanggal 31 Desember 2020 mereka melakukan pendakian ke Gunung Dempo. Sementara tanggal 30 Gunung Dempo sudah dilakukan penutupan. Penutupan untuk pendakian dari tanggal 30 Desember 2020 – tanggal 3 Januari 2021.

Diketahui pada tanggal 04 Januari 2021, ibu dan paman salah seorang pendaki, melapor ke Brigade. Bahwa anak mereka sudah beberapa hari tidak pulang. Anak mereka juga berada antara Selter 1 dan Selter 2, meminta bantuan untuk dievakuasi.

Dengan berbekal laporan ini, Tim dari Brigade membagi menjadi 2 tim. Dengan tim 1 bergerak ke peraduan 1 dan tim 2 bergerak ke puncak Dempo. Namun tersiar informasi, bila mereka romli ini telah turun lewat Jalur Rimau, yang diketahui bukan jalur resmi atau illegal pendakian Gunung Dempo.

Brigade pun mengerahkan tim 3 untuk melakukan penjemputan, semula diketahui 6 orang, ternyata bertambah 11 orang. Sehingga 5 orang diketahui mendaki secara illegal.

Dianggap telah melakukan pelanggaran berat dan fatal. Yakni melanggaran peraturan telah dikeluarkan Polres Pagar Alam, adanya himbauan untuk tidak melakukan pendakian. Maka keputusan bersama Brigade. 11 pendaki romli ini dilarang melakukan pendakian Gunung Dempo ke depannya. Terhitung sejak tanggal 05 Januari 2021 – 05 Januari 2023. (nrd)