- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Sumsel Sulit Jadi Lumbung Pangan Nomor Satu Nasional
PALEMBANG, SIMBUR – Ambisi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi lumbung pangan nomor satu di Indonesia pada tahun 2021 bukanlah jalan yang mudah. Bagaimana tidak, perbandingan produksi GKG menurut Kab/Kota 2018 antara Jawa Timur (Jatim) dan Sumsel ibarat langit dan bumi.
Dari data yang diperoleh, sepanjang tahun 2018, hasil produksi GKG Sumsel hanya mencapai 2.646.566 ton atau peringkat keempat nasional. Berbanding sangat jauh dengan Jatim yang mencapai 10.537.922 ton sekaligus menempatkan provinsi tersebut menjadi lumbung pangan pertama se-Indonesia.
Menurut Kabid Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Dr Djoni saat ditemui diruangannya, agak berat jika dalam jangka waktu tiga tahun Sumsel menargetkan menjadi lumbung padi nomor satu, walapun saat ini sudah menjadi nomor satu di Pulau Sumatera.
“Kalau di Indonesia masih kalah agak jauh dengan Jawa Timur yang memiliki luasan sawah yang luas. Kemudian, teknik budidaya (padi) mereka sudah lebih maju dibanding Sumsel. Sumsel untuk menanam saja masih pakai sistem tebar dan tidak ada jarak tanam. Kalau di Jawa kan padi disemai dulu, lalu menggunakan jarak tanam,” ujarnya belum lama ini.
Dilanjutkan, kalau ditebar, pemeliharaan padi agak susah karena terlalu rapat sehingga sulit membersihkan gulma (tanaman selain padi) yang tumbuh di sekitar tanaman padi. Kalau di Jawa karena ada jarak jadi mudah dibersihkan, sehingga produksinya juga lebih bagus, pemupukan lebih intensif, dan juga kesadaran petani berbudidayanya itu sudah sedikit lebih maju.
“Kalau menurut saya masih agak susah karena luas lahan yang masih kalah dengan Jawa Timur, teknik budidaya masih agak tertinggal. Kemudian, di Sumsel itu kebanyakan lahan rawa dimana biaya produksinya relatif cukup tinggi. Kalau soal pengairan, di Jawa juga banyak bendungan sehingga bisa panen tiga kali dalam setahun. Menurut saya sudah cukup bagus, walaupun untuk mengalahkan Jawa masih agak berat,” ungkapnya.
Menurutnya target tersebut masih mungkin dicapai jika terjadi penambahan lahan sawah dan peningkatan teknologi yang tepat, termasuk pasca panen untuk meminimalisir produksi padi terbuang. “Ada dua cara untuk menjadi lumbung pangan nomor satu nasional,pertama dengan menambah lahan (sawah) atau mencetak sawah baru. Kalau itu terjadi berarti kan menambah produksi. Kedua, dengan menyempurnakan budidaya padi, mulai dari penggunaan bibit yang bagus, pupuk atau pestisida yang terkontrol, jarak tanam. Terus penanganan pasca tanamnya juga harus benar atau menghindari padi yang terbuang (losses),” yakinnya.
Diterangkan, dalam menentukan produksi pangan, sejak 2018 BPS sudah menerapkan metode baru yaitu Kerangka Sampel Area (KSA) dengan menggunakan geo-spasial. Jadi, setiap bulan petugas mendatangi lokasi sesuai koordinat yang sudah ditentukan untuk mengamati fase tumbuh padi. Di Sumsel ada 1.289 titik (koordinat) untuk diamati fase tumbuh padinya.
“Kalau dulu memang kami memperoleh luas baku lahan sawah dari Dinas Pertanian kabupaten/kota atau dari laporan mereka. Nah, luas baku lahan sawahnya jadi lebih luas. Tetapi sejak 2018 itu tidak digunakan dan memakai KSA, dimana luas lahan sawah dihitung memakai citra lanskap (satelit). Hasilnya memang agak lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil laporan dari Dinas Pertanian kabupaten/kota,” terangnya.
Diwartakan sebelumnya, saat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerjanya ke Sumsel, dikatakan bahwa pengembangan lahan pertanian untuk memenuhi target pangan nasional, menjadikan Sumsel kebanjiran bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Selain bantuan dana untuk program Serasi Kementan, Sumsel juga mendapat bantuan alat berat berupa 118 ekskavator.
Mentan memastikan jika bantuan alat berat tersebut sesuai dengan rencana perluasan lahan pertanian yang ditargetkan mencapai 500 ribu hektare, dimana realisasi tahun ini diharapkan mencapai 200 ribu hektar lahan baru.
Dilanjutkan, saat Amran pertama kali menjabat sebagai Mentan, Sumsel hanya peringkat kedelapan penyumbang pangan nasional. Saat ini sudah naik peringkat kelima dan akhir tahun target mencapai peringkat ketiga. Tahun depan atau paling lambat 2021 bisa menjadi posisi pertama, jika target program SERASI sukses. (dfn)



