Ratu Sinuhun Pelopor Feminisme di Sumsel

PALEMBANG – Aksi kontroversi wakil Sumatera Selatan, Nur Harisyah Pratiwi (21), biasa disapa Caca memakai kostum Ratu Sinuhun yang dinilai vulgar pada Malam Bakat Seni Budaya Pemilihan Puteri Indonesia 2017, Senin (27/3), memunculkan berbagai pendapat. Salah satu wacana terkait identitas perumus kitab Simbur Cahaya itu dilontarkan Dicky Meiriando SSTP MH, founder Komunitas Musi Melayu, saat berkunjung ke Kantor Berita Simbur, Jl Jenderal Sudirman, Palembang, Rabu (29/3).

Menurut Dicky, apa yang sudah dilakukan wakil Sumsel di ajang PPI 2017 merupakan ketidakpahaman terhadap sejarah dan budaya yang ada di Palembang. Baginya, Ratu Sinuhun bukan sekadar penggagas lahirnya kitab hukum adat Simbur Cahaya, tapi merupakan sosok pelopor feminisme di Palembang.

“Sosok Ratu Sinuhun istri raja yang beragama Islam. Salah satu situs yang membuktikan bahwa ratu Sinuhun beragama Islam bisa dilihat dari kompleks makam Sabokingking. Di sana ada makam Raja Sido ing Kenayan, Ratu Sinuhun dan makam Habib Ali Idrus. Habib yang berasal dari jazirah Arab itulah yang menjadi guru agama dan penasihat Raja dan Ratu.  Kitab Simbur Cahaya dibuat berdasarkan hukum adat yang berlaku di masyarakat dan syariat Islam,” ungkapnya.

Ditanya busana yang dikenakan Caca, Dicky tetap memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan desainernya.
Secara inisiasi, tambah Dicky, hal tersebut terbilang bagus. Dengan adanya busana yang bertemakan Ratu Sinuhun, masyarakat di Sumsel khsususnya Palembang akan lebih mengenal sosok Ratu Sinuhun yang juga dianggap pelopor dan pejuang feminisme pada zamannya.

“Sebenarnya niat desainernya sudah bagus. Kami tetap mengapresiasi tema yang diusung. Hanya yang patut disayangkan, desainernya tidak mengenal atau tidak mengetahui dengan baik siapa Ratu Sinuhun sebelum merancang busana dengan teks-teks kebudayaannya. Dalam mendeskripsikan, harapnya, jangan menghilangkan unsur adat dan agama Islam yang dianut Ratu Sinuhun.

“Kalau bisa, gadis-gadis Sumsel khususnya Palembang lebih mengidolakan Ratu Sinuhun dibanding sosok perempuan lainnya. Kami menyarankan kepada pihak-pihak terkait, boleh-boleh saja berkreasi. Hanya saja, deskripsi busana tersebut harus juga mencerminkan sosok Ratu Sinuhun yang sebenarnya. Jangan karena dalih kreatifitas akhirnya menghilangkan unsur adat dan unsur syiar Islam apalagi menghilangkan visi dan misi Ratu Sinuhun dalam rancangan sang desainer,” tegasnya.

Seharusnya, saran Dicky, sebelum mengeluarkan rancangan, desainer atau Yayasan Puteri Indonesia, pemerintah dan budayawan harus duduk bersama dan menjalin komunikasi dua arah. “Sangat dipahami, jika desainer pasti akan membuat busana yang bernilai ekonomis tinggi dan kekinian,” urainya.

Dicky menambahkan, ketika ingin mengambil tema yang lampau atau yang berhubungan dengan identitas dan teks kebudayaan suatu daerah, desainer harus meminta masukan dari budayawan lokal atau pemerintah tentang deskripsi Ratu Sinuhun. “Karena, unsur adat masyarakat Sumsel dan syiar Islam melekat di diri Ratu Sinuhun,” tutupnya.(mrf)