Waspada Demam Berdarah Ancam Warga Palembang

# Saat Musim Hujan dan Banjir

PALEMBANG, SIMBUR – Tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), perlu disikapi dengan cepat dan tegas oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Pasalnya, Palembang adalah salah satu kota di Sumsel yang hidup berdampingan dengan sungai.

Pengamat lingkungan, Yenrizal Tarmizi mengatakan bahwa dampak penyebaran DBD jika ditinjau dari sisi lingkungan, Kota Palembang masih menjadi salah satu wilayah yang berpotensi tinggi untuk perkembangbiakan nyamuk Aides aegypti.

“Kondisi lingkungan kita (Palembang) masih menjadi tempat subur bagi nyamuk untuk hidup dan berkembang biak. Di satu sisi, tipe lingkungan kita adalah perairan dan itu tidak bisa dipungkiri,” ujarnya saat dikonfirmasi Simbur, Selasa (29/1).

Nah sekarang, lanjut Yenrizal, pencegahannya bagaimana. Karena nyamuk itu berkembang biak di air yang tergenang. “Yah, (pemkot) harus cari formula-formula tanpa harus merusak air (perairan), tetapi bisa mencegah berkembang biaknya nyamuk Aides aegypti itu.

Untuk Kota Palembang, tambahnya, kalau debit hujan masih tinggi, Palembang akan masih menjadi langganan banjir. Karena memang pola pemukiman, tata ruang kota yang tidak adaptif dengan curah hujan. “Fenomena ini kan (banjir) baru terjadi sepuluh tahun terakhir, dan makin lama semakin meningkat (banjir) seiring dengan semakin gencarnya pembangunan fisik. Wilayah air sebenarnya tidak begitu,” jelasnya.

Saat ini yang dibutuhkan adalah ketegasan pemkot untuk mencari dimana titik-titik yang merupakan resapan air agar jangan diganggu. Kalau sudah terganggu. “Nah, sekarang apa tindakan Pemkot Palembang untuk membereskan itu. Harus berani. Karena semakin lama akan semakin beginilah (banjir),” ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr Hj Fauziah MKes mengimbau masyarakat Kota Palembang agar lebih peduli terhadap lingkungan baik di wilayah tempat tinggal maupun rumah sendiri.

“Kebersihan rumah dan lingkungan sekitar rumah/sekolah/kantor adalah kunci utama dalam pengendalian penyakit demam berdarah. Mari bersama memberantas tempat-tempat perindukan nyamuk dimulai dari tempat tinggal sendiri,” harapnya.

Selain imbauan, dr Fauziah juga membeberkan langkah antisipasi DBD yang dilakukan Dinkes Kota Palembang. Sedikitnya ada enam langkah strategis yang dilakukan pemerintah. Pertama, memberdayakan masyarakat. Lingkungan rumah tangga untuk memantau jentik dan pemberantasan sarang nyamuk dengan melibatkan kader dan lurah terutama saat acara gotong royong mingguan. Keterlibatan anak SD sebagai juru pemantau jentik di sekolah. Kedua, menyosialisasikan kebersihan lingkungan (3M plus) di media massa cetak, radio, dan medsos.

Ketiga, untuk mengendalikan penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah dilakukan fogging yang fokus di lokasi yang ada penderita DBD. Pmemberian larvasida dan diawal 2018 dilakukan gertak DBD. Keempat, membuat surat edaran tentang kewaspadaan penyakit DBD yang sudah dimulai awal November 2018 ke Camat, Diknas dan Kemenag.

Kelima, selama musim hujan antara Januari sampai April 2019, Dinkes melakukan pemantauan harian kasus DBD di RS, dan menindaklanjutinya ke masyarakat melalui puskesmas. Keenam, pelayanan kesehatan dasar puskesmas dengan meningkatkan kewaspadaan kasus terutama penderita demam dua hari harus dipastikan apakah DBD atau tidak, sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan. (dfn)