Habis Rp84,7 Miliar, Gugus Tugas Sumsel Kembali Ajukan Anggaran Covid-19

# Dipakai untuk Tracing, Testing, dan Treatment

PALEMBANG, SIMBUR – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan, khususnya di bidang kesehatan telah menghabiskan anggaran Rp84,7 miliar. Hal itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dra Lesty Nurainy Apt MKes saat konferensi pers bersama pakar kesehatan lainnya, Selasa (9/6).

“Anggaran untuk penanganan Covid-19 bidang kesehatan Rp84,7 miliar. Sampai saat ini realisasinya ada dua, secara fisik dan keuangan. Secara fisik lebih dari 90 persen tercapai. Secara keuangan, masih dalam administrasi pembayaran. Barang yang kami pesan sudah digunakan dan didistribusikan,” ungkap Lesty.

Kadinkes menjelaskan, pengalokasian anggaran tersebut menyentuh tiga ranah penanganan Covid-19 yakni tracing (penelusuran kontak), testing (pemeriksaan PCR), dan treatment (perawatan dan peningkatan imunitas). Untuk tracing, termasuk pembelian APD (alat pelindung diri). Untuk testing pengadaan bahan laboratorium untuk membantu peralatan yang diberikan kepada BBLK Palembang. Tujuannya agar lebih cepat melakukan pemeriksaan spesimen. Untuk treatment, pemerintah provinsi menyiapkan tempat karantina, yakni di Wisma Atlet Jakabaring.

“Ini memerlukan biaya yang tidak kecil,” ujar Lesty seraya menambahkan, fungsi Dinkes provinsi bagi kabupaten/kota hanya sebatas supporting. “Mengingat kabupaten/kota punya anggaran sendiri,” ungkapnya.

Kadinkes menerangkan, anggaran tersebut masih tidak cukup dan hanya bertahan sampai Juni 2020. “Sekarang kami mengajukan pengganggaran kembali,” imbuhnya sembari mengatakan, pihaknya juga mengajukan alat kesehatan secara bertahap.

Pada prinsipnya, lanjut Lesty, anggaran digunakan juga untuk kabupaten/kota yang mengajukan bantuan ke provinsi. Termasuk insentif tenaga kesehatan dan Wism Atlet yang baru dibayarkan satu bulan. Laboratorioum juga perlu reagen. Mengingat tracing yang agresif. Sementara, bantuan dari pusat tidak mencukupi. Kebutuhan RSMH dan rumah sakit lainnya juga cukup besar.

Ditanya mobile swab, Lesty menjawab belum dilaksanakan di Sumsel. Menurut dia, pihaknya sudah mengajukan bantuan ke BNPB. “Suratnya baru ditandatangani Gubernur tiga hari lalu. Kami berupaya untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi (PAEI) Cabang Sumsel Hibsah Ridwan mengatakan, pihaknya mencoba menganalisis percepatan penanganan Covid-19 di Sumsel. Menurutnya, pemutusan mata rantai Covid-19 bisa dilakukan dengan tiga cara. Mencegah masuk dari orang lain, orang yang terjangkit penyakit tidak menularkan, dan mempertahankan imunitas. Dikatakannya, ada tiga indikator peralatan kesehatan yang harus dikaji. “Dari laporan terakhir, Sumsel memiliki kasus tertinggi di Pulau Sumatera. Itu berarti tandanya tes kami aktif. Ada kegiatan survailance yang masif,” terangnya.

Pada minggu ketiga tanggal 25 Mei 2020, lanjutnya, tercatat ada 812 kasus positif. Kemudian pada minggu pertama tanggal 7 Juni 2020 menjadi 1.129 kasus. “Artinya ada peningkatan 39,04 persen. Adanya tracing dan testing yang baik hasil pemeriksaan laboratorium maka akan mempercepat penanganan kasus yang lebih baik,” jelasnya.

Selanjutnya, untuk probale (jumlah OTG, ODP, dan PDP) juga dilaporkan meningkat. Pada minggu ketiga tanggal 25 Mei 2020,  tercatat ada 10.742 kasus positif. Kemudian pada minggu pertama tanggal 7 Juni 2020 menjadi 14.340 kasus. “Ada peningkatan kasus sebesar 33,49 persen. Artinya pemeriksaan (testing) di Sumsel itu baik. Dilakukan sebanyak tiga kali,” ujarnya.

Untuk tren kematian juga terjadi penurunan. Pada tanggal 6 Mei 2020, tercatat ada 6 orang hingga tanggal 25 Mei 2020 ada 28 orang. Terdapat penambahan 22 kasus meninggal. Kemudian,  tanggal 7 Mei 2020, tercatat ada 28 orang hingga tanggal 7 Juni  2020 ada 42 orang. Terdapat penambahan 14 kasus meninggal. “Ada penurunan kasus meninggal 36,36 persen. Artinya penanganan kasus baik dan konfirmasi kasus positif juga cepat,” ungkapnya

Dia menambahkan tren kematian probable PDP di Sumsel meningkat 118,18 persen. Angka kematian covid akibat penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus tergolong tinggi sehingga menyebabkan kematian cukup tinggi. “Kematian banyak terjadi pada risiko tinggi. Karena itu, OTG perlu diawasi agar tidak menularkan pada pasien berisiko tinggi,” tegasnya.

Dari semua itu, sambungnya, angka penularan Covid-19 bisa dilihat dari dua model parameter. Pertama, contact rate 6,45 pada 4 Juni 2020 dan 6,16 pada 8 Juni 2020. Kedua, reproduction number 1,29 pada 4 Juni 2020 dan 1,23 pada 8 Juni 2020. “Survei dari kontak race. Angka penularan naik setelah dilakukan pelonggaran PSBB terutama daerah yang sulit dikendalikan seperti pasar tradisional,” tutupnya.

Sementara, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel Prof Yuwono MBiomed memaparkan, kasus positif Covid-19 di Sumatera Selatan menjadi 1.188 orang. Ada penambahan 30 kasus baru pada hari Selasa, 9 Juni 2020.

“Kasus konfirmasi positif baru per hari ini tanggal 9 Juni 2020 mengalami penambahan sebanyak 30 orang sehingga total kasus menjadi 1.188 orang. Terdiri dari  Palembang 13 orang, Banyuasin 7 orang, Pali 2 orang, Ogan Ilir 5 orang, dan dari luar Sumsel 3 orang,” ungkap Prof Yuwono.

Menurut Yuwono, jumlah kasus positif hari ini 1.188 dibagi dua. Pertama kasus yang sudah ditutup atau closed cases, kasus yang meninggal 43 dan yang sembuh 444 orang. Kedua kasus yang masih aktif 701 orang.

“Artinya  ada progres bahwa kami tidak diam tapi tetap dengan penanganan yang terbaik, yakni dengan tiga hal tadi. Tracing melacak seberapa banyak yang kontak, testing atau pemeriksaan masif PCR, dan treatment dengan penanganan yang tepat,” tegasnya.

Yuwono juga mengatakan, ada kabar gembira bahwa jumlah yang sembuh terus meningkat. Tes PCR sudah lebih cepat. Dalam tiga hari sudah dikeluarkan hasilnya dan bisa divalidasi. “Itu berdampak pada manajemen treatment sehingga jumlah pasien yang sembuh semakin meningkat,” harapnya.

Meski demikian, lanjut Yuwono, ada tantangan nilai Rt. Di Palembang masih di angka 1,2. Yuwono meminta gugus tugas harus terus berusaha agar lebih kencang lagi hingga angkanya bisa di bawah 1.

Dirincikannya,  jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 7.071 orang, selesai dalam pantauan 5.172 orang, dan masih dipantau sebanyak 1.899 orang. Sementara, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 701 orang. Sebanyak 286 sudah selesai pengawasan, serta masih dalam pengawasan 415 orang.

Total kasus sembuh sebanyak 444 orang. Ada penambahan kasus sembuh 53 orang yang tersebar dari beberapa daerah di Sumsel. “Rinciannya 11 orang dari Palembang, 19 orang dari Ogan Ilir, 14 orang dari OKU, 3 orang dari Prabumulih, 2 orang dari Mura, 3 orang dari Banyuasin, 1 orang dari Muara Enim,” katanya sembari menambahkan, kasus pasien meninggal 43 orang. “Ada penambahan 1 kasus meninggal,” ucapnya.

Menurut Kepala BBLK Dr. Andi Yussianto saat ini saat ini kemampuan pemeriksaan Laboratorium BBLK meningkat menjadi 550 sampai 800 per hari, setelah mendapat bantuan alat PCR dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. “Setelah mendapat bantuan alat PCR dari Pemerintah Provinsi Sumsel sekarang kemampuan pemeriksaan laboratorium BBLK meningkat menjadi 550- 800 perhari,” ujarnya.(tim)