- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Korban Tenggelam di Sungai Komering Belum Ditemukan
KAYUAGUNG, SIMBURNEWS – Kesedihan mendalam terlihat dari wajah keluarga, Seli Wulandari (18), gadis yang tenggelam saat bermain air di dekat Pondok Pesantren Sabilillah di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering (OKI), Kamis (23/3) sore.
Seluruh keluarga, mulai dari orangtua, kakek nenek, hingga paman dan kerabat Wulan berkumpul di bawah tenda di depan sebuah rumah di tengah perkebunan karet di Kelurahan Kedaton, Jumat (23/3). Para keluarga ini menantikan dengan penuh harap agar jasad dari Wulan dapat ditemukan oleh tim pencari yang merupakan gabungan dari BPBD OKI, Basarnas Palembang, Polsek Kayuagung dan warga.
Wulan sendiri sebenarnya bukan asli warga setempat. Kedua orangtuanya tinggal di Desa Jahe Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Baru dua tahun dia tinggal bersama kakek dan neneknya. “Dia di sini tinggal bersama kami, di kebun,” kata kakeknya, Selamet didampingi nenek, Sarmi yang disapa dengan panggilan Mbah.
Diceritakan Mbah Selamet, sebelum kepergian Wulan, dirinya tidak terlalu merasakan hal yang berbeda. “Hanya saja saat itu dia minta diasahkan pahat (untuk nyadap karet), katanya ingin mahat. Saya keluar dan saat saya pulang sudah tidak ada di rumah,” kata Selamet.
Ditambahkan Mbah Sarmi, Wulan saat itu pamit untuk cuci motor bersama temannya di sana (lokasi tenggelam). “Ya waktu itu saya bertemu saat mereka mau ke sana, saya tanya katanya mau nyuci motor. Karena dia ini anaknya memang rajin. Motor hampir setiap hari dibersihkan apalagi kalau sudah dari bawa getah karet, kadang dibilangin juga katanya tidak apa-apa,” terang Sarmi dengan menahan agar tidak menangis.
Kalau tanda-tanda, terang mbah Sarmi, tidak ada tanda yang terlalu mencolok. “Hanya saja memang beberapa hari ini, dia agak jarang campur sama orang. Karena sebelum tenggelam, paginya sama saya sempat ke kelurahan dan kantor camat untuk membuat KTP, mau ke Capil sempat ke sana dan menunggu sebentar akhirnya batal karena masuk waktu istirahat,” jelasnya.
Sebelumnya, lanjut kakek, dia kepingin ambil paket C. “Katanya ingin mendaftar jadi Pol PP karena ada temannya yang cerita, dan bisa. Kami juga mendukung, karena dia ini anak yang baik dan tidak banyak ulah,” sambungnya seraya menambahkan Wulan merupakan anak yang rajin.
Bahkan, lanjut Mbah Sarmi, dirinya tidak malu bantu kami untuk Mahat karet. “Dia ini gadis, kami bilang nanti sayang anak gadis kerja gini, tapi dia terus saja bantu kami. Bahkan, kami bilang apa tidak malu, tapi dia bilang ndak apa karena pengen bantu kami,” jelasnya.
Sarmi merasa sangat kehilangan saat mendapatkan kabar dia tenggelam dari temannya yang mandi saat itu. Langsung menghubungi orangtuanya di Jahe yang juga langsung datang pada malam harinya.
Sementara itu, saat ditemui di rumah duka di Kelurahan Kedaton, orangtua Wulan, sang ayah Swandi hanya termenung duduk diatasnya kursi plastik. Sedangkan sang ibu, masih shock dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Pihak keluarga tak hentinya mengharapkan dan berdoa agar jasad Wulan segera ditemukan. “Yang terpenting kami mengharapkan jasadnya bisa segera ditemukan. Mohon bantuan dan doanya,” ucap Mbah Sarmi.
Sementara itu, Kepala BPBD OKI, Listiadi Martin mengungkapkan, pihaknya akan terus mengupayakan pencarian korban tenggelam ini. “Sejak mendapatkan informasi, kami langsung menerjunkan personil untuk melakukan pencarian bersama dengan kepolisian dan warga. Tapi karena tidak memungkinkan kan untuk melakukan pencarian malam hari pencarian dihentikan dan dilanjutkan hari ini (Jumat) dengan bantuan tambahan dari personil Basarnas Palembang,” terang Listiadi.
Dirinya menjelaskan, langkah yang dilakukan dalam pencarian tersebut dilakukan dengan menyisir hingga radius 5 km. “Ada juga tim khusus di jembatan dan TKP nanti. Selain itu ada juga tim penyelam yang disiapkan, tapi untuk penyelaman ini ada SOP-nya apalagi kondisi air di Sungai Komering saat ini sangat dalam dan deras,” terangnya.
Untuk melakukan penyelaman, pihaknya juga tidak bisa langsung terjun. “Ada yang namanya mapping untuk melihat dan membaca lokasi,” jelasnya.
Untuk melakukan penyelaman, pihaknya juga tidak bisa langsung terjun. “Ada yang namanya mapping untuk melihat dan membaca lokasi,” jelasnya.
Tapi setelah melakukan penyisiran selama satu hari, tim gabungan belum berhasil menemukan korban. Hingga diputuskan pencarian dihentikan pukul 18.00 dan akan kembali dilanjutkan pukul 06.30, Sabtu (23/3). (yrl)



