- Sebarkan "Virus" Perdamaian dan Riding Skuter di Palembang, Slank Bakal Rilis Album Terbaru pada 5 Juni 2026
- Buronan Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Rumah Tetangga
- Olahraga Bersama Insan Media, Kodam II/Sriwijaya Turut Menjaga Ketahanan Informasi Nasional
- Pangdam II/Swj Ambil Sumpah 1.583 Tamtama Remaja, Kasad: Perkuat Batalyon Teritorial Pembangunan
- Tinjau Koperasi Merah Putih di Lahat, Apresiasi Pembangunan dan Dorong Ekonomi Lokal
Trauma, Siswa Ujian Dalam Mobil
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Salah satu siswa kelas VI yang berstatus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dari 27 siswa yang ada di Sekolah Dasar (SD) Negeri 30 Inklusi di Palembang terpaksa mengikuti ujian utama tahun 2017 di dalam mobil. Hal tersebut karena yang bersangkutan masih mengalami trauma.
Orang tua Abdul Farizi Wahid Simanungkalit, Yossy Agustina mengatakan, anaknya sudah mengalami trauma sejak masih duduk di kelas satu SD. Hal tersebut membuat Abdul susah untuk melupakan setiap perkataan yang membuat hatinya sakit terutama saat dimarahi orang lain. “Kebiasaan Farizi tergantung dengan kemauannya. Hari ini dia tidak mau pakai baju sekolah dan tidak mau masuk kelas, jadi ujiannya di dalam mobil memakai baju bebas,” ujarnya saat mendampingi Farizi ujian di dalam mobil yang terparkir di lapangan sekolah, Senin (15/05).
Yossy menjelaskan, trauma tidak membuat Farizi malas belajar baik di sekolah maupun di rumah. Pelajaran menggunakan komputer adalah yang paling disukai dibandingkan pelajaran yang lain. Bahkan dari kebiasaan tersebut, Farizi memiliki skill yang lumayan tinggi dalam mengoperasikan komputer. “Firizi kalau belajar dan sekolah tetap ada, namun harus sesuai dengan kemamuannya. Jika tidak, maka hal tersebut tidak akan dilakukannya, biasanya dia belajar dengan melihat youtube, semua macam pelajaran terutama masalah luar angkasa pasti dilihatnya,” terangnya.
Sementara, Farizi sendiri cenderung lebih diam dan konsentrasi ketika melaksanaan ujian yang dihadapi pada hari pertama dengan pelajaran bahasa Indonesia. “Saya tidak mau pakai baju dan masuk kelas. Saya mau ujian di dalam mobil saja,” singkatnya pada awak media.
Ditempat yang sama, Kepala SD Negeri 30 Palembang, Nuraini mengatakan jika total siswa kelas VI SD Negeri 30 Palembang saat itu ada 105 siswa. Dimana sekitar 27 orang diantaranya merupakan siswa ABK dengan berbagai macam kategori, seperti IQ rendah, autis, gagu dan lain sebagainya. “Untuk soal ujian tetap sama dengan siswa pada umumnya. Namun, perbandingannya 1:5 dimana jika siswa normal berhasil menjawab soal dengan benar sebanyak 5 soal dan siswa ABK mampu menjawab 1 soal saja maka nilainya akan sama,” tutupnya.
Diketahui, saat ia duduk di kelas 1 sampai 5 SD, Farizi sempat sekolah di SD Muhammadiyah, namun saat kelas VI, ia dipindahkan ke SD Negeri 30 Palembang. Anak bungsu dari dua saudara tersebut, rencanaya akan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 13 Palembang yang juga merupakan salah satu sekolah inklusi. (cjs01)



