Siaga Hadapi Letusan Gunung Merapi di Tengah Pandemi

MAGELANG, SIMBUR – Gunung Merapi dikabarkan kembali aktif. Hal itu menjadi perhatian Pemda Magelang. Peningkatan aktivitas Gunung Merapi ini berdasarkan pengamatan dan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Di samping itu, situasi dan kondisi pandemi Covid-19 saat ini menjadi salah satu perhatian pemda setempat dalam kesiapsiagaan menghadapi letusan Gunung Merapi.

Berdasarkan analisis BPPTKG, dari 19 desa yang berada di KRB (kawasan rawan bencana) 3 atau kawasan yang paling berbahaya, ada 10 desa yang harus mengungsi bila terjadi erupsi. Estimasi populasi penduduk 10 desa tersebut berjumlah 17.000 Jiwa. Karena itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Magelang memberikan perhatian terhadap potensi erupsi Gunung Merapi, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap penyusunan dokumen rencana kontinjensi (renkon).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto mengatakan, diharapkan renkon yang disusun saat ini dapat lebih realistis dan lebih fokus pada area terdampak. Ia juga menyampaikan bahwa fokus pada peningkatan kapasitas sesuai dengan jumlah penduduk yang akan mengungsi.

“Segala aspek diperhitungkan dalam peninjauan kembali renkon pada letusan gunung berapi. Kami berharap saat terjadi letusan pelayanan publik tetap berjalan sesuai rencana tindak lanjut. Semua dirancang dalam renkon ini karena kami menjalankan ‘sister village’,” tambah Edy dalam acara Review Rencana Kontinjensi Menghadapi Ancaman Letusan Gunung Merapi di Magelang, Jumat (4/9).

Edy menekankan bahwa strategi dari ancaman erupsi adalah mengungsi, namun tetap aman dari Covid-19. Renkon letusan Gunung Merapi terakhir disusun pada 2017 lalu. Langkah kesiapsiagaan yang dilakukan salah satunya dengan melihat kembali dokumen dan memutakhirkan sesuai situasi terkini. Review dilakukan dengan memerhatikan adanya pandemi Covid-19 dan tetap mengutamakan konsep ‘sister village’.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Eny Supartini menyampaikan, Kabupaten Magelang sudah selangkah lebih maju dalam menyusun rencana kontingensi berbasis pandemi Covid-19. “Dokumen rencana kontingensi ini harus menjadi dokumen yang hidup dan dapat digunakan saat terjadi letusan,” ucap Eny.

Ia mengatakan, menjadi tantangan bersama yaitu bagaimana membuat pandangan masyarakat bahwa kesiapsiagaan itu penting dan dijalankan. Di sisi lain, Eny menambahkan terkait dengan potensi erupsi Gunung Merapi terhadap salah satu destinasi prioritas nasional, yakni Candi Borobudur. Borobudur sebagai keajaiban dunia tentu menjadi perhatian bersama.

Pada saat menutup kegiatan Review Rencana Kontinjensi Menghadapi Ancaman Letusan Gunung Merapi, Bupati Magelang Zaenal mengapresiasi BNPB dan BPBD karena tetap produktif dalam meningkatkan kesiapsiagaan di tengah pandemi Covid-19. “Kita harus waspada dan menjalankan protokol kesehatan secara berkala sehingga dapat menekan angka penyebaran Covid-19. Mari bersama-sama bergotong-royong sesuai tugas dan fungsinya, bila dijalankan dengan ikhlas maka akan berjalan dengan baik dan bermanfaat,” ucapnya.

Rencana kontingensi atau renkon adalah salah satu bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi ancaman bahaya. BNPB melalui Direktorat Kesiapsiagaan melakukan pendampingan penuh kepada daerah dalam proses penyusunan maupun review dokumen renkon tersebut. (red)