Harta Karun Sumsel Digondol Asing

PALEMBANG, SIMBURNEWS –  Sebagai salah satu jalur sutera perdagangan dunia zaman dulu, pesisir timur Sumatera Selatan (Sumsel) menyimpan banyak cerita kehebatan para pedagang dari berbagai penjuru negeri. Diketahui, banyak temuan kapal tua tradisi Asia Tenggara baik di darat maupun di laut yang berkembang pada abad 1—13. Namun sayang, muatan atau komoditas dari kapal karam tersebut sudah banyak yang hilang karena tenggelam atau dicuri oleh sindikat pencuri barang muatan kapal tenggelam (BMKT).

Kepala Kepala Balai Arkeologi (Balar) Sumsel, Drs Budi Wiyana MSi mengatakan, berdasarkan hasil data yang didapatkan dimana jika diurutkan ke belakang, Kerajaan Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur-jalur perdagangan. “Berdasarkan hasil penelitian kami, ternyata di pesisir timur banyak tinggalan perahu tua baik itu di daerah Karang Agung, Air Sugihan, Cengal dan Tulung Selapan. Memang sebagian besar temuan perahu adalah tradisi Asia Tenggara yang berkembang pada abad 1 sampai 13. Akan sangat menarik jika temuan di darat dikaji lebih mendalam. Sebenarnya banyak sekali peneliti asing yang ingin ke daerah-daerah tersebut, namun sayangnya, mereka ingin langsung berkoordinasi dengan Balar, padahal kami memiliki aturan dimana jika mereka ingin meneliti maka harus melalui LIPI terlebih dulu,” jelasnya kepada Simbur, Rabu
(27/9).

Dilanjutkan Budi, informasi dari nelayan juga mengatakan bahwa sindikat pencuri tersebut adalah orang asing (Jepang dan Amerika), namun informasi tersebut masih sepihak sehingga perlu dicek kebenarannya. “Kami juga belum mengetahui modus operandi para pencuri itu. Apakah mereka masuk sebagai peneliti atau memang mereka masuk ke wilayah perairan Indonesia dengan menggunakan perahu berbendera Indonesia,” sesalnya.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Drs Muhammad Ramli mengatakan, dengan replika benda cagar budaya, Sumsel tentu belum mengetahui secara pasti keberadaan benda aslinya karena belum melakukan pendataan di museum yang ada. Sementara, dugaan besarnya potensi barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di Sumsel, sejauh ini dikatakan memang ada beberapa temuan. “Iya banyak. Ada beberapa yang ditemukan semacam perahu, contohnya yang baru-baru ini ditemukan di Cengal, OKI yang diduga adalah alat transportasi air yang menghubungkan kota Raja dengan wilayah lainnya. Temuan-temuan kapal ada sebagian disimpan di BPCB Jambi, di museum, ada yang masih dilokasi temuan dan ada juga kami simpan di kota Bumiayu, Brebes,” ungkapnya.

Terkait sindikat pencurian harta karun bawah laut, dikatakan Ramli belum ada temuan semenjak dirinya menjadi kepala BPCB Jambi. “Sejauh ini belum ada indikasi itu. Tidak ada lagi, namun yang sekarang marak itu justru pengangkatan ilegal besi-besi bekas dari dasar laut. Kami berharap harus ada kajian dulu, jangan sampai yang diangkat adalah kapal-kapal yang memiliki nilai historis. Kalau pencurian harta karun belum ada laporan dari masyarakat,” pungkasnya.(mrf)

 

 

(Baca berita selengkapnya di surat kabar Simbur Sumatera edisi Oktober 2017)