- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Harga Sembako Naik, Pedagang Tekan Modal agar Pelanggan Tidak Kabur
PALEMBANG, SIMBUR – Jelang hari raya Iduladha harga sembako kembali mengalami kenaikan. Bukan hanya minyak goreng, harga sejumlah bahan pokok seperti gula pasir, bawang merah, bawang putih, cabe serta daging ayam dan sapi juga mengalami kenaikan.
“Sebetulnya, permasalahan kenaikan harga sembako ini harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Banyak masyarakat mengeluhkan kenaikan harga sembako yang cukup tinggi. Karena ini sudah masalah klasik yang terus berulang setiap tahun,” ujar Yeyen, pengelola Pasar 16 Palembang, belum lama ini.
Kenaikan harga sembako, lanjut Yeyen, memang sudah menjadi hal biasa pada waktu tertentu seperti menjelang Lebaran. Kenaikan ini terjadi lantaran kebutuhan masyarakat yang meningkat, dengan kenaikan sekitar 10-15 persen. “Tahun ini diperparah dengan situasi pandemi. Secara ekonomi masyarakat saat ini pendapatannya turun drastis dan bahkan kehilangan pekerjaannya,” ungkapnya.
Ketika harga kebutuhan pokok naik cukup tinggi, sebagian besar warga mengeluh, karena akan menambah beban anggaran rumah tangga sehari-hari. “Kondisi itu juga akan menyedot anggaran untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Untuk menyikapi kenaikan harga kebutuhan pokok, kata dia, warga terpaksa melakukan terobosan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan tersebut. “Langkah itu di antaranya memperketat pengeluaran untuk kebutuhan lain dan mengurangi porsi belanja,” ujarnya.
Warga Palembang lainnya, Hera Wati (47) mengeluh akibat kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Dirinya sekarang kesulitan mengatur ekonomi rumah tangganya. “Semua kebutuhan pokok terus menaik mulai dari minyak, bawang, cabai dan daging. Saya harus mengurangi porsi belanja. Biasanya saya beli sekilo sekarang harus setengah kilo. Kalau tidak seperti itu akan sangat sulit mengatur pengeluaran,” ujarnya.
Ditambah lagi, kata Hera, semua kebutuhan pokok secara bersamaan naik, jadi harus pintar-pintar mengatur keuangan. “Tidak lama lagi mau lebaran kebutuhan pokok semua naik jadi tambah pusing saya,” keluhnya.
Sari, salah satu pemilik warteg di 8 Ulu Jakabaring, mengatakan, dengan terjadinya hal tersebut, tentunya juga memberikan dampak pada pelaku usaha warteg yang memerlukan bahan pangan tersebut sebagai modal berjualan sehari-harinya. Kondisi ini tentunya membuat mereka kesusahan dan harus memutar otak agar tidak terjadi kerugian.
“Dampaknya ya lumayan berat. Itu kan bahan kebutuhan sehari-hari untuk kami di warteg. Semua bahan pokok pada naik. Kalau sudah naik begitu, kami jadi mikir bagaimana caranya menekan harga modal supaya harga jualnya nggak ikut naik, biar pelanggan nggak pada kabur,” ucapnya.
Diungkapnya, pendapatan sejak bahan pokok naik menjadi turun dratis, sedangkan mau menaikkan harga jual bisa berdampak pelanggan pada kabur. “Harapan kami pedagang warteg ke pemerintah bisa mengontrol harga pasar. Jangan sampai pasar jalan bebas sendiri,” tutupnya.(wms14)



