- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Korban Trauma dan Takut dengan Malam, Anaknya Terus Menangis Kesakitan
# Derita Bidan yang Dirampok dan Diperkosa di Poskesdes
Kondisi bidan desa berinisial YL (27) yang dirampok dan diperkosa saat tidur di poskesdes mulai membaik. Akan tetapi, korban masih mengalami trauma akut atas kejadian yang menimpanya. Bukan hanya sang ibu, anak yang baru berumur 9 bulan pun masih merasakan sakit ketika si kecil menggerakkan badannya yang mungil.
PALEMBANG, SIMBUR – Kasubdit Yanmeddokpol Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Dr Yunita L Mars memastikan pihaknya akan melakukan konsultasi ke dokter jiwa (psikiater) untuk mengurangi trauma korban pascaperistiwa pilu yang menimpanya. “Kami akan minta dokter yang merawatnya untuk konsultasikan ke dokter THT. Hari ini kami konsultasikan ke doktor psikiater (dr Leman) untuk mengurangi trauma secara psikis. Dari hasil pemeriksaan, pasien masih ada rasa takut dengan malam. Jadi kalau menjelang malam, dia merasa takut dan juga takut untuk memejamkan mata,” ungkap Yunita, Kamis (21/2).
Begitupun dengan kondisi anak korban yang dikatakan masih merasakan sakit dan meringis saat bergerak. Yunita memastikan jika kondisi anak korban akan terus diawasi, apalagi karena anak itu masih balita. “Tadi keluhan korban kalau anaknya masih sering nangis jika bergerak. Saya tidak tahu (persisnya), saat itu korban kan dalam posisi tidak sadar. Saat sadar, baik posisi dia dan anaknya itukan berubah dari tempat tidurnya,” jelasnya.
Dilanjutkan, apa yang dilakukan pelaku terhadap anaknya, korban tidak tahu. Tetapi Yunita juga belum tahu apakah harus dikonsultasikan ke dokter anak. “Karena anaknya belum bisa bicara, jadi belum dikonsultasikan ke psikiater. Biasanya kalau korban anak-anak saya konsultasikan,” lanjutnya.
Secara psikis, jika nanti korban dinyatakan sudah boleh pulang, dokter akan melakukan konseling sekali lagi. “Walau setelah dia lepas dari perawatan, kalau memang masih dirasakan ada kendala tidak akan putus hubungan dan tetap dalam pantauan kami. Silakan datang ke sini (RS Bhayangkara) nanti akan kami konseling lagi terus-menerus sampai dia pulih,” ungkapnya.
Karena, lanjut Yunita, walaupun secara umum kondisinya membaik, namun dari hasil wawancara korban dengan dokter jiwa, ada beberapa saat dia masih menangis terutama kalau ketemu dengan orang yang dekat dengan dia. “Tetapi tadi saat didatangi dokter, kebetulan dia sedang makan komunikasinya sudah mulai aktif. Hari pertama memang dia tidak mau bicara sama sekali. Hari kedua dia banyak nangisnya kalau ketemu orang. Hari ini dia sudah mulai duduk, sudah mulai ngobrol dengan teman-temannya,” ujarnya sembari menambahkan jika saat ini korban sangat membutuhkan dukungan dari sang suami dan keluarga lainnya.
Terkait kondisi fisik korban, Yunita membeberkan jika saat ini masih ada pendarahan di mata, benkak pada jaringan (pipi) namun birunya sudah mulai samar. Selain itu, korban juga masih mengeluh sakit di leher saat menelan sesuatu.
“Hari ini kondisi pasien secara fisik pendarahan di mata masih ada, tapi dia sudah dikonsultasikan ke dokter mata (dan) fungsi penglihatannya baik tidak ada masalah. Hasil scanning juga menunjukkan (kondisi) kepalanya baik tidak ada cedera. Memang ada pendarahan di bagian sinus dan bengkak di jaringannya (pipi) juga, tetapi biru-birunya sudah mulai hilang. Pusing tidak ada lagi, memang kemarin ada keluhan sulit menelan, karena kalau dari cerita klien (korban) kami, memang kemarin dicekik pakai kain,” ungkapnya.
Dari pantauan Simbur di RS Bhayangkara, saat ini tidak satupun dari pihak keluarga yang bersedia untuk memberikan keterangan. Sampai saat ini juga, terpantau sanak keluarga masih terus berdatangan dan menjaga di luar kamar perawatan korban.
Bidan desa YL bertugas di Poskesdes Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir (OI). Perempuan beranak satu ini dianiaya dan diperkosa oleh lima orang tak dikenal saat tidur, Selasa (19/2) sekitar pukul 01.00 WIB dinihari. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polres Ogan Ilir dengan Polisi Nomor : LP/B-19/II/2019/RES OI/SEK PML, tanggal 19 Februari 2019.
Diwartakan, korban sedang berada di poskesdes tempatnya bekerja dan menginap bersama anaknya yang berumur 9 bulan. Ketika korban dalam keadaan tertidur bersama anaknya dengan lampu yang sudah dimatikan, datang lelaki yang belum diketahui identitasnya dan langsung menutup kepala korban dengan bantal. Pelaku mencekik bagian leher dan memasukkan jarinya ke dalam mulut korban. Karena kondisi sepi, pelaku langsung meraba dan meremas dada korban, lalu melakukan kekerasan seksual.
Sebelumnya, korban sempat berteriak tapi pelaku mengancam dan akan membunuhnya. Mendapat ancaman itu korban berhenti berteriak dan mengatakan jangan membunuh dirinya. Pelaku terus melancarkan aksinya dengan melilitkan kain ke bagian kepala serta memukuli kepala korban hingga tidak sadarkan diri. Korban baru sadar setelah mendengar jeritan tangis anaknya dan pelaku sudah tidak ada ditempat kejadian tersebut. Korban bangun dan membawa anaknya keluar dan meminta bantuan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Women Crisis Centre (WCC) Kota Palembang, Yeni Roslaini Izi menyayangkan kejadian tersebut. Namun, perangkat hukum yang belum ada, menyebabkan perempuan selalu berada di posisi sebagai korban.
“Perlu atau sangat mendesak upaya-upaya perlindungan terhadap perempuan berupa kebijakan (Undang-undang), tempat yang aman terutama bagi yang menyediakan jasa medis. Kebijakan berupa UU penghapusan kekerasan seksual itukan sampai sekarang belum ada. UU saja belum ada apalagi tingkat peraturan daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi Simbur, Rabu (20/2).
Karena, lanjut Yeni, sebenarnya kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi, tapi sudah banyak kasus yang terjadi terhadap bidan-bidan desa berupa pelecehan seksual, pemerkosaan atau perampokan. “Tentu kami sangat prihatin dengan keselamatan bagi tenaga keselamatan seperti yang dialami oleh salah satu bidan di OI. Itu membuktikan bahwa perempuan rentan menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun sampai membahayakan jiwa,” lanjutnya.
Kemudian, lanjut Yeni, ke depan memang rumah bidan desa itu harus berada di tempat-tempat yang ramai atau dekat dengan masyarakat. “Itulah sebagian besar bidan desa tidak mau tinggal di rumah dinas, karena memang rumahnya itu terpencil atau jauh dari rumah penduduk, sehingga dia rentan mengalami kekerasan,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata Yeni, memang perlu dipikirkan rumah bidan dengan sistem keamanan yang cukup. “Jika saya amati dan baca di media, rumah dinas mereka tidak ada teralis. Jadi keamanan-keamanan tenaga medis seperti bidan itu penting untuk diperhatikan baik pemerintah desa atau pihak-pihak berwenang lainnya,” sesalnya.(cjs01/dfn)



