Sambut Berkah Lahan Gambut, Petani Tanamkan Ilmu dan Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat

Pada saat itu, dia coba dengan 3.000 polybag pinang dan 3.000 polybag kopi. Alhamdulillah ada yang beli, kemudian kami kerjasamakan dengan Kabag Ekonomi Kabupaten. “Pada saat itu dengan misi batas desa. Awalnya seperti itu. Bagian Ekonomi Kabupaten membeli bibit pinang dan kami bagikan untuk batas desa,” terangnya.

Tahun 1980, lanjut Mardi, dia datang ke sini belum ada jalan. Tahun 1987 jalan ini baru dibuka tapi belum diaspal. “Tahun 1996 saya mulai menanam pinang. Pohon pinang yang paling tinggi yang tidak terjual tahun 1996 itu bibitnya saya tanam. Umurnya sudah 26 tahun. Sampai sekarang masih produksi. Bahkan oleh peneliti itu dinyatakan pohon induk,” terangnya.

Tahun 2009, tambah Mardi, pihaknya bekerja sama dengan Balitpalma Manado untuk melakukan penelitian pinang. Karena pinang itu dinamakan pinang sirih. “Dari kerja sama selama tiga tahun kami bertugas selaku pendamping, menghitung berapa biji yang dihasilkan setiap bulan. Sementara Balit Manado per tiga bulan datang ke sini, mengurusi jumlah pelepah daun dan lainnya. Setelah tiga tahun, sekitar tahun 2012 baru kami dilepas,” jelas Mardi.

Kenapa dinamakan pinang betara? Jawab Mardi, karena penelitiannya dilakukan di Kecamatan Betara. “Walaupun penelitian di kebun saya tidak mungkin dinamakan pinang Mardi. Jadi dinamakan pinang betara. Penelitian ada dua. Ada pinang dan kopi. Pelepasannya sama-sama pada tahun 2012 akhir. Kopinya dinamakan kopi liberika Tungkal. Tungkal itu nama kabupaten ini. Kalau pinangnya mengangkat kecamatan, kopinya ngangkat kabupaten,” paparnya.