- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Enam Terduga Teroris Tewas Didor Polisi
TUBAN – Enam orang terduga teroris yang tewas dalam kontak tembak dengan aparat kepolisian di Kota Tuban, Jawa Timur, diduga terkait kelompok Jemaah Ansharut Daulah, JAD. Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin mengungkapkan hal itu dalam keterangan pers di Mapolres Tuban, Sabtu (8/4) malam.
Kapolda Jatim menyebut serangan bersenjata ini dilatari motif “balas dendam” terhadap aparat kepolisian. Kelompok JAD dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang saat ini tengah dipenjara dalam kasus pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho Aceh Besar pada 2010 lalu. Sejumlah kasus serangan terorisme belakangan ini juga terkait kelompok ini.
“Yang jelas, ada kaitannya teroris, kelompok Jemaah Ansharut Daulah, JAD,” ungkap Machfud Amin, saat ditanya wartawan tentang kepastian kaitan enam terduga pelaku penyerangan tersebut dengan kelompok teroris.
Kapolda mengatakan enam orang tersebut tewas dalam kontak tembak dengan aparat kepolisian – terdiri dari Brimob dan Densus 88 – di sekitar perkampungan Desa Suwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
“Yang berhasil kita eksekusi ada enam orang dan di situ ada senjatanya enam. Terjadi kontak tembak sebenarnya,” jelas Kapolda.
Sejauh ini kepolisian belum mengungkapkan jati diri para pelaku, tetapi Kapolda menyebutkan kelompok ini terkait dengan penangkapan dua tersangka teroris di Lamongan, Jumat (07/04). Kepada wartawan, Kapolda juga menyebutkan bahwa ada salah-seorang yang ditangkap karena dicurigai terkait kelompok tersebut, walaupun belum bisa dipastikan.
“Masih pendalaman, tapi indikasi dari keluarganya (yang) sudah telepon, (bahwa pria itu) pernah dirawat di RSJ Menur tiga kali,” tambahnya.
Rencananya enam jenazah terduga teroris itu akan diidentifikasi di Surabaya, kata polisi. Dalam jumpa pers, Kapolda Jatim menjelaskan bahwa kontak tembak pihaknya dengan enam terduga teroris diawali saat kendaraan roda empat yang ditumpangi enam terduga berhenti di sebuah pos polisi lalu lintas di Jalan Raya Tuban.
Kejadiannya sekitar pukul 10 pagi. “Anggota (polisi) berpikir mereka mau bertanya. Tahu-tahunya, mereka menonjolkan senjatanya, dan menembakkannya ke arah petugas,” ungkapnya.
Semua tembakan itu tidak mengenai sasaran, karena para petugas kepolisian dalam posisi duduk. “Ditembak lagi, tidak kena. Anggota (polisi) tiarap. Yang di belakang menembak, yang di depan (kendaraan) juga menembak.”
Menurut Kapolda, setelah gagal menembak sasaran, para pelaku melarikan kendaraannya. Petugas kepolisian kemudian mengontak atasannya untuk meminta agar pelaku dicegat atau dihadang. Aparat kepolisian lainnya kemudian mengejarnya.
Situasi jalan raya saat itu tengah macet, ungkapnya. “Kemudian terjadi senggol-menyenggol (antar kendaraan petugas dan terduga). “(Pelaku kemudian) nodongin senjata, dan anggota mundur.”
Namun demikian, aparat kepolisian berhasil mengejar kendaraan pelaku. “Karena dihadang di sana, mereka takut, berhenti dan meninggalkan kendaraannya.”
Mereka kemudian melarikan diri ke arah pemukiman penduduk di sekitar perkampungan Desa Suwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Aparat kepolisian, yang terdiri antara lain pasukan Brimob dan Densus 88 kemudian mengepung para terduga. “Kemudian terjadi baku tembak,” kata Kapolda Jatim. (bbc)



