- Lima Pendaki Terluka akibat Letusan Gunung Api Dukono
- Bertambah 3 Tersangka Baru, Total 10 Orang Terjerat Kasus Korupsi KUR Bank Daerah di Semendo
- Jaksa Beri Waktu Bos Perusahaan Sawit Satu Bulan Kembalikan Sisa Uang Rp219 Miliar dari Total Kredit Fiktif Rp1,4 Triliun
- Tabrakan Maut Bus versus Truk Tangki, 16 Korban Tewas Diidentifikasi di Palembang
- PWI Pusat dan Mahkamah Agung Bahas Pedoman Media Massa dan Media Sosial Peradilan
Sambut Berkah Lahan Gambut, Petani Tanamkan Ilmu dan Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat
Menurut Gadang, tahun 1990 daerah penghasil pinang betara, kopi liberika, dan nanas queen di Provinsi Jambi itu sama seperti di sekitar lokasi pabrik yang terletak di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. “Prinsipnya, sama dengan tempat (pabrik) kami (di Air Sugihan), lahan banyak terbengkalai dan tidak bermanfaat. Upaya ini agar lebih cepat melakukan perubahan. Harapan kami dengan kunjungan seperti ini bisa menyampaikan fakta di lapangan. Lahannya sama (gambut di kawasan air payau). Kenapa tidak bisa melakukannya untuk kebaikan ke depan. Sumber bibit jelas. Bagaimana kami membuat percontohan dulu dari beberapa kelompok tani di wilayah PT OKI Pulp and Paper Mills,” paparnya.
Ada dua alasan melakukan upaya tersebut. Pertama, lanjut Gadang, siap memberikan dukungan untuk kebersamaan. Apalagi ada contoh dan berhasil, pasti menular. Masyarakat selalu melihat contoh. “Kedua, jangan selalu berpikir sawit, sawit, sawit. Dengan adanya pinang bisa ada peluang tumpang sari. Menanam tanaman lain tentu bisa. Karena (pinang) ini merupakan pola tanaman yang lebih tepat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Mardi, pemilik Penangkar Benih Perkebunan (PBP) Sri Rezeki. Pria tersebut mengupas semua hal tentang pinang bentara dan kopi liberika tungkal. “Kebetulan saya dulu di Dinas perkebunan tapi tidak sampai satu tahun saya minta pensiun di usia 58,” ungkapnya.
Pria asal Boyolali itu menambahkan, tahun 1980 setelah tamat STM Pertanian, dirinya langsung ke Jambi yang ditugaskan langsung dari Dinas Perkebunan Jawa Tengah. “Pinang ini kami mulai dari tahun 1996. Pertama kami mencoba menanam pinang dan membuat bibitnya langsung. Waktu itu banyak orang tak percaya saya bikin bibit pinang. Pinang disemai apa langsung hidup,” imbuhnya.



