- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Agustus Puncak Kemarau, Sumsel Waspada Karhutla
PALEMBANG, SIMBUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu disebut di Sumatera Selatan (Sumsel). Terakhir, karhutla kembali menunjukkan eksistensinya di wilayah Kabupaten Ogan Ilir (OI) tepat di dekat tol Palindra, di mana kepulan asapnya sempat menutup jalan tol beberapa waktu lalu.
Terkait hal itu, masyarakat Sumsel harus berhati-hati karena puncak kekeringan akan terjadi di bulan Agustus nanti. Hal itu disampaikan Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Metereologi SMB II Palembang, Bambang Benni Setiaji saat dikonfirmasi Simbur, Kamis (27/6).
“Kalau yang terjadi beberapa hari ini tidak terlalu (besar). Walaupun ada titik kebakaran (tapi) tidak terlalu signifikan. Memang menjelang bulan Juli – Agustus kekeringan sudah mulai. Warga juga sudah mulai main-main bakar, tapi kami harapkan jangan,” jawabnya seraya memastikan jika saat ini sudah masuk musim kemarau.
Dikatakan, jika puncak kekeringan di Sumsel diperkirakan akan terjadi di bulan Agustus nanti. “Puncak musim kemarau di bulan Agustus. Saat itu paling kering. Yang namanya karhutla itu memang rutin (terjadi) dan memang dijaga sistem tersebut (pencegahannya),” ujarnya.
Bambang juga memastikan jika BMKG Palembang sudah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait. “Kami sudah koordinasi dengan pihak karhutla (BPBD). Kalau untuk pertanian, kita harus langsung ke klimatologi di Kenten. Kalau untuk perkiraan musim, kami selalu koordinasi dengan stakeholder (Dinas Pertanian dan Perkebunan),” ungkapnya.
Senada diungkap Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dodo Gunawan. Menurut dia, periode Juli-September, sebagian besar wilayah memiliki curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal.
“Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi di bulan Agustus. Di beberapa wilayah, seperti Jawa Timur pun sudah 60 hari tanpa hujan sejak awal Juni,” ujar Dodo saat konferensi pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Jumat (28/6).
Dodo menjelaskan, kondisi iklim kemarau di Jawa Timur sudah parah. Kekeringan serupa juga terjadi di Jawa Tengah dengan tidak mengalami hujan dalam satu bulan ini. “Tahun ini memang puncak kemarau akan lebih parah dibandingkan 2018 ya karena ada el nino. Tahun lalu el nino enggak muncul,” tutupnya. (dfn/kbs)



