- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Sepuluh Kabupaten di Sumsel Rawan Karhutla
PALEMBANG, SIMBUR – Sepuluh daerah di Provinsi Sumatera Selatan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu diungkap Kepala BPBD Sumsel, Iriansyah saat Rapat Koordinasi Kesiapan Penanganan Karhutla Provinsi Sumsel di Ruang Catur Prasetya Polda Sumsel, Rabu (17/6).
“Sepuluh kabupaten rawan Karhutla yaitu OKI, Muba, Ogan Ilir, Muara Enim, Mura, Muratara, Pali, OKU dan OKU Timur dan Banyuasin. Kabupaten OKI, Muba, dan Banyuasin merupakan yang terbanyak hotspot,” ungkap Iriansyah.
Upaya antisipasi, lanjut dia, pemberdayaan masyarakat desa harus ditingkatkan sehingga ada desa yang mengalokasikan dana desanya lewat BPMD untuk pencegahan karhutla. “Para forkopimda harus disiapkan dan satgas harus dibentuk di tingkat desa. Diperlukan patroli udara untuk mengetahui real time titik hotspot,” jelasnya.
Iriansyah menambahkan, titik hotspot dari Januari hingga April 2020 cukup banyak. Akan tetapi, titik hotspot di bawah 80 persen merupakan titik panas, bukan fire spot di atas 80 persen yang perlu penanganan segera. “Diharapkan perusahaan-perusahaan segera membentuk regu pemadam kebakaran (RPK), embung sekat kanal di 10 kabupaten rawan karhutla,” imbaunya.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri mengatakan, karhutla sudah setiap tahun terjadi. Maka itu, dalam menanggulanginya dilakukan rapat kesiapan. “Beberapa hari kamarin saya sudah mengecek kekuatan personel dan ketersedian peralatan untuk digunakan karhutla. Akan tetapi, alat ini sebagai konsep terakhir. Dengan harapan karhutla tidak terjadi tahun ini,” kata Kapolda.
Dalam strategi pencegahan, lanjut Kapolda, harus mencegahnya agar tidak terjadi karhutla. “Ini bisa dilakukan secara bersama. Kami juga sudah menyebarkan maklumat kepada masyarakat tentang dampak dan bahayanya karhutla. Bahkan kami juga sudah membangun kampung tangkal covid relawan peduli karhutla,”papar Kapolda.
Danrem 044/Gapo Brigjen Tni Jauhari Agus Suraji S.I.P, S.sos, menyampaikan, harus ada reward dan punishment kepada desa yang ada titik api maupun sedikit. “Peralatan harus segera diinventarisir mana yang kurang,” ungkapnya.
Senada diungkap Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan. Menurut Pangdam, penanganan karhutla ini yang diutamakan adalah pencegahan. Dalam pencegahan ini, Pangdam sudah menyiapkan seribu personel. “Kami sudah siapkan seribu personel. Kalau kurang kami tambah lagi. Intinya kami sudah menyiapkan. Terlebih kami juga sudah membentuk subsatgas di kabupaten/kota. Ini tinggal berjalan saja,” tuturnya.
Sementara, Wakil Gubernur Sumsel H. Mawardi Yahya mengatakan, karhutla ini sudah menjadi tugas bersama karena ini terjadi dari tahun ke tahun. Tinggal bagaimana komitmen dalam penanganannya. “Jadi bagaimana komitmen bersama dalam mengantipasi dan menangani. Saya kira tahap pertama mengantisipasi dengan langkah-langkah ke hot spot di desa-desa. Mungkin dari sana dilakukan,” ungkap Wagub.
Wagub menilai jika penanganan karhutla ini dilakukan dengan cara bersama-sama tentu dapat dengan mudah ditangani. Pemprov Sumsel sudah siap untuk mengantisipasi Karhutla ini. “Saya yakin apabila semua tanggung jawab mulai dari tingkat provinsi, kabupaten sampai ke desa, karhutla ini bukanla hal yang berat. Secara nyata, segala kekuatan dan tenaga dicurahkan dalam penanganan karhutla. Langkah- langkahnya lakukan pencegahan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi mengatakan, penetapan status siaga bencana karhutla lebih dini, dirinya pun optimis pemerintah dapat mengatasi, mencegah dan meminiimalisir terjadinya kebakaran. Apalagi Sumsel menjadi salah satu provinsi yang rawan terjadi karhutla. Untuk di Kabupaten Muba akan lebih berkomitmen mengantisipasi dan penanganan cepat jika terjadi karhutla.
“Wilayah kami banyak lahan gambut. Kami tak ingin kembali terulang karhutla yang luasan terbakarnya cukup banyak. Pengendalian karhutla harus matang di semua kecamatan dalam wilayah Muba. Persiapan pasti harus lebih matang sebelum memasuki musim kemarau,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Ogan Komering Ilir, H Iskandar SE mengatakan, pemerintah dan masyarakat OKI siap berkolaborasi dalam penanganan karhutla. Bupati mengingatkan kepada seluruh masyarakat OKI untuk mencegah karhutla. “Bagi masyarakat OKI harus menghindari dan mencegah kebakaran secara bersama-sama. Kami mohon kepada pemerintah desa dan petinggi-petinggi yang masuk dalam stakeholder untuk sama-sama mengajak, membina, mengedukasi warga mencegah terjadinya karhutla,” tandasnya. (kbs/red/wom)
PALEMBANG, SIMBUR – Sepuluh kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal itu diungkap Kepala BPBD Sumsel, Iriansyah saat Rapat Koordinasi Kesiapan Penanganan Karhutla Provinsi Sumsel di Ruang Catur Prasetya Polda Sumsel, Rabu (17/6).
“Sepuluh kabupaten rawan Karhutla yaitu OKI, Muba, Ogan Ilir, Muara Enim, Mura, Muratara, Pali, OKU dan OKU Timur dan Banyuasin. Kabupaten OKI, Muba, dan Banyuasin merupakan yang terbanyak hotspot,” ungkap Iriansyah.
Upaya antisipasi, lanjut dia, pemberdayaan masyarakat desa harus ditingkatkan sehingga ada desa yang mengalokasikan dana desanya lewat BPMD untuk pencegahan karhutla. “Para forkopimda harus disiapkan dan satgas harus dibentuk di tingkat desa. Diperlukan patroli udara untuk mengetahui real time titik hotspot,” jelasnya.
Iriansyah menambahkan, titik hotspot dari Januari hingga April 2020 cukup banyak. Akan tetapi, titik hotspot di bawah 80 persen merupakan titik panas, bukan fire spot di atas 80 persen yang perlu penanganan segera. “Diharapkan perusahaan-perusahaan segera membentuk regu pemadam kebakaran (RPK), embung sekat kanal di 10 kabupaten rawan karhutla,” imbaunya.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri mengatakan, karhutla sudah setiap tahun terjadi. Maka itu, dalam menanggulanginya dilakukan rapat kesiapan. “Beberapa hari kamarin saya sudah mengecek kekuatan personel dan ketersedian peralatan untuk digunakan karhutla. Akan tetapi, alat ini sebagai konsep terakhir. Dengan harapan karhutla tidak terjadi tahun ini,” kata Kapolda.
Dalam strategi pencegahan, lanjut Kapolda, harus mencegahnya agar tidak terjadi karhutla. “Ini bisa dilakukan secara bersama. Kami juga sudah menyebarkan maklumat kepada masyarakat tentang dampak dan bahayanya karhutla. Bahkan kami juga sudah membangun kampung tangkal covid relawan peduli karhutla,”papar Kapolda.
Danrem 044/Gapo Brigjen Tni Jauhari Agus Suraji S.I.P, S.sos, menyampaikan, harus ada reward dan punishment kepada desa yang ada titik api maupun sedikit. “Peralatan harus segera diinventarisir mana yang kurang,” ungkapnya.
Senada diungkap Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan. Menurut Pangdam, penanganan karhutla ini yang diutamakan adalah pencegahan. Dalam pencegahan ini, Pangdam sudah menyiapkan seribu personel. “Kami sudah siapkan seribu personel. Kalau kurang kami tambah lagi. Intinya kami sudah menyiapkan. Terlebih kami juga sudah membentuk subsatgas di kabupaten/kota. Ini tinggal berjalan saja,” tuturnya.
Sementara, Wakil Gubernur Sumsel H. Mawardi Yahya mengatakan, karhutla ini sudah menjadi tugas bersama karena ini terjadi dari tahun ke tahun. Tinggal bagaimana komitmen dalam penanganannya. “Jadi bagaimana komitmen bersama dalam mengantipasi dan menangani. Saya kira tahap pertama mengantisipasi dengan langkah-langkah ke hot spot di desa-desa. Mungkin dari sana dilakukan,” ungkap Wagub.
Wagub menilai jika penanganan karhutla ini dilakukan dengan cara bersama-sama tentu dapat dengan mudah ditangani. Pemprov Sumsel sudah siap untuk mengantisipasi Karhutla ini. “Saya yakin apabila semua tanggung jawab mulai dari tingkat provinsi, kabupaten sampai ke desa, karhutla ini bukanla hal yang berat. Secara nyata, segala kekuatan dan tenaga dicurahkan dalam penanganan karhutla. Langkah- langkahnya lakukan pencegahan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi mengatakan, penetapan status siaga bencana karhutla lebih dini, dirinya pun optimis pemerintah dapat mengatasi, mencegah dan meminiimalisir terjadinya kebakaran. Apalagi Sumsel menjadi salah satu provinsi yang rawan terjadi karhutla. Untuk di Kabupaten Muba akan lebih berkomitmen mengantisipasi dan penanganan cepat jika terjadi karhutla.
“Wilayah kami banyak lahan gambut. Kami tak ingin kembali terulang karhutla yang luasan terbakarnya cukup banyak. Pengendalian karhutla harus matang di semua kecamatan dalam wilayah Muba. Persiapan pasti harus lebih matang sebelum memasuki musim kemarau,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Ogan Komering Ilir, H Iskandar SE mengatakan, pemerintah dan masyarakat OKI siap berkolaborasi dalam penanganan karhutla. Bupati mengingatkan kepada seluruh masyarakat OKI untuk mencegah karhutla. “Bagi masyarakat OKI harus menghindari dan mencegah kebakaran secara bersama-sama. Kami mohon kepada pemerintah desa dan petinggi-petinggi yang masuk dalam stakeholder untuk sama-sama mengajak, membina, mengedukasi warga mencegah terjadinya karhutla,” tandasnya. (kbs/red/wom)



