- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Tanggap Darurat 30 Hari akibat Banjir Bandang Masamba, 36 Korban Tewas dan 14.483 Orang Mengungsi
# Sebanyak 16 Korban Hilang dalam Proses Pencarian, Sekitar 1.542 Orang Selamat
PALOPO, SIMBUR – Banjir bandang memorakmorandakan Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada Senin (13/7) malam lalu. Akibatnya, banyak korban jiwa dan kerugian harta benda dialami warga. Informasi yang dihimpun dari sumber media ini di lokasi, korban meninggal hingga Jumat (17/7) mencapai 36 orang.
“Pagi tadi saya ke sana kasih bantuan,” ungkap Roy Januar, kepala perwakilan PT Jasa Raharja Palopo, sembari menambahkan, bantuan yang disalurkan pihaknya terdiri air mineral 400 dus, mi instan 200 dus, beras 500 kg, bubur, selimut, susu dan pampers bayi.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati mengatakan, BPBD Kabupaten Luwu Utara masih melakukan upaya penanganan darurat di lapangan. Pascabanjir, daerah tersebut kini ditetapkan status tanggap darurat selama 30 hari, terhitung dari 14 Juli hingga 12 Agustus 2020.
Munurut Raditya, BPBD dan instansi terkait lain terus melakukan upaya penanganan darurat, seperti penanganan para penyintas dan pendataan di lapangan. Mengoptimalkan penanganan darurat pascabencana, pemerintah daerah setempat mengaktifkan pos komando yang berada di Kantor BPBD Kabupaten Luwu Utara. “Salah satu operasi darurat yang menjadi prioritas yakni pencarian dan evakuasi korban yang masih hilang,” ungkapnya kepada Simbur, Jumat (17/7).
Dijelaskannya, kebutuhan mendesak yang diperlukan untuk pemenuhan dasar para penyintas antara lain suplai air bersih, obat-obatan, kebutuhan balita (susu dan popok), popok lansia, pakaian dalam wanita, selimut dan sarung serta peralatan pembersih rumah. Sebelumnya, lanjut dia, diinformasikan mengenai padamnya listrik, infrastruktur ini telah kembali normal. Namun, beberapa titik masih terjadi pemadaman. Fasilitas air dari PDAM setempat masih belum dapat beroperasi.
“Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB melaporkan per hari ini, Jumat (17/7) pukul 17.00 Wita, korban selamat 1.542 orang, masih dalam pencaharian 16 orang, sedangkan korban meninggal berjumlah 36 orang. Jadi total korban 1.594 orang. Sebelumnya (15/7) sebanyak 1.001 personel gabungan SAR mencari dan mengevakuasi warga yang hanyut akibat derasnya banjir. Kejadian ini mengakibatkan puluhan orang dirawat di sejumlah rumah sakit dan puskesmas. Lebih dari 3.627 keluarga atau 14.483 jiwa mengungsi,” jelasnya.
Dijelaskan pula, sebanyak 3.627 KK atau 14.483 jiwa mengungsi di tiga kecamatan. Mereka tersebar di pengungsian di Kecamatan Sabbang, Baebunta dan Massamba. Sementara itu, kerugian material sementara tercatat 10 unit rumah hanyut dan 213 lain tertimbun pasir yang bercampur lumpur. Sedangkan infrastruktur publik, satu kantor koramil terendam air dan lumpur setinggi 1 meter. Selain itu, jembatan antar desa terputus dan jalan lintas provinsi tertimbun lumpur antara 1 hingga 4 meter. “Beberapa akses jalan putus karena terendam lumpur tebal, sedangkan lahan pertanian yang rusak masih dalam proses pendataan,” ujarnya.
Alat berat telah diturunkan untuk pembersihan material lumpur di jalan Trans Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah. Banjir bandang berdampak di enam kecamatan yaitu Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke dan Malangke Barat.
Hasil analisis sementara Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat dua faktor penyebab banjir bandang Luwu Utara, yakni alam dan manusia. Curah hujan dengan intensitas tinggi di daerah aliran sungai (DAS) Balease menjadi salah satu pemicu banjir bandang tersebut. “Termonitor curah hujan lebih dari 100 mm per hari serta kemiringan lereng di bagian hulu DAS Balease sangat curam. Desa Balebo yang dilewati DAS ini berada pada kemiringan lebih dari 45 persen,” terangnya.
Sementara itu, analisis tim LAPAN memonitor dari satelit Himawari-8 bahwa hujan dengan intensitas yang cukup lama pada 12 Juli 2020 dari sekitar jam 22.00 WITA sampai jam 6.00 WITA tanggal 13 Juli 2020. Kemudian pada siang hari (13/7) sekitar jam 13.00 WITA kembali terjadi hujan dengan intensitas yang lama sampai malam hari ketika terjadi bencana banjir bandang.
Menurut analisis tersebut, curah hujan membawa pengaruh yang signifikan sebagai pembawa material lumpur dan ranting pohon dari wilayah hulu sungai. Selain faktor cuaca, analisis KLHK mencatat kondisi tanah berkontribusi terhadap terjadinya luncuran material air dan lumpur. Jenis tanah distropepts atau inceptisols memiliki karakteristik tanah dan batuan di lereng yang curam mudah longsor, yang selanjutnya membentuk bending alami atau tidak stabil. “Kondisi ini mudah jebol apabila ada akumulasi debit air tinggi,” ungkapnya.
Sedangkan analisis Lapan terhadap struktur geomorfologi dan geologi Kabupaten Luwu Utara, menunjukkan bahwa wilayah hulu Sungai Sabbang, Sungai Radda dan Sungai Masamba merupakan perbukitan yang sangat terjal dan kasar. Kondisi tersebut terbentuk dari patahan-patahan akibat proses tektonik pada masa lalu.
Analisis Lapan, sambung Raditya, menginformasikan, banyaknya patahan yang terdapat di wilayah ini menyebabkan struktur batuan atau tanahnya tidak cukup kuat untuk mempertahankan posisinya. “Kemudian kondisi ini menyebabkan mudah longsor dan apabila terakumulasi dapat terjadi banjir bandang,” jelasnya.
Masih terkait fakktor alam menurut analisis KLHK, banjir di Desa Balebo, Kecamatan Masamba berada pada kategori banjir limpasan tinggi sampai ekstrem, sedangkan banjir di Desa Radda Kecamatan Baebunta dan Desa Malangke Kecamatan Malangke sebagian besar berada pada kategori banjir genangan tinggi. “Salah satu rekomendasi dari KLHK yakni pemulihan lahan terbuka di daerah hulu dengan rehabilitasi lahan dan hutan,” tutupnya.(tim)
Data Korban yang Ditemukan:
- Gandi (L/35) Pontanden – RS Andi Jemma
- Askar (L/49) Pontanden – RS Andi Jemma
- Nahmu (L/47) Radda – RS Hikmah
- Dra. St. Wahyu (P/63) Sapek – RS Andi Jemma
- Sabarina (P/56) Pontanden – RS Andi Jemma
- A. Nina Saad (P/23) Pontaden –
- Mahmud (L/47) Radda – RS Hikmah
- Disya (10) Masamba – RS Hikmah
- Amri (L/43) Bone Tua – RS Hikmah
- Muh. Idris(L/85) Massamba Affair – RS Hikmah
- Putra Adrean (L/18) Petambua – RS Hikmah
- A. Nabil Wais – Pontaden RS. A. Djemma.
- Yanti (P/28) Radda
- Nurmiati (P/50) Radda
- Marwiah (P/60) Radda
- Baharuddin Pelot (P/70 Thn) Radda.
- Zaenab (P/2,5) Radda
- M. Taufik (L) Patila
- Nurul Ashari (P/34) Radda
- Arkam (L/45) Masamba
- Fatmawati (P/40) Radda
- Hadera (P/60) Laba/Radda
- Sadya (P/60) Petambua
- Kandolo (L/43) Petambua.
- NN (Patila) – Belum identifikasi
- NN (Radda) – Belum Identifikasi
- NN (Radda) – Belum Identifikasi
- NN (L/dewasa) Desa Meli – Belum Identifikasi
- NN (P/dewasa) Desa Radda – Belum Identifikasi
- NN (P/dewasa) Desa Radda – Belum Identifikasi
- Ny. Jaungan (P/60) Sabbang
- Ny. Salem (P/75) Sabbang
- NN (L/Dewasa) Desa Radda – Belum Identifikasi
- NN (P/Anak) Desa Radda – Belum Identifikasi
- NN (P/Dewasa) Desa Meli – Belum Identifikasi
- NN (P/Dewasa) Dusun Bone – Belum Identifikasi
Data Korban dalam Pencarian
- Nia P/40 Petambua
- Al Fatah L/3 Petambua
- Irama P/6 Petambua
- Akib koro L/50 Petambua
- Muh. Toyib L/ Petambua
- Botta L/51 Petambua
- Tarima P/52 Radda
- Denna P/50 Radda
- Salam L/40 Meli
- Hendra L/3 Radda
- Khaisan P/3 pembibitan sawit.
- Afni P/13 Radda
- Cirra P/18 Radda
- Papa megi/Saparudin L/40 Masamba.
- Riski L/23 Radda.
- Ustad Anas L/23 Masamba
(Sumber: BNPB)



