- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Tindak Kejahatan 3C Masih Tinggi, Dipicu Faktor Ekonomi
PALEMBANG, SIMBUR – Operasi Sikat Musi 2 segera digelar Polda Sumsel. Dengan sasaran pemberantasan aksi kriminalitas curas, curat dan curanmor atau kejahatan 3C, di metropolis dan Polda Sumsel jajaran. Kesiapannya dilakukan pada Senin (26/9) pagi di Gedung Presisi Mapolda Sumsel, dengan mengadakan latihan Pra Ops, untuk penyegaran dan meningkatkan keterampilan setiap anggota kepolisian sebelum kegiatan digelar.
“Dengan pra ops ini, setiap personel meningkat keterampilan anggota. Sehingga mampu menekan angka kriminalitas 3C di Sumsel,” harap Kombes Pol Drs Kamaruddin MSi selaku Karo Ops Polda Sumsel.
Sebab daerah metropolis dan Sumsel dianggap sangat strategis, dalam melancarkan aksi kejahatan hingga menjual barang curian baik dari darat atau pun laut. “Pelatihan ini sangat penting, sehingga personel kita mempunyai bekal dalam Ops Sikat II Musi 2022. Ada pun motifnya, tindakan 3C akibat faktor ekonomi sehingga orang itu nekat melakukan tindak kejahatan,” timbangnya.
Perwira tiga melati ini menegaskan, bahwa faktor ekonomi bisa mendorong orang untuk melakukan kejahatan. “Belum pulih perekonomian dan BBM membawa pengaruh besar memicu hal itu. Dari datang Anev operasi sikat I Musi 2022, ada 243 kasus dengan 272 tersangka,” cetusnya seraya merincikan, dari catatan curat dengan 179 kasus, curas dengan 36 kasus dan curanmor dengan 28 kasus.
Sementara, Kapolda Sumsel Irjen Pol Toni Harmanto MH mengatakan, bahwa Sumsel masuk dalam 10 peringkat terbesar dalam hal tindak kejahatan. “Inilah yang harus kami atasi, dengan berbagai upaya serius dan tanggung jawab, untuk menciptakan keamanan dan menekan tindak kejahatan khususnya 3C yang masih sangat tinggi,” terangnya.
Para anggota harus menyeimbangkan antara laporan dan ungkap kasus. “Sebab data yang didapatkan bahwa hal ini belum optimal antara laporan dan ungkap kasus yang dilakukan,” tukas jenderal bintang dua ini. (nrd)



