- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Waspada Bahaya Laten Adu Domba Tentara dengan Ulama
JAKARTA, SIMBUR – dugaan jika ketegangan antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan rakyat, terutama umat Islam terjadi karena adanya upaya adu domba dari orang-orang yang tidak suka akan kedekatan TNI dengan Rakyat. Hal itu bisa dilihat dari begitu banyaknya kejadian belakangan ini yang melibatkan TNI dengan rakyat.
“Saya melihatnya kejadian tersebut bukanlah kejadian biasa. Karena kejadiannya seperti terstruktur dan masif,” jelas Panglima Generasi Cinta Negeri (Gentari) Habib Umar Alhamid di kediamanya beberapa waktu yang lalu.
Menurutnya, seperti masalah penurunan baliho yang terjadi di Jakarta. Kenapa harus TNI yang menurunkan, bukannya ada Satpol PP. “Mungkin saja pada saat itu tidak ada yang berani menurunkannya, maka di instruksikanlah TNI yang di nilai dekat dan dicintai oleh rakyat,” tegasnya.
Belakangan muncul soal isu tentang pernyataan Kasad yang secara eksplisit maupun implisit siapapun akan mudah mencerna bahwa tidak ada yg salah dengan pernyataan tersebut. “Mayoritas masyarakat paham bahwa kalimat utuhnya tidak ada hal yang salah dengan ‘makna dan maksud’ dari kalimat tersebut,” katanya.
Selalu saja ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan berbagai upaya untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Semisal mencari panggung, mencari simpati atau mungkin sengaja mendeskreditkan tokoh-tokoh nasional yang ada. “Oleh karena itu, saya menyarankan sudahilah upaya-upaya seperti itu. Kita itu negara besar, banyak hal yang lebih produktif yg bisa kta lakukan bersama, utamakan tabayyun, kedepankan persatuan dan kesatuan.
Lebih jauh Habib yang dikenal vokal ini mengatakan, semua harus waspada dengan adu domba yang terjadi belakangan ini. Karena sudah mengkhawatirkan hingga sampai TNI di adu dengan pemiliknya sendiri yakni rakyat. “Saya minta kepada semua pihak untuk mewaspadai bahaya laten ‘adu domba’ ini.”
“Karena bahaya adu domba ini lebih besar dari bahaya Covid-19, dampaknya bangsa ini bisa terpecah,” tegas Habib yang dekat dengan beberapa tokoh nasional ini.
Untuk itu, saatnya sekarang ini kita hentikan semua saling curiga, ketidakpercayaan satu sama lainnya melalui dialog dan silaturahmi. “Karena saya yakin kalau TNI dan rakyat itu satu. Seperti semboyannya TNI selama ini, yakni dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Kita semua tahu kalau TNI bukan milikmu, tapi milik kita, rakyat Indonesia,” katanya.
Senada dengan Habib Umar Alhamid, Ketua Akur Sedulu Cilegon Banten (ASC), mengatakan, yang dimaksud Bapak Dudung pasti bukan menyamakan Tuhan dengan manusia. “Untuk itu, saya mengajak agar kita proporsional dan adil dalam menilai pernyataan Bapak Dudung tersebut,” ujar Edi.
Edi Juga mengatakan wajib menyayangi dan mencintai TNI dan Polri dengan apa adanya. Karen TNI Polri adalah milik kita bersama. “Untuk menjaga keharmonisan dalam bingkai NKRI mari kita kembangkan untuk berprasangka baik kepada para pemimpin kita,” tandas Edi mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat ini.(red/smsi)



