- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Tertangkap di Provinsi Banten, Terungkap Pernah Ngekos di Jalan Banten-Plaju
PALEMBANG, SIMBUR – Fakta baru mengejutkan muncul dari sidang kedua kasus mutilasi korban Vera Oktaria yang dilakukan terdakwa Prada Deri Pramana. Sidang yang menghadirkan saksi Sherly, diduga teman dekat terdakwa, berlangsung di Pengadilan Militer I-40 Palembang, Selasa (6/8).
Diceritakan Sherly, selama kabur dari pendidikan TNI, Prada Deri Pramana menyewa indekos di kawasan Jl Banten, Plaju. Sherly mengetahui karena Prada Deri Pramana menghubunginya melalui media sosial agar datang mendengarkan curahan hati (curhat) temannya itu. “Deri ngekost di Banten, Plaju. Saya ditelepon untuk ke kontrakannya. Karena Prada Deri Pramana ingin cerita (curhat) tentang kaburnya dia dari pendidikan,” ungkap Sherly.
Ditambahkan, sejak diajak ke kosan, Sherly mengaku bertemu dengan Prada Deri Pramana sebanyak empat kali sebelum terdakwa menghabisi nyawa korban Vera. “Saya ketemu empat kali di kosan. Tanggal 4 Mei siang sampai sore hari. Saya kemudian pulang ke asrama. Besoknya, (5 Mei) saya datang lagi siang hari sampai jelang sore. Sama seperti sebelumnya, tanggal 6 Mei kami ngobrol kembali diwaktu yang sama dengan hari sebelumnya. Tanggal 7 Mei saya tugas dinas dari pagi sampai sore, sehingga mengunjungi Prada Deri Pramana sekitar pukul 9 malam. Saat itu saya tertidur di kosan Prada Deri Pramana,” kisahnya sembari mengatakan selama bertemu mereka tidak pernah keluar karena Prada Deri Pramana takut keluar akibat kabur dari pendidikan.
Sialnya, lanjut Sherly, saat dia tertidur di kosan justru dia ditinggal Prada Deri Pramana dengan pintu terkunci. Parahnya, handphone (hp) milik Sherly dibawa Prada Deri Pramana yang pergi bersama Iqbal. “Saya ditinggal sejak subuh di kontrakan dengan kondisi pintu dikunci dan Hp dibawa Prada Deri Pramana. Saya tidak tahu kalau Hp saya yang di kasur dibawa. Saya tidak tahu dia ke mana dan dengan siapa,” ujarnya.
Sherly mengaku tidak tahu sama sekali kenapa Hp-nya dibawa oleh Prada Deri Pramana. “Hp saya dikembalikan lagi tanggal 8 Mei. Hp itu dititip Prada Deri Pramana ke Iqbal yang mengembalikan dengan menitip ke Yunita. “Iqbal menitip ke teman saya (Yunita) karena saya sedang dinas. Itu karena selama dipegang Prada Deri Pramana. Saya menghubungi Prada Deri Pramana memakai Hp Yunita. Jadi Yunita yang menerima hp saya siang itu,” keluhnya.
Sherly juga mengungkap jika saat mengobrol di kosan, Prada Deri Pramana terlihat kurang senang jika dirinya bertanya soal Vera. Walaupun Sherly baru tahu Prada Deri Pramana dan Vera berpacaran saat melihat foto mereka di medsos dengan baju yang sama.
“Waktu di kosan Prada Deri Pramana hanya bercerita tentang pendidikan TNI saja. Hanya sekali membahas soal Vera. Bahkan, Prada Deri Pramana sempat meminta saya mengajaknya pergi ke dusun saya saja. Dia ingin cari pekerjaan di luar Palembang,” kata Sherly dan melihat jika Prada Deri Pramana terlihat sangat gelisah.
Prada Deri Pramana bahkan pernah mengungkap jika dirinya ingin dirukiyah karena merasa mudah tersulut emosi dan cenderung ingin memukul orang yang menyulut amarahnya.
Ditanya soal aksi keji Prada Deri Pramana yang memutilasi Vera, Sherly merasa takut dan tidak menyangka jika Prada Deri Pramana bisa sekejam itu menghabisi nyawa kekasihnya sendiri. “Waktu ada berita perempuan hilang. Saya tahu kalau itu Vera karena melihat bajunya. Saya berpikir Prada Deri Pramana pergi bersama Vera. Saya tahu Vera meninggal saat Iqbal memberitahukan,” ujarnya.
Ditambahkan, dirinya tahu jika Vera meninggal antara tanggal 9-10 Mei dari medsos. “Setelah tahu saya tidak hubungi Prada Deri Pramana karena takut karena sudah tahu kalau dia itu pembunuh. Waktu tahu kejadian itu saya terkejut dan tidak menyangka,” ungkapnya nanar.
Setahu Sherly, Prada Deri Pramana bukanlah sosok yang kasar tetapi senang bercanda hanya saja terkadang kelewatan.
Menurut Sherly, waktu sekolah Prada Deri Pramana tidak kasar. “Dia sering bercanda tapi kelewatan. Namun pernah sekali, Prada Deri Pramana marah sekali karena hp saya dicuri oleh teman kelas. Dia mau memukul pelakunya,” kisahnya mengenang masa lalu.
Sherly mengaku hanya teman dekat Prada Deri Pramana. “Setelah tamat SMA, saya mulai komunikasi dengan DP di 2017, tetapi bertemunya baru 2019 ini. Hubungan kami baik-baik saja. Selain saya tidak tahu ada teman dekat lainnya,” kilahnya seolah menepis jika dirinya adalah pacar gelap Prada Deri Pramana.
Sherly juga membenarkan jika Vera tidak lain adalah adik kelas satu tingkat di bawahnya.”Vera adik kelas satu tingkat di bawah saya. Saya lulus 2016, setahun kemudian kelulusan Vera. Setelah tamat, saya tidak pernah komunikasi lagi (dengan DP) dan baru terjadi di 2017. Saya juga belum pernah ke rumahnya (DP), cuma pernah lewat dan disampaikan jika itu rumahnya,” kata Sherly.
Diwartakan sebelumnya, warga Sumsel dikejutkan dengan penemuan mayat wanita tanpa busana korban mutilasi pada 10 Mei pukul 19.00 WIB. Mayat tersebut sebelumnya ditemukan di kamar nomor 6 Penginapan Sahabat Mulya, Jl Hindoli RT 05 RW 03 Kelurahan Sungai Lilin, Kecamatan, Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin.
Ketika jasad korban tiba di kamar mayat RS Bhayangkara Palembang, keluarga mencari tahu identitas mayat wanita tersebut. Keluarga yang datang mengaku kehilangan anggota keluarganya yang bernama Vera Oktaria, warga 16 Ulu Palembang. Vera bekerja sebagai kasir Indomaret di Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Vera hilang sejak 7 Mei. Jasad Vera dibawa ke rumah duka di kawasan 16 Ulu, tepatnya di Jalan KH Azhari, Lorong Indah Karya No 116, Kelurahan Tangga Takat, Kecamatan SU II Palembang, sekitar pukul 07.00 pagi karena autopsi sudah dilakukan pada pukul 22.00. Jenazah korban langsung dikebumikan sekitar pukul 10.30 di TPU Telaga Swidak, Plaju.
Pelaku pembunuhan Vera Oktaria pacarnya sendiri Prada Deri Pramana sekaligus tetangganya yang tinggal di Lr Taman Bacaan RT. 006 RW. 003 Kelurahan Tangga Takat Kecamatan Seberang Ulu II Kota Palembang. Prajurit TNI berpangkat prada berusia 22 diketahui sedang mengenyam pendidikan di Sartaif Rindam II/Baturaja.
Setelah membunuh korban (8/5), malam harinya Prada Deri Pramana berangkat ke Lampung. Dia berkomunikasi dengan penumpang di sebelahnya. Prada Deri Pramana bermaksud mendalami ilmu agama dan ditunjukkanlah lokasinya. Akhirnya tersangka mendatangi Pondok Pesantren Monghiang di Provinsi Banten. Sampai di sana, Deri Pramana bertemu dengan pimpinan pondok bernama Abuya H Sar’i. Prada Deri diterima di ponpes tersebut dari tanggal 10 Mei. Pelariannya terhenti setelah ditangkap Tim Denintel Kodam II/Sriwijaya di Serang Banten, 13 Juni sekitar pukul 17.10 Wib. Prada Deri Pramana langsung dibawa ke Palembang melalui jalan darat dengan pengawalan Denpom II/3 Lampung dan tiba di Pomdam II/Sriwijaya pada 14 Juni sekitar pukul 04.47 WIB.(dfn)



