- Bertambah Jadi Enam Bandara Tutup Sementara, Penyeberangan Selat Sunda Tetap Jalan
- M Alkautsar Pimpin Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol, MTI Pusat Bakal Gelar FGD Nasional di Lampung
- Abu Vulkanik akibat Letusan Gunung Anak Krakatau Kuasai Ruang Udara, Lima Bandara Ditutup Sementara
- Aktivitas Gunung Sinabung Meningkat, Arahkan Warga ke Zona Aman
- Gunung Anak Krakatau Meletus, Imbau Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada
Abu Vulkanik akibat Letusan Gunung Anak Krakatau Kuasai Ruang Udara, Lima Bandara Ditutup Sementara
PALEMBANG, SIMBUR – Lima bandara ditutup sementara akibat letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Meski peristiwa erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB namun masih terjadi hingga Minggu (6/9). Hal itu diungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Ir Lukman F. Laisa. “Saat ini memang sudah lima airport yang ditutup,” ujar Lukman saat konferensi pers, Minggu (6/9).
Lima bandara yang ditutup, yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup pada pukul 02.08–09.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup pada pukul 07.20–10.00 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18–10.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48–09.30 WIB. “Tambah lagi barusan yakni Pondok Cabe (Tangerang Selatan),” tegasnya.
Penutupan bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan. Menyusul sebaran abu vulkanik di ruang udara. Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan. Masyarakat pengguna jasa penerbangan diharapkan memantau informasi terbaru dari operator bandara dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan.
Dampak terhadap penerbangan tersebut berkaitan dengan perkembangan aktivitas erupsi dan sebaran abu vulkanik yang terus dipantau. Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi menerus Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Pada periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB tanggal 5 September 2026 tercatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau sekitar enam jam.
Pada periode yang sama, pendaran merah dari aktivitas erupsi teramati secara terus-menerus, sedangkan kolom erupsi tidak selalu terlihat pada setiap periode pengamatan. Aktivitas tersebut juga disertai fenomena lava fountain dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.
Selain pengamatan secara langsung dari pos pengamatan, perkembangan sebaran abu juga dipantau melalui satelit. Berdasarkan pemantauan Himawari dan VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan ke barat hingga barat daya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik masih bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas erupsi serta kondisi meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin. Pihaknya akan terus memantau erupsi melalui grup stakeholders seperti airport, airnav sehingga dapat memantau terus pergerakan abu vulkanik. “Erupsi akan terus terjadi. Frekuensinya akan terus kami pantau setiap pergerakan abu vulkanik,” ujarnya.



