- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Sumsel Kembali Masuk Lima Besar Persentase Kematian Tertinggi
PALEMBANG, SIMBUR – Sumatera Selatan kembali masuk dalam lima besar provinsi dengan persentase kematian tertinggi di Indonesia akibat Covid-19. Hal itu diungkap Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.
Adapun kelima provinsi dengan kematian tertinggi, yakni Jawa Timur 7,24 persen, Nusa Tenggara Barat 5,64 persen, Sumatera Selatan 5,47 persen, Jawa Tengah 5,44 persen, dan Bengkulu 5,02 persen.
“Mohon dapat diperbanyak testing dan tingkatkan angka kesembuhan agar persentase ini dapat terus menurun,” ungkap Wiku saat konferensi pers penanganan Covid-19 di Istana Presiden, Selasa (27/10).
Wiku juga mengimbau provinsi yang masuk ke dalam lima besar kenaikan kematian tertinggi agar betul-betul dapat melaksanakan treatment atau penangan pasien Covid-19 dengan baik. “Utamanya pada pasien dengan gejala sedang dan berat serta pasien dengan komorbit,” harapnya.
Bukan hanya itu, Wiku meminta agar provinsi dimaksud meningkatkan kualitas rumah sakit untuk melayani pasien Covid-19. “Tingkatkan kualitas pelayanan Covid-19 di rumah sakit. Perbanuyak rumah sakit darurat jika diperlukan. Lakukan koordinasi dengan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan atau Satuan Tugas Covid-19 apabila memerlukan bantuan,” tegasnya.
Diketahui sebelumnya, Sumsel pernah masuk lima besar kasus kematian tertinggi pada 15 September 2020. Saat itu persentase kematian di Sumatera Selatan mencapai 5,94 persen. Sementara, Jawa Timur (7,25 persen), Jawa Tengah (6,45 persen), Bengkulu (6,44 persen), dan Nusa Tenggara Barat (5,89 persen).
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) telah melakukan monitoring evaluasi (monev) serta menyiapkan berbagai upaya untuk menurunkan persentase angka kematian akibat Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel), Dra Lesty Nurainy Apt MKes mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan rencana tindak lanjut.
Diharapkannya, rumah sakit dapat rutin meng-update data setiap hari. Di samping itu, kabupaten/kota menyiapkan tempat isolasi dan melakukan pengawasan ketat terhadap masyarakat yang isolasi mandiri. Menyikapi tingginya persentase angka kematian, jelas Lesty, Dinkes Sumsel meminta dilakukannya audit terhadap kematian yang terjadi di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) oleh semua rumah sakit rujukan yang ada di Sumsel.
“Kami minta rumah sakit melakukan audit mortality dan melaporkan hasilnya ke Dinkes Sumsel. Kami juga sudah melakukan monev seluruh pelayanan rumah sakit rujukan guna mengetahui apakah sudah sesuai standar pelayanannya untuk penanganan pasien Covid-19, termasuk manajemen klinisnya. Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap 48 rumah sakit rujukan yang ada di Sumsel,” terang Lesty.
Jika dilihat persentase yang meninggal akibat Covid-19 selama pandemi, diperoleh data kurang lebih 60 persen memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, jantung, paru-paru dan lainnya. Dengan persentase tertinggi hipertensi. “Kedepan diharapkan puskesmas melakukan pemetaan terhadap yang termasuk rentan ini agar dapat lebih diperhatikan. Selain itu, hal penting yakni pengawasan terhadap yang isolasi mandiri,” terangnya.(kbs/red)



