- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Presiden Jokowi Tinjau Banjir Demak
# Maksimalkan Pemompaan dan Perpanjang Operasi TMC
JAKARTA, SIMBUR – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto melakukan peninjauan banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Jumat (22/3). Dalam kunjungannya, Jokowi melihat kondisi pengungsian di SMK Ganesha Demak sekaligus memberikan bantuan kepada warga yang terdampak banjir.
Presiden mengatakan, hujan ekstrem yang turun menyebabkan tanggul tidak mampu menampung air dan jebol sehingga menggenangi rumah warga. Saat ini menurut Presiden perbaikan tanggul di daerah tersebut telah dilakukan.
Tak hanya memperbaiki tanggul, pemerintah juga telah melakukan teknik modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah Kabupaten Demak dan sekitarnya. “Kita harapkan, yang kedua, awan di atas juga telah dilakukan TMC, sehingga bisa digeser ke arah laut. Ini juga akan sangat mengurangi hujan yang ada di Kabupaten Demak dan sekitarnya,” ujar Presiden, dilansir Setkab.
Selain itu, pemerintah juga terus melakukan pemompaan untuk mengurangi genangan air. Presiden mengungkapkan, genangan air yang semula mencapai 2 meter telah surut hingga sekitar 50 sentimeter. “Ini sudah turun dari 2 meter, saya tadi mendapatkan laporan, hampir semuanya sudah setengah meter. Tetapi apapun itu tetap mengganggu aktivitas warga sehingga, yang ketiga nanti akan kita lakukan pemompaan-pemompaan,” ujarnya.
Presiden mengingatkan akan pentingnya menjaga lahan dan sungai dari sedimentasi. Hal tersebut menurutnya juga berdampak pada peningkatan risiko banjir. “Semua waduk, semua sungai itu problemnya selalu sedimentasi. Kenapa itu terjadi? Karena juga tidak dihambat di hulunya tanaman-tanaman yang banyak, banyak yang ditebang, problemnya semua di situ. Kalau tidak terjadi banjir bandang ya banjir, problemnya di situ,” ujarnya.
Terkait bangunan yang rusak akibat bencana, Presiden Jokowi menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan pengecekan dan pemulihan. “Nanti Kementerian PU biar dicek dengan BNPB, termasuk yang tanamannya rusak nanti akan diberi bibit lagi dari Kementerian Pertanian,” tandasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Demak memaksimalkan upaya pemompaan genangan air guna percepatan penanganan banjir yang melanda wilayah ini sejak Rabu (13/3). Tim gabungan telah mengaktifkan pompa sejak Rabu (20/3).
Abdul Muhari, Ph.D, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menerangkan, laporan terkini pada Sabtu (23/3) lebih dari 30 pompa tersebar di beberapa titik wilayah antara lain sebanyak enam titik di Kecamatan Demak Kota, dua titik di Kecamatan Karanganyar, dan satu titik di Desa Lempuyang. Beberapa pompa lainnya akan menyusul diaktifkan.
Unit-unit pompa diperbantukan dari beberapa instansi antara lain pompa dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, BPBD Kabupaten Jepara, BPBD Kabupaten Kudus, BPBD Kabupaten Semarang, BPBD Kota Surakarta, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Upaya pemompaan ini dimasifkan setelah penanganan beberapa titik tanggul yang jebol berhasil ditutup. Hingga Sabtu (23/3) dilaporkan titik tanggul jebol yang menunjukkan progres penanganan antara lain tanggul sungai Wulan (Mbugel) sudah tertutup serta tanggul Norowito sudah terbendung sepanjang delapan meter dari total 30 meter panjang jebol tanggul,” jelasnya.
BNPB juga memperpanjang operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga tanggal 27 Maret 2024 dalam rangka mendukung penanganan darurat banjir Demak. “Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan cuaca di wilayah Jawa Tengah terdapat potensi pertumbuhan awan hujan kategori tinggi (>70%) di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah,” ungkapnya.
Tiga upaya penanganan banjir Demak diatas menunjukkan hasil dengan turunnya ketinggian air di wilayah Demak Kota dan Kecamatan Karanganyar. Meskipun demikian, kondisi jalur pantura Demak-Kudus belum bisa dilalui. Arus lalu lintas untuk sementara dialihkan melalui Welahan dan Grobogan.
Jumlah Pengungsi Kembali Berkurang
Laporan termutakhir yang dihimpun Pusdalops BPBD Kabupaten Demak pada Sabtu (23/3) ini kembali terjadi penurunan jumlah pengungsi yang sebelumnya tercatat sebanyak 17.078 jiwa pada Jumat (22/3) turun menjadi 14.852 jiwa.
Para pengungsi yang masih bertahan tersebar di 110 titik pengungsian, terdiri dari 11.767 jiwa di Kecamatan Karanganyar, 1.597 jiwa di Kecamatan Sayung, 36 jiwa di Kecamatan Wonosalam, 60 jiwa di Kecamatan Karangtengah, 501 jiwa di Kecamatan Demak, 891 jiwa di Kecamatan Gajah, dan 1.614 jiwa di Kabupaten Kudus.
Guna memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, Pemkab Demak membuka dapur umum di 25 titik lokasi. “Dukungan bantuan kesehatan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas juga terus dilaksanakan di lokasi pengungsian,” tutupnya.(red/setkab)



