Kembangkan Seni Teater dan Film

PALEMBANG, SIMBUR – Ratusan mahasiswa, pelajar, dan umum memadati Aula Prof Bochari Rachman Kampus Utama Universitas Bina Darma Palembang, Rabu (11/12) sekitar pukul 14.00 WIB. Penonton pun terpukau menyaksikan pementasan teater yang digelar mahasiswa semester lima Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP dan Bahasa Universitas Bina Darma Palembang.

Pementasan teater yang mengusung lakon “Wek-Wek” karya Anton P Chekov saduran Iwan Simatupang itu merupakan salah satu bentuk ujian praktik mahasiswa pada akhir semester. Pertunjukan tersebut sekaligus membuka rangkaian kegiatan Prasasti Bina Darma Prime Week 2019.

Dekan FKIP dan Bahasa Prof Waspodo MEd PhD mengatakan, kegiatan konsorsium ini merupakan kolaborasiĀ  beberapa fakultas yang ada di Universitas Bina Darma Palembang. “Awalnya ini mata kuliah pementasan drama. Dengan inisiatif, hampir semua kerja sama mendapat dukungan dari program studi. Ini menunjukkan Bina Darma satu kesatuan dan tak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

Prof Waspodo juga mengusulkan agar pihak universitas dapat membentuk unit kegiatan mahasiswa (UKM) teater di kampusnya. “Saya sudah usul pada rektor agar ada UKM teater. Mahasiswa nanti mungkin bisa menjadi bintang film. Kami tidak menduga banyak pihak bisa tertarik,” imbuhnya.

Senada diungkap Wakil Rektor I Universitas Bina Darma Palembang, M Izman Hendriady ST MM PhD. Dikatakannya, pihak universitas menyambut usulan Prof Waspodo untuk membentuk UKM teater. “UKM merupakan wadah kreativitas. Sekarang semua mengedepankan kreativitas. Di luar prodi bahasa dan ilmu komunikasi agar dapat mengikuti latihan teater,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut Izman, Bina Darma punya televisi. Menurut dia menghasilkan konten tidak mudah. Kalau punya konten tentu akan lebih banyak program. “Kegiatan yang merupakan inisiasi perkuliahan ini kami atur menjadi lebih baik dalam hal pementasan seni,” tutupnya.

Diketahui, drama Wek-Wek yang dikenal selama ini kental dengan nuansa Jawa dipentaskan dengan adaptasi teater tradisi bangsawan khas Sumatera Selatan. Pentas teater yang disutradarai Komang Ela Sakayani ini mengadaptasi tokoh-tokoh punakawan dalam lakon itu yakni Petruk, Bagong, Gareng, dan Semar menjadi tokoh dalam teater bangsawan yang terdiri dari Abdul Muluk, Saudagar, Penasihat, dan Ratu.

Kisah bermula ketika Bedul, sapaan Abdul Muluk yang diperankan Gede JuliĀ  duduk termenung di sawah. Dia hanya ditemani oleh bebek-
bebek yang diangonnya. Bedul mengeluh dengan pekerjaannya karena harus bertanggung jawab atas bebek-bebek yang hilang dan mati kepada si empunya, yaitu Saudagar (Yeta Yuniarti). Penasihat (Rachel Obeto) menawarkan bantuan agar Bedul terbebas dari segala tuntutan Saudagar. Penasihat meminta Bedul berpura-pura tidak bisa bicara seperti manusia karena ulah Saudagar.

Akhirnya Ratu (Komang Ela Sakayani) menyalahkan Saudagar karena memperlakukan pekerjanya tidak seperti manusia. Penasihat yang memenangkan perkara meminta imbalan dari Bedul. Ternyata Bedul lebih cerdik sehingga membuat Saudagar gigit jari dan Penasihat tertipu.

Dengan tata panggung realis,
pentas berdurasi sekitar 90 menit ini relevan dengan tema yang diangkat dalam memperingati Hari Hak Asasi Manusia Internasional. MelaluiĀ  teater mahasiswa mencoba memaknai ‘el art engange’, seni untuk kemanusiaan, bagaimana menjadi manusia agar dapat lebih memanusiakan manusia.(kbs)