Selain Saksi Ahli, Minta Hadirkan Saksi Kunci

# Sidang Pasal Omongan “Diajak Check In”

PALEMBANG, SIMBUR – Jaksa penuntut umum Murni SH menghadirkan saksi ahli linguistik Dr Santi Oktarina di muka persidangan perkara dugaan pencemaran nama baik diduga dilakukan oknum pegawai negeri perempuan berinisial SC. Persidangan digelar di Pemgadilan Negeri Palembang, Rabu (15/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

Di hadapan ketua majelis hakim Agnes Sinaga SH MH, saksi ahli Dr Santi Oktarina menegaskan menurutnya ada dua kata yang menjadi persoalan. Pertama soal pembelian rumah seharga Rp2-3 miliar. Kedua, check in di hotel.

“Pembelian rumah Rp3 miliar tidaklah termasuk pencemaran nama baik. Tetapi untuk kata check in di hotel, jelas pencemaran nama baik buat pelapor,” ungkap saksi.

Selepas persidangan kuasa hukum korban IS juga pegawai negeri di Palembang, yakni Andi Kalam SH dan Roy Lifriandi SH kepada Simbur mengatakan, persidangan dijalani kliennya ini murni pencemaran nama baik. Tidak ada sangkut pautnya dengan perselingkuhan.

“Oleh karena ini sudah masuk proses persidangan dengan agenda saksi ahli. Bahwa apa yang disampaikan oleh Terdakwa SC terkait  informasi yang disampaikan check in tidaklah etis. Maka kliennya SI mempunyai hak untuk melakukan pengaduan,” ungkap Roy.

Kuasa hukum terdakwa SC, yakni Rida Rubani SH MH mengatakan selepas keterangan saksi ahli, pihaknya sangat terbantu dan puas.  “Tapi masih ada satu saksi kunci tetap harus dihadirkan, termasuk Ilham Sapana juga Melan. Karena ada surat keterangan bahwa tidak hadir dan hakim tetap minta dihadirkan sesuai aturan KUHP,” jelasnya.

Diteruskan Rida, saksi-saksi ini penting karena mengetahui lebih dulu kejadian lebih dulu. “Saksi yang tidak dihadirkan bukan dari saudara terdakwa tapi dari orang lain. Jadi harus mendengarkan keterangan saksi-saksi ini. Maka keadilan dapat ditegakan,” harap Rida.

Sebagaimana dari dakwaan diketahui, terdakwa SC Jumat (8/7/21) sekitar pukul 11.00 WIB, di Dinas PUBM Sumsel, di Jalan Ade Irma Nasution, Kelurahan Sei Pangeran, Kecamatan Ilir Timur I, diduga melakukan menyerang kehormatan atau nama baik korban IS.

Siang itu sekitar pukul 13.00 WIB, terdakwa bertemu rekannya, di bulan November 2020 sekitar pukul 13.00 WIB di kantor Dinas PUBM Sumsel. Tempat terdakwa SC dan rekannya bekerja, terdakwa mengatakan “Kasihan jingok kawan kito itu IM nak dimaenke bae oleh wong itu (korban IS) dan aku bae pernah nak diajak check in hotel oleh IS”

Saksi IM sendiri posisinya di ruangan sama namun tidak dekat sehingga apa yang dibicarakan terdakwa SC dengan rekannya tidak didengar saksi IM, namun melihat mereka ngobrol. Setelah terdakwa selesai bicara dengan rekannya, terdakwa pergi. Baru saksi IM memanggil rekan sekantornya, menanyakan apa yang dikatakan terdakwa. Rekan seruangannya mengatakan ke saksi IM, katanya terdakwa pernah diajak korban IS untuk check in di hotel.

Selanjutnya di bulan Desember 2020 sekitar pukul 17.00 WIB, terdakwa SC bertemu saksi TT di warung pempek Wawa di PTC Mall mengatakan “Terdakwa tidak setuju korban IS berteman dengan saksi IM, sebab korban IS itu kanji alias genit. Korban pernah kirim pesan Whatsapp ke terdakwa menyebutkan hal berbau birahi sambil mengajak check in di hotel tapi ditolak terdakwa,” ujarnya.

Terdakwa memberitahu temannya SA lewat telpon, katanya korban IS telah membeli rumah untuk IM seharga Rp2 miliar di Jakabaring. SA pun mencari tahu kebenaran soal rumah itu. Hingga perihal itu sampai ke korban IS.

Korban pun mengatakan hal itu tidak ada, termasuk soal check in di hotel, juga dibantah korban. Atas kejadian itu korban merasa serta dirugikan, dipermalukan hingga melaporkan perkaranya ke Polda Sumsel. Merasa tidak senang nama baiknya dicemarkan, hingga terdakwa diancam pasal 310 ayat 1 KUHP. (nrd)

Share This: