Menhut Beri Saran Padamkan Karhutla Sumsel secara Spiritual, Gubernur: Jangan Berharap Hujan

Melalui kerja sama intensif tim gabungan, lahan seluas 18,36 hektare berhasil dipadamkan, dengan rincian 2,5 ha melalui water bombing dan 15,86 hektare melalui operasi darat. Saat ini, fokus utama tertuju pada tahap pendinginan (cooling down) di sisa area seluas 48,7 hektare, terutama pada lahan gambut agar api tidak kembali berkobar.

Sebaran Titik Api Prioritas prioritas tinggi di Ogan Komering Ilir (OKI) 5 titik dengan 21 hektare (Kota Bumi dan Tulung Selapan). Musi Banyuasin (Muba) 1 titik sekitar 7 hektare (Lalan, gambut tebal, dan angin kencang). Prioritas sedang Muara Enim 2 titik sekitar 11 hektare (Gelumbang dan Sungai Rotan). Prioritas ringan Musi Rawas Utara, OKU Timur, OKU, dan Ogan Ilir Masing-masing 1 titik sekitar 3–4 hektare.

Penguatan mobilisasi personel dan peralatan operasional terus ditingkatkan
guna mengantisipasi keterbatasan akses lokasi dan sumber air, sebanyak 11.567 personel gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api (MPA), sektor swasta, dan relawan telah dikerahkan ke lapangan.

Tren kebakaran turun 88 persen, kualitas udara tetap diwaspadai. Dalam upaya penanganan karhutla di Sumsel dalam tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan luas area terbakar yang signifikan hingga lebih dari 88 persen. Lahan terbakar pada.2023 sekitar 264.165,68 hektare. Tahun 2024: 30.844,96 ha, Tahun 2025: 11.879,56 ha. Capaian ini memperlihatkan efektivitas sistem peringatan dini, respons cepat Satgas, dan kolaborasi lintas sektor. Secara umum, situasi karhutla di Sumsel tetap terkendali dan aktivitas masyarakat berjalan aman.

Meski demikian, imbas penumpukan asap sempat memicu penurunan kualitas udara. Stasiun pemantau kualitas udara Kota Palembang pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU/AQI) di angka 247 (Sangat Tidak Sehat).

Ia juga menyampaikan kabar baik bahwa pada 1 hingga 4 September terdapat potensi hujan di wilayah Sumsel. Meski demikian, Suharyanto meminta seluruh pihak tidak lengah dan tetap melakukan upaya pemadaman secara maksimal. “Pemadaman api membutuhkan kerja sama semua pihak. Sumsel punya empat water bombing. Jika masih ada yang terbakar, mari berjibaku memadamkannya,” ujarnya.