Target Selesai Tahun Depan, Tol Kapalbetung Beroperasi pada 2021

PALEMBANG, SIMBUR – Kebutuhan Sumatera Selatan (Sumsel) tampaknya sudah tidak tertahankan lagi. Pasalnya, ruas jalan nasional yang membelah Sumsel, dianggap sudah tidak mampu menampung volume kendaraan, baik itu kendaraan lintas pulau maupun di antar kota di Sumsel. Untuk itu, realisasi jalan tol Kapal Betung (Kayuagung – Palembang – Betung) bisa dikatakan mendesak untuk segera dioperasionalkan secara menyeluruh.

Gubernur Sumsel, Herman Deru usai mengadakan rapat dengan Tim Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR di Griya Agung, Jumat (19/7), menegaskan jika tol Kapal Betung adalah kebutuhan saat ini. Dia berharap ruas tol segera diselesaikan, soal utilitas nanti akan dibangun kemudian.

“Itu kebutuhan, karena  jalan nasional yang ada sudah macet akibat tingginya volume kendaraan. Jadi aksesoris (utilitas) seperti rest area dan lain-lain itu nanti saja, yang penting ini (ruas jalan tol) dibuat, nanti (utilitas)menyusul. Tetapi kemarin sudah disetujui oleh Menteri untuk pelebaran jalan nasional sepanjang dua kilometer Palembang – Air Batu,” ujar Deru.

Dia juga merasa lega karena indikasi Tol Kapal Betung segera diralisasikan semakin kuat, dengan kedatangan tim BPJT. “Minggu ini saya berturut-turut mendatangi Menteri baik di istana presiden maupun di kantornya. Saya ingin jalan tol Kapal Betung itu segera. Ternyata di respon dengan datangnya BPJT dan memutuskan untuk segera action. Karena ini kan bukan tender, investasi sudah ada dari Waskita. Bahkan saya minta yang sifatnya utilitas nanti saja, yang penting long segment terbangun dulu,” lanjutnya.

Terkait target pengerjaan jalan tol, Deru menilai jika dua tahun pengerjaan itu terlalu lama karena ruas Palembang – Betung itu lebih banyak mengeruk tanah dan bukan penimbunan. “Saya pikir dua tahun terlalu lama mereka mengerjakan itu (jalan tol) karena tidak banyak penimbunan, malah banyak bukit-bukit yang bisa mempercepat pengerjaannya. Jadi bukan menimbun tapi mengurangi tanah (menggali),” ungkapnya.

Ditambahkan, Deru yakin pengerjaan akan lebih mudah dan cepat karena sistem penugasan yang diberikan kepada PT Waskita Karya. Karena Waskita adalah BUMN, Deru menilai pembangunan tersebut tidak profit oriented. “Ini butuh penugasan dari Presiden atau Menteri. Ini equity, dana dari Waskita dimana tidak ada dana Pemda dan dana Bank, jadi dia (jalan tol) butuh penugasan. Waskita itu kan BUMN, kalau ada penugasan artinya Waskita tidak terbebani orientasi profit tetapi menjadi pelayanan terlebih dulu. Kalau Waskita pinjam uang ke Bank, pasti kena beban bunga. Makanya (Waskita) memakai dana perusahaan untuk mempercepat pembangunan,” yakinnya.

Selain itu, dikabarkan jika dalam waktu dekat Tol Pematang Panggang – Kayuagung, Pematang Panggang – Terbanggi Besar akan segera diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. “Palembang – Kayuagung sudah selesai tetapi masih exit tol sementara. Karena masih harus melanjutkan ke jembatan keramasan langsung ke jembatan Pulokerto Musi 3. Kemungkinan Presiden akan meresmikan jalan tol Pematang Panggang – Kayuagung, Pematang Panggang – Terbanggi Besar pada 17 Agustus nanti,” katanya sembari menambahkan jika target tol Kapal Betung harus selesai pada 2020 dan sudah harus beroperasi di 2021.

Herman Deru menyebutkan dengan adanya jalan tol Kapalbetung ini nantinya kemacetan yang ada di ruas jalan Palembang – Betung saat ini bisa diurai. Apalagi Pemkab Banyuasin siap mendukung. “Harapan saya jalan tol ini nantinya  dapat menguraikan kemacetan . Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga sangat merespon ini jika ada kendala dilapangan, mereka siap membantu,” imbuh Gubernur.

Sementara itu, anggota BPJT Kementerian PUPR, Koentjahjo Pamboedi merinci jika pada Oktober nanti, tol Kapal Betung di segmen Kayuagung hingga Jakabaring sepanjang 33 Kilometer akan segera diresmikan. “Pengerjaan untuk Palembang-Betung masih on progress sesuai yang dijadwalkan. Untuk Pematang Panggang – Kayuagung, Pematang Panggang – Teerbanggi Besar, rencananya diresmikan oleh Presiden di Agustus mendatang,” jelasnya.

Namun, diakui Koentjahjo bahwa walau sudah dalam sistem fungsional, tetap masih dirasakan banyak kekurangan yang akan segera dibenahi.

“Kalau masih tahap fungsional itu memang masih banyak kekurangannya. Namun yang terpenting adalah bagaimana sosialiasi terkait pembayaran tol yang saat ini sudah wajib cashless atau hanya menggunakan e-money,” pungkasnya. (dfn)