Diduga Ada “Reklamasi Sungai Musi” di Balik Rencana Bedah 100 Rumah

# Pertemuan Aguan dan Gubernur Sumsel Tertutup, Wartawan Tidak Boleh Meliput

 

PALEMBANG, SIMBUR – Ssssttt…Pertemuan empat mata terjadi antara Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru dengan Sugianto Kusuma alias Aguan, bos PT Agung Sedayu Grup (ASG). Pertemuan berlangsung tertutup di ruang rapat Hotel Arista lantai 9, Sabtu (6/7). Entah deal megaproyek apa yang bakal dibuat nanti. Pasalnya, wartawan tidak diperbolehkan untuk meliput pertemuan khusus tersebut. Sejumlah awak media dan humas pun menyayangkan, mengapa pertemuan tersebut dimasukkan ke dalam jadwal protokoler Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan jika tidak boleh diliput dan disampaikan kepada publik.

Ditanya apakah ada “investasi” yang akan dikembangkan Aguan di Sumsel, baik properti maupun reklamasi, Gubernur Sumsel Herman Deru tidak menjawab secara langsung. Meski demikian, rencana bos “Agung Podomoro” itu akan membantu membedah 100 rumah di tepian Sungai Musi. “Dia malah mau membantu bedah rumah untuk 100 rumah. Bidikannya di tepian Sungai Musi. Soal kapan, kalau sudah diinventarisir rumah-rumahnya dan dibantu oleh Pemkot Palembang, langsung (dikerjakan). Letaknya di sekitar Jembatan Ampera di sebelah kiri dan kanannya,” ungkap Gubernur, Sabtu (6/7).

Dilansir Antara, reklamasi Sungai Musi pernah disampaikan Presiden Joko Widodo saat pertemuan khusus dengan sejumlah pimpinan media massa  cetak di Palembang usai meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan pada 29 Oktober 2015 lalu. Presiden memberikan perhatian serius terhadap pembangunan reklamasi daerah aliran Sungai Musi, Sumatera Selatan yang kini mengalami pendangkalan akibat kerusakan lingkungan hutan alam dan hutan margasatwa di bagian hulu.

Reklamasi Sungai Musi memungkinkan masuk dalam perencanaan pembangunan tol laut karena memiliki peran penting dalam mengangkat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Presiden juga mendorong pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota setempat untuk bekerja sama dengan pihak pengelola industri membangun reklamasi Sungai Musi.

Panjang Sugai Musi dari hulu ke hilir lebih kurang 250 km itu sejak zaman dahulu, terutama masa kerajaan Sriwijaya menjadi alur pelayaran dan lintasan perdagangan terutama dari Tiongkok. Mengenai pendangkalan alur Sungai Musi kemungkinan dibahas di tingkat pusat bersama pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Sumatera Selatan, karena masalah ini perlu pengkajian mendalam untuk mengatasi terutama dari sisi anggaran yang akan digelontorkan.

Bukan hanya bedah rumah, menurut Gubernur, pertemuan itu membahas tentang rencana Aguan membuat sebuah yayasan untuk mengakomodir UMKM Sumsel, khususnya di bidang kuliner.“Aguan itu orang Sumsel yang berhasil secara ekonomi. Dia ingin membantu bahkan bersedia menjadi penasihat di satu yayasan yang akan dibuat mengurusi kuliner yang dikemas dengan baik. Tadi dia minta saya jadi pelindung, dia jadi penasihat dan ketuanya Chandra,” ungkap Deru.

Keseriusan bos ASG di bidang kuliner Sumsel itu diapresiasi Gubernur karena sejalan dengan visi Sumsel pada masa pemerintahannya. Bagi Deru, masyarakat Sumsel harus memuliakan kuliner asli Sumsel agar tidak kalah dengan ekspansi kuliner daerah lain maupun internasional.

“Jadi harus memuliakan kuliner sendiri. Jangan kuliner kita terhempas oleh makanan-makanan internasional. Dengan cara, packaging yang baik, tempat yang baik, (dan) salah satu yang dibidik Aguan dimana saja spot pemerintah daerah, mereka isi dan tidak berpikir tentang keuntungan. Tidak orientasi profit yah, hanya menggerakkan UMKM. Hal itu yang membuat saya tertarik karena dia akan menggerakkan UMKM. Kan itu sesuai dengan visi kami,” ujarnya.

Ditambahkan, rencana pembentukan yayasan tersebut akan segera direalisasikan. Bahkan, dikatakan Deru, jika Aguan akan memberi gerai khusus Sumsel di flagsip project ASG yaitu Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) yang dinamai Sedayu Indo City. “Rencananya sesegera mungkin. Bahkan di PIK 2 nanti yang akan diresmikan, dia akan memberi khusus gerai untuk Sumsel,” ungkapnya. (dfn)