- Lima Pendaki Terluka akibat Letusan Gunung Api Dukono
- Bertambah 3 Tersangka Baru, Total 10 Orang Terjerat Kasus Korupsi KUR Bank Daerah di Semendo
- Jaksa Beri Waktu Bos Perusahaan Sawit Satu Bulan Kembalikan Sisa Uang Rp219 Miliar dari Total Kredit Fiktif Rp1,4 Triliun
- Tabrakan Maut Bus versus Truk Tangki, 16 Korban Tewas Diidentifikasi di Palembang
- PWI Pusat dan Mahkamah Agung Bahas Pedoman Media Massa dan Media Sosial Peradilan
Sambut Berkah Lahan Gambut, Petani Tanamkan Ilmu dan Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat
Tebas Nanas, Tumbuh Tunas
Baso Patolai (50), bendahara Pokdarwis sekaligus ketua Badan Pemberdayaan Desa (BPD) menjelaskan sejarah terbentuknya agrowisata di Desa Tangkit Baru Kecamatan Muaro Jambi. “Dapat izin membuka lahan dari pesirah tahun 1968. Masuk ke sini masih sawah. Warga sini tidak terpikir karena lahannya tenggelam. Kami membuat kanal,” ungkap Baso Patolai, Rabu (22/6).
Menurut dia, desa tersebut dirintis oleh Syeikh Muhammmad Said. Ada 18 kepala keluarga (KK). Digambar lalu dibagi 10 parit. Sekarang menjadi 10 RT. “Dari 1.811 hektare lahan desa ini, 1.000 hektare nanas,” ungkap Baso.

Lanjut Baso Patolai, lahan tersebut mulai dibuka tahun 1968. “Dicoba menanam padi lebih dari 10 hektare tapi mutung terus. Asamnya tinggi. Sementara petani tanaman kopi, ubi, kelapa tapi tidak ada yang cocok,” jelasnya.
Pengalaman awalnya menanam padi. Sementara gambut tingkat keasaman tanah ph 3 tidak mungkin ditanam padi. Dicoba tanaman lain tidak cocok. Bekal sudah habis lalu dicobalah menanam ubi. Kondisi ini berlangsung 10 tahun. “Kedalaman gambut pernah sampai 4-5 meter. Bahkan ada yang sampai 7 meter. Sawit di sini paling 2 meter sudah tumbang,” jelasnya.



