Beda New Normal Life dengan Herd Immunity Menurut Pakar Virus

PALEMBANG, SIMBUR – Fase lanjutan pascapademi Covid-19, masyarakat dunia dihadapkan dengan dua pilihan, yakni New Normal Life atau Herd Immunity. Indonesia, khususnya Sumatera Selatan lebih tepat memilih New Normal Life seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo. Berikut perbedaan New Normal Life menurut pakar virus sekaligus juru bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan, Prof Dr Yuwono MBiomed ketika dikonfirmasi Simbur, Selasa (26/5).

Menurut Prof Yuwono, New normal life digagas WHO, bukan dari Presiden, gubernur, bupati/wali kota. Latar belakang New Normal Life, jelasnya, Covid-19 akan tetap eksis beredar di masyarakat paling singkat lima tahun ke depan.

Prof Yuwono menjelaskan, masyarakat tidak mungkin terus sembunyi di rumah dan serba ketakutan. Kematian akibat covid tidak bisa dicegah. Sebaliknya, kalau dihadapi secara ngawur justru jumlah kematian akan lebih besar.

“Jalan tengah hidup normal dengan menambah satu komponen. Kalau dulu manusia hidup bersama hewan dan tumbuhan sekarang ditambah Covid-19. Bukan berdamai tapi hidup bersama Covid-19. Sumsel akan memilih New Normal Life seperti kebijakan Presiden,” tegasnya.

Yang paling penting, lanjut Yuwono, masyarakat sudah mulai menunjukkan tanda-tanda memiliki pola hidup normal baru selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Masyarakat sudah mulai pakai masker, jaga jarak. Harus dimulai semua pihak. Berita juga harus mendorong pemerintah. Kalau pemerintah tidak gerak cepat apalagi masa PSBB, ya gak sadar-sadar. Pemerintah yang tanggung jawab,” serunya.

Penerapan New Normal Life ke depan bisa saja diimbangi dengan rutin melakukan tes PCR.
Yuwono menganalogikan dengan Jakarta, siapa saja yang masuk ibu kota harus tes PCR untuk mengetahui pendatang itu positif atau negatif. “Jadi jelas siapa yang harus diwaspadai. Orang yang positif kurung. Diobati sampai negatif dan sembuh. Yang negatif, bebaskan,” tegasnya.

Terkait pemeriksaan sampel hasil tes PCR di Sumsel, sambung Yuwono, juga harus ditingkatkan. Pasalnya, BBLK punya kapasitas memeriksa 500 sampel. Utang sampel 3.000. Sampel masuk 500. Sama saja impas dan utang tetap 3.000 sampel. “Di Palembang tes PCR akan dibuatkan di RS Fatimah. Harapan saya Juni, yang mesti diperiksa itu habis. Kalau habis bisa tenang,” tegasnya.

Sementara, Prof Yuwono menilai
masyarakat masih banyak yang salah paham tentang herd immunity. Dijelaskannya, herd immunity bahasa Indonesianya imunitas masyarakat. “Artinya terbentuknya imunitas pada tingkat masyarakat,” jelas Yuwono.

Menurut Yuwono, ambang batas herd immunity diukur dari tingkat penularan suatu virus, di mana RO merupakan angka rata-rata seseorang yang terinfeksi akan menginfeksi orang lain dalam sebuah populasi yang tidak kebal virus. Misal Covid-19 penularan atau reproduksi (RO) 2-5. “Artinya 1 orang bisa menularkan 2-5 orang. Dengan angka seperti itu batas terbentuknya herd immunity pada Covid-19 ini apabila 50-80 persen masyarakat punya imunitas,” paparnya.

Lantas salah pahamnya di mana? Yuwono menerangkan, dikira herd immunity hanya mengandalkan vaksin. Menurutnya, herd immunity bukan semata didapat dari vaksin tapi juga bisa didapat alami sejak lahir. Entah berapa persen. Perkiraannya imunitas manusia normal sekitar 20 persen. Kalau diperlukan 50 persen, sudah ada 20 persen jadi tinggal 30 persen. “Walaupun tidak ada gerakan, sebenarnya herd immunity sudah terbentuk karena pemberian dari Yang Mahakuasa,” imbuhnya.

Herd immunity, terangnya, bisa terbentuk karena orang terpapar tapi sembuh. Yang positif di atas 90 persen itu OTG. Artinya, menurut Yuwono, kesempatan untuk sembuh besar. Begitu sembuh dia menyumbang prosentase herd immunity. “Bagi yang salah paham banyak beranggapan bahwa yang kuat tetap hidup dan yang lemah akan mati. Bukan itu maksudnya (herd immunity),” tegas Yuwono.

Dijelaskan, herd immunity justru yang kuat 50-80 persen itu akan menjadi tameng atau benteng bagi yang lemah. Itu mekanisme herd immunity. “Ada usaha mengarah herd immunity tapi yang jadi masalah vaksinnya tidak ada,”ujarnya.

Diterangkannya pula, semua penyakit bukan hanya Covid-19 yang berhubungan dengan DNA pasti berhubungan juga dengan ras. Menurut Yuwono, berdasarkan laporan WHO di atas 80 persen rentan terpapar Covid-19 itu pada ras Kaukasia, yakni orang Eropa dan Amerika. Kedua, ras Meditarenia, yakni Arab, Iran, Spanyol sekitar 8 persen. Ketiga orang Pasifik, yakni Korea, Jepang, Cina sekitar 3 persen. “Selanjutnya Afrika. Di atas Afrika adalah orang Asia Tenggara,” tandasnya.(maz)