- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Pakar Bahasa dan Kritikus Sastra Indonesia Harimurti Kridalaksana Tutup Usia
PALEMBANG, SIMBUR – Awan duka menyelimuti langit di mana masyarakat bahasa dan sastra Indonesia berteduh. Pasalnya, linguis (pakar bahasa) sekaligus kritikus sastra Indonesia Prof Dr Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana (KPH Mertanegara) dikabarkan telah meninggal dunia pada Senin, 11 Juli 22 pukul 03.49 WIB di RSUD Pasar Minggu, Jakarta.
Kabar tersebut diperoleh dari jejaring sosial Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (Hiski Pusat). Selain dari ungkapan belasungkawa yang dirilis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Media ini mencoba menelusuri kebenaran informasi tersebut. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan pihak keluarga belum berhasil dikonfirmasi. Mengingat, keluarga yang ditinggal masih dalam kondisi berduka yakni istri Lien Harimurti, dan anaknya Albertus Harsawibawa, Adrianus Harsawaskita, dan Kiki Kushartanti. Informasi yang diperoleh almarhum akan dikremasi di Oasis Lestari pada pukul 15.00 WIB. Keluarga akan menyelenggarakan misa requim pada pukul 20.00 WIB.
Ucapan belasungkawa disampaikan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan Drs Umar Solikhan MHum mewakili jajaran. “Keluarga besar Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan turut berdukacita atas berpulangnya Prof Dr Harimurti Kridalaksana, pakar bahasa/linguis dan pekamus yang telah banyak berjasa bagi Pusat/Badan Bahasa dan masyarakat. Semoga Bapak Harimurti Kridalaksana mendapatkan kedamaian dan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan. Amin,” ujar Umar Solikhan kepada Simbur, Senin (11/7).
Terpisah, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Bahasa Universitas Bina Darma Palembang, Dr Hastari Mayrita MPd memperkuat kabar tersebut. Menurut Dr Hastari, pihaknya mewakili almamater mengucapkan turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya guru besar tersebut.
“Kami dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Darma turut berduka cita. Beliau adalah pakar linguistik. Banyak jasa dan masukan beliau dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang linguistik,” ungkap Hastari kepada Simbur, Senin (11/7).
Hastari masih mengenang, Prof Harimurti Kridalaksana bersama Prof Sapardi Djoko Damono (alm) pernah menjadi keynote speaker dalam seminar nasional yang digelar mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Sriwijaya pada satu dasawarsa lalu.
Dilansir Wikipedia dan sejumlah literatur dari berbagai sumber, Prof Dr Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana lahir pada 23 Desember 1939. Beliau adalah pakar sastra berkebangsaan Indonesia. Namanya juga dikenal sebagai kritikus sastra, penulis yang karya-karyanya telah diterbitkan di sejumlah buku. Harimurti merupakan salah satu pensiunan guru besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia sejak 2004. Dia pernah menjabat Direktur Pusat Leksikologi dan Leksikografi di UI.
Harimurti memperoleh gelar sarjana sastra dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1963, kemudian melanjutkan studi bidang didaktik bahasa di Universitas Pittsburgh, di Pennsylvania, Amerika Serikat pada 1970. Pada 1971 ia menjadi Fulbright Scholar di universitas tersebut. Pada 1973 ia mengikuti program musim panas dan menjadi sarjana tamu di Universitas Michigan, AS.
Pada 1985 ia menjadi sarjana Humboldtdengan tugas meneliti dan mengajar pada Universitas Goethe di Frankfurt am Main, Jerman . Pada 1987 ia meraih gelar doktornya dalam ilmu Sastra di Universitas Indonesia. Ia diangkat menjadi pangeran sentana di Pura Pakualaman Yogyakarta’. Karena itu, Harimurti sekarang bergelar dan bernama Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Martanegara.
Harimurti mulai aktif dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 ketika menjadi guru dalam bidang civic dan penerjemah berbagai tulisan dalam ilmu politik dan ilmu sosial selama beberapa tahun. Pada tahun itu pula ia mulai mengajar di Universitas Indonesia. Pada 1963 ia mengajar Sejarah Linguistik dan Perbandingan Sejarah Linguistik Austronesia. Setahun kemudian ia mengajar di Universitas Katolik Atma Jaya dan di pelbagai perguruan tinggi di Jakarta dan Yogyakarta, termasuk di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Universitas Gadjah Mada. Ia juga pernah mengajar di Frankfurt, Napoli, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Sampai kini ia masih aktif sebagai Profesor dalam bidang Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia.
Ia pernah dua kali menjabat sebagai Ketua Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Selama dua periode menjadi Koordinator Bidang Ilmu Budaya Program Pascasarjana. Ia juga mengajar di Universitas Trisakti di Jakarta. Selain itu, sampai sekarang ia menjadi penguji luar Universitas Annamalai di India, Universitas Malaya, Universitas Putra Malaysia, dan Universitas Brunei Darussalam.
Harimurti juga pernah menjadi konsultan bahasa Melayu pada Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, dan konsultan perkamusan dan peristilahan pada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ia menjadi editor Kamus Besar Bahasa IndonesiaEdisi Kedua dan “Kamus Mandarin-Indonesia”.
Harimurti pernah menjadi peneliti pada Proyek Penelitian Internasional tentang Proses Perencanaan Bahasa di Universitas Stanford, California, AS dan Universitas Indonesia (1970-1971). Selain penelitian sosiolinguistik, Harimurti juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga, lalu melanjutkan penelitiannya mengenai bahasa Orang Laut di Kepulauan Riau dan mengenai bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972. Penelitian ini disponsori oleh Lembaga Research Kebudayaan Nasional LIPI. Kemudian, pada tahun 1974 ia melakukan survei politik bahasa di Malaysia, Singapura, dan Filipina. (red)



