Media Massa Punya Andil Besar Akhiri Pandemi Covid-19

JAKARTA, SIMBUR – Media massa berperan penting dalam melakukan penyebaran informasi mengenai Covid-19. Tak hanya menyebarkan, media massa dapat menjangkau masyarakat secara luas. Informasi maupun pesan yang sampai diharapkan dapat dipahami untuk menumbuhkan kesadaran diri dan kolektif dalam mengakhiri penularan Covid-19.

TVRI sudah melakukan pemberitaan mengenai Covid-19 sejak awal pandemi ini masuk ke Indonesia. Komitmen ini juga ditunjukkan dengan pemberitaan yang konsisten hingga hari ini. “Rata-rata kami kirim 20-25 orang. Kemudian ada yang standby juga di studio 4 pemerintahan. Ketika menggunakan daring kami gunakan auditorium. Kami akan selalu mendukung kebijakan pemerintah,” jelas Usrin Usman, Direktur Program dan Berita LPP TVRI di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Jakarta, Senin (31/8).

TVRI sempat melakukan kebijakan kerja 80/20. Kebijakan ini mewajibkan 80 persen orang untuk melakukan kerja dari rumah (WFH) dan 20 persen lainnya dari kantor (WFO). Enam pegawai dari TVRI pernah terdeteksi positif Covid-19, dan TVRI segera melakukan langkah tepat dalam menanggapinya.

“Enam-enamnya langsung dibawa ke Wisma Atlet dan kami lockdown. Program kami re-run selama satu minggu. Namun tidak semua bisa re-run, terutama berita dan kita menerapkan kebijakan 80/20,” tambah Usrin.

Lebih lanjut, Usrin menambahkan bahwa penyebaran informasi yang dapat dilakukan tidak melulu harus berbentuk _hard news_. ILM (iklan layanan masyarakat), dokumenter singkat, atau film-film singkat yang berisikan informasi pencerahan mengai COVID-19 juga dapat dijadikan opsi utama. Usrin menekankan agar masyarakat tetap disiplin diri, terutama rekan-rekan jurnalis yang bekerja di lapangan.

Demikian halnya, RRI juga melakukan hal yang sama. Sejak 26 Maret 2020, kebijakan siaran RRI diarahkan sebagai Radio Tanggap Bencana Covid-19. “Karena kebijakan siaran ini, hampir 100 persen acara-acara siaran itu dikemas dengan konten bagaimana memberikan informasi yang benar, yang tepat, dan tidak meresahkan terkait penyebaran Covid-19 ini,” ujar Johanes Eko Priyanto, Kepala Bidang Kerjasama dan Multimedia Direktorat Progarm dan Produksi LPP RRI.

RRI melihat reporter sebagai kelompok yang sangat rentan terhadap penularan Covid-19 ini. Mobilitas yang tinggi, pergi ke rumah sakit, serta melakukan wawancara dengan narasumber dari berbagai latar belakang adalah hal-hal yang menjadikan alasan reporter sangat rentan. “Jadi kita fasilitasi masker, termasuk hand sanitizer, kemudian suplemen kesehatan,” jelas Johanes.

Johanes kemudian menambahkan bahwa selama masa pandemi ini, informasi yang bertebaran sangatlah banyak dan cepat, sehingga sebagai aktor yang bertanggung jawab atas penyebaran informasi, media tidak boleh lupa untuk tetap memberitakan informasi yang baik.

“Dan karena itu kita mengajak seluruh media. Mari kita tampilkan berita-berita yang betul-betul baik, jangan sampai berita itu meresahkan, membohongi, datanya harus akurat,” jelas Johanes sembari mengingatkan masyarakat untuk patuh dengan anjuran pemerintah, karena pemerintah ingin melindungi masyarakatnya.

Ninuk Mardiana Pambudy, redaktur senior Harian Kompas menyatakan bahwa membangun kesadaran atas Covid-19 merupakan tanggung jawab bersama dan media massa tidak lepas dari tanggung jawab tersebut. Sebagai media yang berperan dari lapangan, Ninuk menjelaskan penerapan protokol kesehatan serta 3M adalah kewajiban bagi rekan-rekan wartawan yang melakukan liputan. “Kalau di kantor ketat sekali. Jadi hanya 30 persen yang boleh masuk. Selalu menggunakan masker, jarak kerja juga dibatasi. Harus dimulai dari kita sendiri sebelum mengajak masyarakat,” jelas Ninuk.

Ninuk memberikan masukkan terhadap penanganan Covid-19 dengan mengurangi hal-hal yang berbau seremonial. Seremonial biasanya akan menimbulkan kerumunan yang seharusnya tidak terjadi selama masa pandemi ini. Menutup talkshow ini, Ninuk mengingatkan agar penyampaian berita tetap dilakukan dengan akruat, tidak mengecilkan hati, namun harus tetap objektif dan jujur.

Sementara itu, penanganan Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini melibatkan keterlibatan dan kerja sama dari banyak pihak. Termasuk upaya yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melalui Tim Komunikasi Publik.

Donny BU, perwakilan Satgas Penanganan Covid-19, mengungkapkan, dalam tim komunikasi publik terbagi lagi menjadi 7 tim yang melibatkan berbagai institusi berbeda. Salah satunya merupakan tim 3, yakni bertanggung jawab untuk mengelola konten infografik. “Komunikasi publik itu besar sekali aspeknya, salah satu komponen yang kami pegang yang kami kelola adalah untuk produksi konten-konten digital infografis khususnya,” ucap Donny di Graha BNPB, Jakarta, Senin (31/8).

Selain membuat konten-konten digital, tim 3 yang terdiri dari relawan-relawan anak muda turut memetakan kondisi saat ini melalui harian cetak, media sosial, serta dokumen dan laporan situasi Satgas Penanganan Covid-19. Tim Komunikasi Publik yang tergabung dalam _risk communication and community engagement_ dituntut dalam profesionalisme dan penuh kehati-hatian.

“Itu salah kata satu, bisa panjang urusannya. Dampaknya pada orang yang baca. Oh berarti orang akan mengikuti contoh yang salah dong, akan mengikuti data yang salah. Jadi kami melakukan check-and-recheck,” kata Donny yang juga tergabung dalam ICT Watch.

Savero Karamiveta Dwipayana, Tim Relawan Komunikasi Publik Satgas Penanganan COVID-19, menjelaskan bahwa konten digital yang belakangan ini diproduksi dikemas lebih ringan agar mudah diterima oleh masyarakat.

Dengan menargetkan masyarakat umum, produksi konten yang dibuat oleh Tim Komunikasi Publik disesuaikan dengan isu terkini serta menggunakan gaya bahasa yang juga menyesuaikan pada penerima informasi nantinya.

Tim Komunikasi Publik yang dibentuk, didasarkan oleh kepentingan media literasi, social learning, dan difusi-informasi yang diakibatkan oleh perubahan perilaku yang harus diterapkan oleh masyarakat dalam protokol kesehatan.

Penyampaian informasi mengenai teknis yang terus berubah-ubah terkait protokol kesehatan dan informasi terbaru seputar Covid-19 dianggap susah untuk disampaikan kepada anak-anak muda.

“Di anak muda sekarang ini orang banyak yang sadar sama Covid, banyak juga orang-orang yang merasa kok Covid lama ya engga beres-beres, tapi dirinya sendiri masih nongkrong, tetep jalan sama temennya, keluar dan engga pakai masker,” terang Savero.

Kedisiplinan dalam mematuhi protokol kesehatan harus dibentuk dari diri sendiri untuk menyelesaikan pandemi ini bersama-sama. Karena mengubah kebiasaan-kebiasaan lama merupakan sebuah hal yang sulit, apabila tidak ada kemauan dari diri sendiri dan kepedulian terhadap orang lain.(red)