Meski Zero Covid-19, Sumsel Tetap Perlu Rapid Test

PALEMBANG, SIMBUR – Gubernur Herman Deru mengklaim Provinsi Sumatera Selatan berstatus zero Covid-19. Karena itu, Menteri Dalam Negeri Prof H. Muhammad Tito Karnavian PhD mengapresiasi kesiapsiagaan Sumsel menghadapi Pandemi Covid-19 dapat menjadi model percontohan daerah lain.

Menurut Tito, dari paparan yang disampaikan Gubernur terlihat jelas bahwa Pemprov Sumsel dan jajaran sudah melakukan langkah antisipasi yang cepat dengan mengeluarkan edaran-edaran sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19 sejak akhir Januari.

Tak hanya itu untuk mencegah Covid menyebar ke Sumsel Pemprov juga dikatakannya telah membentuk gugus tugas yang diketuai kepala BPBD bekerjasama dengan segenap unsur terkait di bawahnya yang bekerja sesuai protap dan SOP gugus tugas pusat  termasuk edukasi masyarakat sampai upaya mitigasi. Oleh karena itu Tito berharap Sumsel tetap dapat mempertahankan zero Covid-19 dan Penanganan Sumsel ini bisa menjadi model percontohan bagi daerah lain.

“Dari paparan pak Gubernur saya melihat, berita baik yang saya dengar Sumsel meskipun ada ODP namun sementara yang positif masih nol. Dan tingkat kematian juga nol. Ini berita baik, Saya kira untuk Sumsel. Namun tanpa bermaksud membuat masyarakat menjadi khawatir  juga perlu waspada dan antisipasi,” tegas Tito usai rapat kesiapsiagaan penanganan Corona Virus Disease-19 (Covid) di wilayah Provinsi Sumsel, di Griya Agung Sabtu (21/3) siang.

Kewaspadaan itu, lanjut Tito, patut ditingkatkan oleh segenap masyarakat Sumsel karena data tersebut masih kemungkinan berubah. Tito mengajak masyarakat untuk berpikir overestimate agar masyarakat lebih siap melakukan antisipasi. Hal itu bukan untuk menakut-nakuti, karena untuk mendapatkan kejelasannya sebentar lagi akan didatangkan rapid tes ke daerah untuk dilakukan pemeriksaan. “Dari situ juga akan dapat peta bahwa daerah Sumsel ini apakah ada yang terpapar Covid atau tidak,” tambah Tito.

Selain meningkatkan kewaspadaan, Tito juga mengimbau warga untuk senantiasa berdoa agar tidak ada yang sampai terpapar Covid-19.  Serta tetap menggencarkan langkah-langkah antisipasi sembari menunggu rapid tes tersebut dengan mengedukasi masyarakat luas tentang bahaya Covid-19.

Masyarakat menurutnya perlu diberikan pemahaman soal bagaimana mengantisipasi dengan proteksi kekebalan tubuh sendiri dan terpenting cara agar tidak sampai tertular. Karena seperti diketahui Covid-19 sudah menjalar ke 158 negara dari 193 negara yang ada.

“Itulah poin terpenting.  Ini bisa dilakukan perorangan, tiap orang miliki kesadaran kemudian lakukan proteksi diri sendiri. Cuci tangan dengan sabun karena cuci tangan dengan air tidak cukup. Perkuat daya tahan tubuh penting, karena ini virus bisa matinya hanya dengan kekebalan tubuh kita,”  tambah Mendagri.

Kemudian mengkampanyekan olahraga di rumah agar  tetap menjaga jarak,  mengonsumsi vitamin. Serta menghindari berjabat tangan dan bersentuhan bahkan melakukan kontak langaung. “Perlu juga ada upaya untuk  membunuh virus dengan beberapa cara menyediakan desinfektan yang murah meriah di tempat-tempat publik,” terangnya.

Edukasi lain yang dapat dilakukan kata Tito adalah melalui medsos. Karena masih banyak menurutnya masyarakat yang belum sepenuhnya paham penularan Covid-19 yang begitu cepat. Sampai saat ini masih  banyak ditemukan kegiatan baik sosial maupun keramaian lainnya yang justru menjadi sarana penularan yang lebih cepat.

Virus itu kata Tito menular cepat sekali. Oleh karena itu kegiatan mesti dibatasi semaksimal mungkin. Termasuk kerumunan besar tidak boleh dilaksanakan termasuk, kegiatan seni, olahraga demikian juga kegiatan bernuansa keagamaan. Dicontohkannya kasus Petaling Kuala Lumpur yang menular ke sekitar 600 orang juga kegiatan di Gereja di Korsel.

“Bukan kegiatan agamanya dilarang tapi ini bisa menjadi media penularan. Mau kegiatan apa saja tetap ada buat kebijakan menjaga jarak, kalau tidak bisa maka sebaiknya tidak dilaksanakan. Daripada menjadi mesin penular  dan pembunuh di luar orang lain dari kerumunan itu. Karena penyebaran cepat,” ujarnya.

Mengenai kegiatan ASN atau anak sekolah, Mendagri mengimbau agar sekolah sedapat mungkin dilakukan dari rumah namun bukan libur. Walaupun dari rumah tetap bisa bekerja dan belajar dengan menggunakan berbagai sarana komunikasi. “Ini bisa digunakan, bisa diatur oleh kepala dinas atau kepala kantor masing-masing sesuai urgensinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel H.Herman Deru mengatakan rapat ini merupakan breakdown dari pusat ke daerah. Untuk itu pihaknya akan tetap melakukan social distancing namun tetap produktif. “Itu akan segera kami atur. Rapat hari ini kami maknai kesiapsagaan ini tentang bagaimana upaya mengurangi kontak fisik. Misal anak sekolah belajar dari rumah jadi bukan libur,” jelasnya.

Untuk ASN, akan diserahkan ke masing-masing Satker disesuaikan dengan kebutuhan kantor tersebut termasuk soal berapa pegawai yang bisa melakukan pelayanan dan operasional. “Segera akan saya panggil semua ketua Ormas Keagamaan, perguruan tinggi dan lainnya. Kami ajak duduk bersama bersatu melawan  agar virus ini tidak masuk ke Sumsel. Mengenai alokasi dana kami tidak akan membatasi dan membuat limit  tertentu untuk kebutuhan ini. Agar Sumsel tetap Zero Covid-19 bahkan siap realokasi dana,” tutupnya.(kbs)