- Warga Lima Desa Perbaiki Jalan Rusak secara Swadaya
- Gubernur Papua Apresiasi Dukungan BKN Tingkatkan Kualitas ASN Daerah
- PWI Pusat Serahkan Uang Duka kepada Keluarga Almarhum Zulmansyah Sekedang
- Car Free Night Atmo Geliatkan Ekonomi dan Bahagiakan Warga Palembang
- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
Inovasi Nelayan Menjaga Kedaulatan Maritim Indonesia
PALEMBANG – Dunia tidak bisa pungkiri betapa hebatnya pelaut nusantara dan kekayaan laut yang membentang dari sabang sampai merauke. Kejayaan dunia maritim serta kebudayaannya mulai dari kerajaan Sriwijaya sampai kerajaan Gowa-Tallo di timur Indonesia, membawa bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang mampu berdiri tegak pada zamannya.
Sayangnya, kilau kejayaan itu hampir tidak bisa dinikmati oleh generasi saat ini. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia kini telah lupa dengan identitasnya yakni budaya agrikultur dan maritimnya. Bangsa ini lebih senang dengan seksinya budaya kontinental yang sama sekali bukan warisan nenek moyang.
Pemerintah dan masyarakat berbondong-bondong menanam dan menancapkan beton-beton raksasa dan menyingkirkan segala warisan yang dianggap ketinggalan zaman. Pekerjaan kantoran menjadi primadona sampai lupa jika dahulu bangsa ini besar karena para nelayan dan petani. Dengan fakta tersebut bukan berarti sudah tidak adalagi harapan, sebab harapan membangkitkan lagi kekuatan maritim dan agrikultur masih ada dalam peta peradaban Indonesia saat ini.
Berbagai upaya dan program yang dicanangkan pemerintah saat ini sudah mulai menyentuh dan bahkan berusaha menjadikan Indonesia bangkit kembali sebagai poros maritim dengan cara memaksimalkan sumber daya alam khususnya potensi kelautan. Hal ini bisa terlihat dengan gencarnya program dan sosialisasi yang dilakukan Kementerian Perekonomian Bidang Kemaritiman dihampir seluruh wilayah nusantara. Apakah hanya sampai disitu?
Ternyata sangat disadari jika ingin mencapai hal tersebut, diperlukan teknologi penunjang yang inovatif dan tepat guna. Maka dari itu, Kemaritiman berinisatif untuk menggandeng salah seorang anak bangsa yang dengan kepeduliannya bersama para nelayan telah berhasil membuat sebuah inovasi tepat guna (Konverter Kit ABG) yang diharapkan mampu menjadi solusi ditengah ketergantungan nelayan kecil akan konsumsi BBM yang harganya kian hari kian mencekik akibat kebijakan penghapusan subsidi BBM yang sedang berjalan saat ini.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat tersebut, Simbur Sumatera mencoba menelusuri dengan ikut bersama rombongan Kemenko Bidang Kemaritiman yang dikabarkan sudah menggandeng Inventor dari alat inovatif tersebut meninjau langsung pembangunan PPI PUS Sungai Lilin di Desa Teluk Kemang Muba. Menurut informasi yang diperoleh bahwa Kemaritiman sangat mensupport sosialisasi KK ABG kepada para nelayan kecil. Dengan menumpangi Bus Pariwisata, Simbur Sumatera dan rombongan berangkat dari Hotel Aryaduta Palembang menuju Sungai Lilin.
Perjalanan sekitar lima jam dengan kondisi jalan berbukit ditambah beberapa ruas jalan yang rusak, menjadi kelelahan yang tidak mengecewakan sebab mencari tahu tentang inovasi anak bangsa yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi nelayan kecl dan petani kecil adalah hal yang tidak boleh mengendap begitu saja. Masyarakat harus tahu tentang informasi tersebut secara lengkap agar tidak ragu-ragu mengunakan dan yang tepenting selalu mencintai karya anak bangsa dan produk dalam negeri.
Adalah Amin (46 tahun) atau dikenal dengan Amin BenGas (ABG) yang merupakan putra daerah dari Pontianak Kalimantan barat yang memiliki kegelisahan melihat nasib petani dan nelayan kecil. Lelaki yang juga tamatan S1 jurusan Sosial Ekonomi Pertanian ini bersama-sama dengan masyarakat petani dan nelayan kecil mengembangkan alat Konverter Kit yang mencoba mengalihkan ketergantungan penggunaan BBM ke pemanfaatan gas elpiji 3 kilogram pada mesin produksi yang dipakai. Saat ini, alat tersebut sudah diaplikasikan kepada para nelayan kecil yang memang paling merasakan dampak kebijakan pencabutan subsidi BBM tersebut. “Jahes Veva Jaya Mahe” yang berarti Di Laut Kita Berjaya, menjadi spirit dari gerakan sosial yang dilakukannya saat ini.
“Inovasi ini dikembangkan oleh kami dan para nelayan. Tidak ada kontrak dengan pihak manapun kecuali dengan para nelayan, sebab itulah semboyan kami adalah Dari Nelayan, Oleh Nelayan, Untuk Nelayan,”tegasnya kepada Simbur Sumatera.
Memang, untuk membuat alat Konverter Kit (KK ABG), Amin melibatkan nelayan kecil sebagai partner sehingga segala kebutuhan dan keluhan nelayan dapat tertampung melalui questioner yang kemudian terciptalah sebuah inovasi sederhana yakni penggunaan gas elpiji 3 kilogram untuk bahan bakar perahu nelayan. Sejak tahun 2010, tim tersebut terus berupaya berinovasi sehingga di tahun 2016 alat tersebut sudah mencapai generasi yang kesembilan. Generasi pertama dari alat tersebut sudah disebarkan untuk 20 nelayan yang dipakai selama 6 bulan sampai satu tahun.
Dalam kurun waktu tersebut, secara rutin para nelayan diberikan questioner tentang apa kekeurangan dan kelebihan alatnya. Masukan dari questioner inilah sehingga muncul generasi kedua dan yang terakhir adalah generasi kesembilan yang sudah berstatus Standar Nasional Indonesia (SNI) dan merupakan satu-satunya di Indonesia. Istimewanya lagi, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kami itu hampir mencapai 90 persen yang berartimerupakan karya anak bangsa yang patut diapresiasi oleh pemerintah.
Perjalanan panjang itu tentu bukan tanpa kendala karena diawal, gagasan KK ABG tersebut tidak memiliki payung hukum. Pada tahun 2015, akhirnya keluarlah Perpres 126 Tahun 2015 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas Untuk Kapal Perikanan Bagi Nelayan Kecil. Disisi lain, kendala yang dihadapi adalah menyakinkan para pihak bahwa gas LPG itu adalah pilihan yang logis, bukan cuma gas CNG atau yang lainnya karena produknya tidak tersedia dan kurang familiar di masyarakat.
“Dari semua kendala yang ada, hal yang tersulit yakni bagaimana cara menyakinkan para nelayan jika alat tersebut sangat aman dan upaya untuk merubah ketergantungan dan kebiasaan nelayan dari penggunaan BBM ke BBG,” ungkapnya.KK ABG adalah program yang sifatnya aplikatif karena yang memakai langsung oleh nelayan dan alat yang ada saat ini sangatlah sederhana tetapi perlu diketahui bahwa semakin sederhana suatu alat maka semakin tinggi tingkat kesulitannya. Alat tersebut sengaja lebih disederhanakan karena mereka tidak akan memakai alat yang baginya sangat rumit dan membuat pusing dalam pemakaiannya.
Dijelaskan, Cara kerja Konverter kit adalah gas mengalir dari tabung gas ke regulator yang dilengkapi dengan pengaman lalu kemudian melewati selang gas menuju ke Konverter Kityang didalamnya ada alat pengaman dan pengatur kebutuhan suply bahan bakar mesin. Diantara Konverter dan mesin, ada kran sebagai pengaman yang berfungsi untuk menutup dan membuka suply bahan bakar. Jadi selama mesin tidak mengisap bahan bakar maka itu tidak mengalir sehingga berdampak pada efisiensi bahan bakar.
“Awalnya para nelayan takut jika gas elpiji meledak atau terbakar, padahal secara teknis Konverter Kit adalah alat yang sangat aman. Apalagi pemakaiannya di luar ruangan sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi ledakan atau terbakar selama selang atau regulator tidak bocor. Sebenarnya ledakan tabung gas itu terjadi jika muatan gas itu lebih banyak daripada udara. Jadi dengan pemakaian di laut, secara teknis hampir tidak mungkin terjadi ledakan atau kebakaran,” jelas Amin.
Lebih istimewanya lagi, dengan memakai konverter kit ini, jika terjadi kebocoran pada selang atau regulator secara otomatis mesin tidak akan hidup karena lost of pressure. Hal terebut sangat berbeda dengan penggunaan BBM pada umumnya. Sebenarnya secara matematis, Konverter Kit ini bisa dipakai untuk semua mesin. Dari mesin 5,5 Hp sampai 14 Hp (satu silinder) maupun mesin dua silinder semua bisa berfungsi hanya dengan satu Konverter Kit. Hal tersebut karena tujuan utama penciptaan alat KK ABG adalah ingin membantu nelayan kecil yang terkendala dengan mahalnya harga BBM.
“Jika saja kami profit oriented, bisa saja kami membuat banyak varian Konverter Kit tersebut untuk berbagai jenis mesinnya.Hanya saja penggunaan untuk mesin mobil belum bisa diterapkan karena berbenturan dengan aturan subsidi gas elpiji 3 kilogram,” terangnya sambil tersenyum.
Untuk mengetahui seberapa irit penggunaan KK ABG bisa dilihat dari pengakuan semua nalayan yang sudah menggunakan alat tersebut. Menurut nelayan satu tabung gas LPGtga kilogram itu berbanding dengan 10-15 liter bahan bakar. Dengan demikian keuntungan dari nelayan adalah penghematan untuk kebutuhan bahan bakar, dengan semakin jauhnya jangkauan spot ikan yang bisa dicapai oleh nelayan berarti semakin besar potensi hasil tangkapnya. Keuntungan tersebut tentu bermuara pada kesejahteraan para nelayan. Disamping itu, dengan semakin jauhnya jangkauan para nelayan, mereka juga turut menjadi mata dan telinga bagi negara khususnya Polairut yang menjaga keamanan dan kedaulatan perairan Indonesia. Mereka bisa melaporkan jika ada kapal asing yang masuk di perairan wilayah kedaulatan Indonesia.
Untuk diketahui, Saat ini Penggagas Konverter Kit sudah menjalin kerjasama untuk cetak alat dengan salah satu perusahaan pembuat Regulator Gas elpiji di Tangerang yang kemampuan produksinya dalam sehari bisa mencapai 2000 – 2500 unit.Pendistribusian alat tersebut sudah mencapai ribuan unit di seluruh wilayah Indonesia. Untuk Muba sendiri, ini kali pertama dilakukan sosialisasi dan ujicoba dengan membawa 3 unit Konverter Kit untuk dihibahkan kepada nelayan yang sudah dipilih secara acak.
“Saat ini kami tidak menjual langsung ke masyarakat, apalagi ini dibuat bersama-sama dengan nelayan. Karena pemerintah sudah mulai mencabut subsidi BBM, maka diharapkan anggaran dari pencabutan subsidi BBM bisa kembali dianggarkan untuk pengadaan Konverter Kit yang dialokasikan untuk para nelayan kecil dan petani kecil. Karena dampak pencabutan subsidi BBM itu lebih terasa pada mereka yang masih usaha skala kecil. Apalagi di Kementerian ESDM sudah ada anggaran untuk kesejahteraan nelayan kecil yang alokasi dananya sampai tahun 2019 dan ditambah Konverter Kit ini sudah masuk dalam program paket ekonomi jilid satu yang dicanangkan oleh presiden RI, Joko Widodo.
Amin dan tentunya para nelayan kecil dan petani kecil sangat berharap pemerintah bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk cinta akan produk dalam negeri dan inovasi anak bangsa yang sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diakui baik di dalam maupun luar negeri dengan cara membuat anggaran untuk belanja produk dalam negeri. “Negara bisa lebih hemat jika pemerintah bisa mendorong inovasi anak bangsa, menghidupkan industri kecil dalam negeri, membuka lapangan kerja dan yang terpenting mengurangi belanja import luar negeri,” ungkapnya.
Baginya, kehadiran pemerintah dan peran sertanya akan menjadi hal yang sangat positif dalam meningkatkan dan memaksimalkan potensi kelautan dan pertanian yang sangat kaya ini. “Untuk sampai di generasi kesembilan ini (biaya riset), sudah sangat banyak dana pribadi yang saya iklaskan karena dengan semangat peduli, berbagi dan konsistensi dalam upaya yang saya anggap adalah kerja sosial bagi mereka yang membutuhkan. Man Jadda Wa Jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil,” serunya dengan raut wajah penuh keyakinan. (mrf)



