- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Banjir Kalsel, BNPB: Perlu Kaji Daerah Aliran Sungai
JAKARTA, SIMBUR- Hujan berinsensitas tinggi hingga sedang, menyebabkan banjir sejak tanggal 12 Januari 2021 di Kalimantan Selatan. Sedikitnya 5 orang tewas, lalu 27.111 rumah terendam dan 112.709 warga mengungsi.
Pemda Kalsel, telah menetapkan “Status Tanggap Darurat Bencana Banjir”, sejak tanggal 14 Januari 2021. Tim gabungan BNPB, BPBD, TNI-Polri, Basarnas dan relawan diterjunkan dan melakukan penangangan di lokasi banjir.
Dr Raditya Jati selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, ada empat kabupaten dan dua kota yang parah terdampak banjir.
Pertama Kabupaten Tapin 1.777 warga mengungsi 112 rumah terendam. Kota Banjar Baru, 296 warga mengungsi dan 266 rumah terendam. Kabupaten Tabalong, 180 orang mengungsi dan 92 rumah terendam.
Kemudian di Kabupaten Balangan, 11.816 pengungsi 3.571 rumah terendam. Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 5 orang meninggal dunia, 11.200 mengungsi dan 64.400 terdampak.
Selanjutnya Kabupaten Tanah Laut 27.024 mengungsi dan 8.249 rumah terendam. Kabupaten Banjar 51.362 mengungsi dan 14.791 rumah terendam. Serta Kota Banjar Baru, 622 mengungsi dengan 296 rumah terendam.
“Perkembangan data akan terus kami laporkan setiap saat. Dalam penanganan banjir di Kalimantan Selatan, kami juga terus berkoordinasi dengan BPBD, TNI-Polri dan relawan. Termasuk pos-pos pengungsian, lansia dan anak-anak menjadi prioritas utama, harus di evakuasi,” ungkap Dr Raditya kepada Simbur, 16 Januari 2021.
Sementara itu, Bambang Surya Putra M Kom, selaku Kepala Pusat Pengendali Operasi BNPB, pihaknya juga telah menyalurkan dana siap pakai ke Provinsi Kalsel.
“Provinsi Kalsel telah mendapat salurkan bantuan Rp 1 miliar, Kabupaten Banjar Rp 500 juta, Kabupaten Tanah Laut Rp 500 juta, Kabupaten Barito Kuala Rp 500 juta. Lalu Kabupaten Hulu Sungai Tengah Rp 500 juta, serta Kabupaten Balangan Rp 500 juta rupiah,” ungkapnya.
BNPB bersama Kementrian dan lembaga terkait, juga telah menyiapkan pendirian tenda-tenda pengungsian. Ditambah peralatan perahu lipat, mesin penerangan, pelampung dan makanan siap saji, dengan Lauk-pauk, selimut dan masker dengan masing-masing seribu paket.
Meluasnya banjir Kalimantan Selatan kali ini, disinyalir karena tingginya itensitas hujan, namun jelas pengelolaan di daerah aliran sungai mesti dilihat dari hulu hingga ke hilir sungai.
“Tentu pengelolaan aliran sungai ini, harus ada pengkajian yang komprehensif, bukan BNPB saja, tapi melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kementrian PU, baik jangka pendek dan jangka panjang,” timbang Bambang kepada Simbur.
Potensi hujan ini akan dilihat, sejauh mana beresikonya, selain ada fenomena La Nina, hujan ini juga akan berdampak banjir bandang hingga longsor. Warga harus waspada mengenali tempat tinggal dan mengenali resiko seperti apa.
“Ikuti informasi secara resmi dari BMKG. Kami juga akan terus memberikan informasi perkembangan penanganan banjir Kalsel,.” tukas Bambang. (nrd)



