- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
- Protes Meluas, Warga Banyuasin Kesulitan Air Bersih
- Komitmen Indonesia-Unicef Dukung Pemenuhan Hak Anak
- PWI Pusat Dorong Perlindungan Karya Jurnalistik Masuk Revisi UU Hak Cipta
Pancaroba Tidak Berdampak Signifikan saat Musim Haji, Waspada Kenaikan Suhu dan Hujan Mendadak di Sumsel
PALEMBANG, SIMBUR – Provinsi Sumatera Selatan sedang memasuki pergantian musim dari penghujan memasuki kemarau. Meski demikian, transisi atau pergantian musim tidak berdampak signifikan pada kondisi kesehatan calon jemaah haji (CJH) asal Sumsel yang akan diterbangkan ke Tanah Suci.
“Secara langsung tidak signifikan ya. Karena tantangan mereka (CJH) adalah situasi di Mekkah,” ungkap Dr Wandayantolis, Koordinator BMKG Sumatera Selatan, dikonfirmasi Simbur, Kamis (1/5).
Menurut Dayan, sapaan Wandayantolis, bulan Mei merupakan penghujung musim hujan di Sumatera Selatan sebelum wilayah ini secara bertahap memasuki musim kemarau pada Juni 2025. “Saat ini, wilayah Sumsel sedang berada dalam masa pancaroba, yaitu masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” jelasnya.
Diterangkannya pula terkait kondisi terkini iklim Sumsel. Lanjut Dayan, curah hujan pada dasarian III April 2025 menunjukkan kondisi yang beragam. Kategori Menengah (51–150 mm) sebagian besar wilayah Sumsel. Kategori Tinggi (151–300 mm) sebagian kecil Lahat, Muara Enim bagian barat, dan OKU Selatan bagian utara.
Terakhir, Kategori Rendah (<50 mm) Musi Banyuasin, Banyuasin bagian selatan, Palembang, Ogan Ilir, Prabumulih, sebagian Muara Enim, OKI bagian selatan, OKU Timur, OKU bagian timur, OKU Selatan bagian barat. Selanjutnya, sebagian kecil Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, sebagian Lubuk Linggau, dan Musi Rawas.
Dayan menambahkan, fase pancaroba biasanya diikuti dengan peningkatan suhu udara harian. Ini adalah puncak suhu udara maksimum pertama dalam setahun (puncak kedua terjadi sekitar akhir September–Oktober). “Terkait dengan pelepasan panas dari daratan dan lautan setelah matahari bergerak semu melintasi wilayah Sumsel,” paparnya.
Selama masa ini, jeda hujan akan memanjang menjadi 3–6 hari tanpa hujan (HTH). “Saat HTH terjadi, suhu udara akan terasa lebih menyengat, akumulasi dari pelepasan panas tersebut di atas,” jelasnya.
Hal itu disebabkan juga akibat turunnya kelembaban udara (lebih sedikit uap air untuk menyerap dan memantulkan panas). Di samping minimnya pembentukan awan yang biasanya melindungi dari radiasi matahari langsung.
Waspada Hujan Mendadak dan Cuaca Ekstrem
Masih kata dia, pola cuaca pada masa pancaroba juga cenderung berubah dengan cepat. Pemanasan intensif pada pagi hari bisa memicu pembentukan sistem konvektif kuat di siang hingga sore hari. “Hal ini dapat menyebabkan hujan deras berdurasi singkat. Selain itu, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es,” ujarnya
Pihaknya mengimbau masyarakat Sumatera Selatan untuk menghindari aktivitas luar ruangan berlebih pada siang hari untuk mencegah paparan suhu tinggi. Menggunakan pakaian pelindung dan tabir surya bila berada di luar. Mencukupi asupan air putih untuk mencegah dehidrasi.
“Waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat mendadak dan angin kencang, khususnya pada siang hingga sore hari. Lindungi barang dan bangunan ringan, serta hindari berlindung di bawah pohon saat angin kencang atau badai,” tandasnya.
Calon Jemaah Haji Embarkasi Palembang Bertahap Diterbangkan ke Tanah Suci
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sumsel H. Syafitri Irwan mengatakan, terdapat 7.012 calon jamaah haji asal Sumsel diberangkatkan. Dimana, para jamaah akan diberangkatkan dalam 22 kelompok terbang (kloter), terdiri dari 19 kloter asal Sumsel dan 3 kloter dari Babel. “Pemberangkatan ini nantinya akan didampingi oleh 48 petugas kloter dan 25 petugas dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIH),” katanya.
Dia menyebut bahwa persiapan pemberangkatan haji untuk wilayah Sumsel dan Babel telah siap dan lengkap. “Sudah 98 persen persiapan ini telah lengkap mencakup kelengkapan dokumen, seperti paspor dan visa, yang hampir seluruhnya telah diselesaikan oleh para jamaah,” ucapnya.
Diketahui jumlah terbanyak per daerah jemaah calon haji, terbanyak dari Palembang sebanyak 2.916 orang, OKU Timur 933 orang, OKI 509 orang, Muara Enim 346 orang, Lahat 275 orang, OKU 273 orang, dan Ogan Ilir 272 orang, selanjutnya Banyuasin 253 orang, Lubuklinggau 247 orang, Prabumulih 200 orang, Muba 198 orang, Mura 190 orang, Pagar Alam 135 orang, Muratara 104 orang, OKU Selatan 99 orang, Empat Lawang 39 orang, dan PALI 29 orang.
Diketahui, embarkasi Palembang memberangkatkan sekitar 8.077 jemaah yang akan menunaikan ibadah haji tahun 1446 H/2025 M. Jemaah asal Sumsel seluruhnya ada 7.012 orang, sedangkan jemaah asal Babel sebanyak 1.065 orang.
Embarkasi Palembang tahun ini memiliki 22 kloter. Bertambah dari tahun 2024 sebanyak 19 kloter. Keberangkatan kloter dibagi menjadi dua gelombang. Untuk gelombang I terbagi dalam kloter 1-11. Periode jemaah masuk asrama pada 2-14 Mei 2025. Sementara untuk gelombang II, yang berangkat kloter 12-22. Periode jemaah masuk asrama pada 16-28 Mei 2025.
Kloter 1 tahun ini masuk asrama pada 2 Mei 2025 pukul 18.00 WIB dan akan diberangkatkan mulai 3 Mei 2025 pukul 18.20 WIB. Sementara, Kloter terakhir atau 22 masuk asrama pada 28 Mei 2025 pukul 06.00 WIB.
Kloter 1, jemaah calon haji yang masuk asrama berasal dari Kabupaten OKU Timur. Jumlah jemaah mencapai 933 orang. Jemaah asal wilayah ini dibagi dua kloter, yakni 1 dan 3. Sedangkan jemaah calon haji asal Babel tergabung di kloter 6, 7, dan 8. Tiga kloter itu akan masuk asrama pada 8-10 Mei dan berangkat 9-11 Mei 2025.(red)



