- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Hujan Dua Jam, Jalan Protokol Berubah Jadi “Sungai”
PALEMBANG, SIMBUR – Hujan deras yang mengguyur kota Palembang selama hampir dua jam membuat sejumlah ruas jalan protokol, khususnya Jl Jenderal Sudirman terendam banjir, seperti berubah menjadi “sungai”, Kamis (20/9). Hujan dari pukul 17.00 hingga pukul 19.00 yang tak kunjung reda membuat pusat perbelanjaan di kawasan pedestrian itu lumpuh total. “Ngeri lewat banjir, takut mogok. Mau mutar balik kendaraan di belakang macet,” ungkap Rani, karyawati yang hendak pulang ke rumahnya di kawasan Plaju.
Puluhan pengendara roda dua mengalami kendala pada motor mereka yang mogok akibat terendam banjir dari Cinde hingga Bundaran Air Mancur, seberang Masjid Agung Palembang. Bukan hanya itu, sejumlah karyawan yang berada di sepanjang jalan tersebut harus berjibaku membuang air yang masuk ke dalam hingga merendam toko tempat mereka bekerja. “Tidak pernah separah ini sampai air masuk toko. Banjir karena tidak ada saluran pembuangan air (drainase) setelah pembuatan LRT,” ungkap karyawati yang tak mau disebutkan namanya.
Pantauan di lapangan, genangan banjir setinggi 30 cm terjadi diduga akibat tidak adanya saluran pembuangan air pasca pembangunan LRT dan pedestrian. Puncak ketinggian banjir mencapai 50 cm tepat berada di sekitar Jl Kepandean dan Jl Beringin Janggut.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi adanya peningkatan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia selama tiga hari ke depan, yakni 20-22 September mendatang. Dalam keterangannya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo menyampaikan bahwa dengan berakhirnya/meluruhnya Badai Tropis “MANGKHUT” beberapa hari yang lalu maka menyebabkan perubahan pola cuaca yang ditandai oleh turut melemahnya aktivitas aliran massa udara kering dari Australia dan menjauh dari wilayah Indonesia.
Prabowo menjelaskan bahwa Adanya pola sirkulasi siklonik di sekitar Laut Cina Selatan, peningkatan kelembapan udara yang basah di lapisan atmosfer pada ketinggian sekitar 1500 dan 3000 meter serta belokan arah angin dan perlambatan kecepatan angin pada lapisan atmosfer bagian bawah (sekitar 1000 meter) yang mengakibatkan pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi dinamis atmosfer tersebut dapat meningkatkan potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di beberapa wilayah Indonesia dalam periode 3 hari ke depan (20 – 22 September 2018).
“Sedangkan potensi gelombang tinggi 2.5 hingga 4.0 meter diperkirakan dapat terjadi di Perairan Barat Kep. Mentawai, Perairan Enggano – Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Aceh Hingga Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan P. Jawa Hingga P. Sumbawa, Selat Bali – Lombok – Alas Bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa Hingga NTB,” imbuh Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, puting beliung, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.(red/bmkg)



